Atika Rahmi Setia Mendampingi Anak Pejuang Kanker

Ia berperan aktif sebagai Ketua Yayasan Onkologi Anak Medan (YOAM) dan aktif sebagai dosen pengajar Universitas Medan Area.

Atika Rahmi Setia Mendampingi Anak Pejuang Kanker
TRIBUN MEDAN/NATALIN SINAGA
Ketua Yayasan Onkologi Anak Medan (YOAM) Atika Rahmi, M.Psi 

TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN - Perempuan cantik bukan dari paras tap perempuan cantik adalah perempuan yang berilmu dan memanfaatkan ilmunya untuk dirinya dan orang lain karena sebaik-baiknya hidup adalah yang bermanfaat untuk orang lain.

Namanya Atika Rahmi. S.Psi, M.Psi, ia berperan aktif sebagai Ketua Yayasan Onkologi Anak Medan (YOAM) dan aktif sebagai dosen pengajar Universitas Medan Area.

Ia sudah mengabdi tanpa pamrih di YOAM selama 12 tahun dan sudah berkonsentrasi mendampingi anak-anak dengan berbagai kasus selama 20 tahun.

Sebelumnya Tahun 2000, ia membuka Yayasan Harapan Mulia dan saat itu, ia mendampingi anak jalanan kemudian ia bekerja di Yayasan KKSP, sebuah organisasi non-Pemerintah yang didirikan tahun 1987. Yayasan KKSP ini peduli dengan anak-anak yang berada dalam situasi yang sulit.

"Saya mendampingi anak-anak yang dilacurkan yang tujuannya mengeliminasi mereka di dunia pelacuran. Setelah itu saya bekerja sebagai salah satu konsultan di savety children, saya pernah menangani program di Nias dan Aceh, kemudian saya mengurusi YOAM," kata Atika.

Diakuinya, kegiatan sosial ini bukan untuk materi tapi untuk
melakukan pendampingan psikologis kepada anak-anak yang sedang berjuang melawan kanker.

"Anak-anak pejuang melawan kanker ini dirawat inap di Rumah Sakit Haji Adam Malik. Jadi kita punya rumah singgah disana bagi anak-anak kanker. Rumah tinggal sementara untuk pasien-pasien yang berada dari luar Kota Medan. Anak-anak penderita kanker butuh penanganan psikologis, perlu ada dukungan orang lain selain keluarga penderita kanker ini," jelasnya.

Ia juga harus bisa mendukung orangtua yang sudah ditinggalkan oleh anaknya. Bagi pasien yang mau meninggal ada keinginan terakhir yang belum terpenuhi maka pihaknya pun berusaha untuk memenuhi.

"Setiap tahun selalu ada pasien baru bertambah lebih kurang 50 anak. Tahun 2018 saja ada pertambahan pasien baru mencapai 90 dan 30 diantaranya meninggal. Kita harus bisa support orangtuanya agar mereka (orangtua) bertahan," ungkapnya.

Diakui Atika, penderita kanker stadium satu dan dua masih punya kesempatan untuk bisa menjadi sehat. Anak-anak YOAM yang pernah ia dampingi juga sudah ada yang sembuh, sudah kuliah bahkan berkeluarga.

Halaman
12
Penulis: Natalin Sinaga
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved