Kejari Binjai Endus Dugaan Kredit Fiktif Bank Syariah Mandiri, Guru-guru jadi Korban

Victor Antonius Saragih Sidabutar membeberkan penyelidikan ini bermula adanya korban dari kalangan guru.

Kejari Binjai Endus Dugaan Kredit Fiktif Bank Syariah Mandiri, Guru-guru jadi Korban
TRIBUN MEDAN/DEDY KURNIAWAN
Kajari Binjai Victor Antonius Saragih Sidabutar ditemui Tribun Medan di ruang kerjanya. 

TRIBUN-MEDAN.com, BINJAI - Tim Intel Kejaksaan Negeri Binjai menyelidiki dugaan kredit fiktif di Bank Syariah Mandiri (BSM) Cabang Medan.

Oknum BSM diduga terlibat permaianan nakal dengan Oknum Kredit Simpan Pinjam (KSP) sekolah modus kredit jaminan yang melibatkan korban dari kalangan guru-guru.

Kepala Kejaksaan Negeri Binjai, Victor Antonius Saragih Sidabutar membeberkan penyelidikan ini bermula adanya korban dari kalangan guru.

Oknum guru yang jadi korban merasa dirugikan oleh oknum KSP yang memakai sertifikatnya untuk pinjaman ke Bank Syariah Mandiri.

"Dimulai dari proses pinjam meminjam antara guru dan koperasi simpan pinjam (KSP) sekolah. Nah di okekan lah oleh oknum-oknum KSP ini, saya belum bisa sebut namanya, lalu oknum KSP ini dimasukan jadi ke Bank Syariah Mandiri di Medan," ungkap Kejari Binjai, Minggu (21/7/2019).

Lantaran masih dalam proses penyelidikan, Victor belum bisa mempublikasi identitas dari Oknum BSM, Oknum KSP.

Kejari juga masih menyimpan rapat nama-nama guru yang menjadi korban dalam perkara kredit, ditaksir mencapai Rp 1 Miliar.

"Jadi mereka ini membuat pinjaman sendiri ke bank atas nama KSP yang tidak punya hubungan dengan si peminjam atau pemilik jaminan (para guru). Ya si peminjam tahunya hanya pinjam ke KSP pakai sertifikatnya, sembari berjalan rupanya KSP macet kreditnya. Pas ketahuan sertifikat si peminjam dibawa ke bank, ya gugat dan kalah BSM. Dan BSM diminta kembalikan semua sertifikat si guru. Otomatis BSM kan kehilangan jaminannya," jelas Kejari Binjai.

"Masih diduga sekitar 1 M, jadi permainan oknum KSP dan BSM, jaminan dipakai oleh oknum KSP itu, sedangkan si pemilik tidak mengetahui sertifikat, kemudian digugat karena jaminan sudah di bank dan kredit macet," tambahnya menjelaskan runut perkara masuk ranah penyelidikan timnya.

Setelah diselidiki tim intel, perkara ini diketahui telah berlangsung sejak empat tahum silam. Setelah cukup bukti penyelidikan tim intel, perkara ini dinaikan ke proses lidik Pidana Khusus, sehingga akan segera ke tahap penyidikan dan penetapan tersangka.

"Ini kasus sudah empat tahun yang lalu, ini sudah penyelidikan Pidana Khusus, ini gak lama, ini nunggu pemulangan alat bukti dulu. Ini tinggal soal waktu ke penyidikan, karena kan seleksi dahulu di intel baru naik ke diksus," beber Kajari.

"Korbannya dua, tapi belum tahu lagi hasil pemeriksaan, bisa saja lagi bertambah. Kasusnya agak unik ini," pungkas Kejari Binjai.

Sepanjang Tahun 2019, Tim Penyidik Seksi Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Negeri Binjai menangani tiga perkara korupsi di tiga instansi berbeda. Kejari menyelidiki dugaan korupsi di BPJS Kesehatan, Bank Syariah Mandiri, dan Komisi Pemilihan Umum Kota Binjai hingga pertengahan Juli 2019.

Ketiga perkara yakni, dugaan korupsi pemberian fasilitas kredit dengan jaminan fiktif di Bank Syariah Mandiri Cabang Jalan Ahmad Yani Medan TA 2018, dugaan korupsi penyelewengan pengadaan alat peraga Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden 2019 di Komisi Pemilihan Umum Kota Binjai TA 2018, serta dugaan korupsi BPJS Kesehatan.

(dyk/tribun-medan.com)

Penulis: Dedy Kurniawan
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved