Aturan Tiket Pesawat Murah Diprediksi Belum Efektif pada Pariwisata Sumut

Adanya tiket mahal ini, menurutnya membuat segala aktivitas perusahaan swasta maupun negeri dan perorangan membatalkan perjalanannya.

Aturan Tiket Pesawat Murah Diprediksi Belum Efektif pada Pariwisata Sumut
TRIBUN MEDAN/ALIJA MAGRIBI
Ketua PHRI Sumut, Denny S Whardana 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Aturan baru Kementerian Perhubungan RI terkait tiket murah pesawat terbang 3 kali seminggu di jam-jam tertentu, dinilai belum berdampak pada sektor kunjungan Hotel dan Restaurant di Sumatera Utara.

Perhimpunan Hotel dan Restaurant Indonesia (PHRI) Sumut masih menunggu efektifitas dari aturan tersebut.

Dikatakan Ketua PHRI Sumut Denny S Whardana baru-baru ini di Grand Mercure Angkasa Medan Hotel, tingkat okupansi rata-rata hotel berbintang di Sumut berada pada kisaran 30-40 persen.

Adanya tiket mahal ini, menurutnya membuat segala aktivitas perusahaan swasta maupun negeri dan perorangan membatalkan perjalanannya.

"Saya sendiri saja ada 3 kementerian yang membatalkan meetingnya di Medan selama Januari - Juli 2019. Mereka kemudian mengalihkan meetingnya ke daerah jawa lainnya yang bisa ditempuh jalur darat," Ujar Denny kepada wartawan.

Menilik dari harga tiket pesawat terdahulu antara Jakarta Medan yang dibanderol bisa dibawah 1 Juta sekali jalan, sangat jauh dari apa yang terjadi saat ini. Sejauh ini, di Sumut, Wisatawan berasal dari Malaysia, Provinsi Aceh, Riau, dan Sumbar yang notabene merupakan daerah tertangga.

"Sekarang kan kalau 2 Juta, Jakarta Medan sebatas sekali jalan (pergi) saja. Dulu bisa memang segitu," ujarnya lagi.

Dengan tantangan harga tiket mahal ini, PHRI Sumut mengaku sedang berkonsultasi dengan pihak PHRI Pusat di Jakarta untuk mencari solusi-solusi seperti apa meningkatkan okupansi (keramaian) hotel.

Namun begitu, Denny mengatakan tak ada jalan lain sebenarnya selain menurunkan tiket pesawat untuk meningkatkan wisata lokal.

"Kami berharap untuk bisa kembali pulih semoga lah maskapai penerbangan menurunkan harganya. Soalnya yang menjadi dampak bukan cuman hotel dan restaurant aja," jelasnya.

PHRI menilai bekurangnya kunjungan wisatawan ke Hotel dan Restaurant berdampak pada usaha turunannya, seperti mitra sumber panganan dan lain sebagainya. Namun begitu, PHRI mencoba mengkaji kembali dampak aturan tiket murah 3 kali seminggu ini selama satu bulan ke depan.

(cr15/tribun-medan.com)

Penulis: Alija Magribi
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved