Irjie Kaligrafi, Rajin Unggah Produk Baru di Media Sosial

Dalam sebulan ia bisa menjual hingga 20 hingga 30 barang. Ia bisa menghasilkan hingga jutaan rupiah per bulan.

Irjie Kaligrafi, Rajin Unggah Produk Baru di Media Sosial
HO
Pujiati berfoto sambil memegang produknya pada pameran beberapa waktu lalu. 

TRIBUN-MEDAN.com-Kaligrafi menjadi salah satu hiasan dinding yang banyak disukai orang. Makin hari, bentuk kaligrafi semakin beragam dan indah.

Salah satu usaha kaligrafi yang terdapat di Kota Medan adalah Irjie Kaligrafi. Produknya terbuat dari berbagai bahan baku, ada kayu, alumunium, fiber, tembaga, koil dan lain sebagainya.

"Bisa juga tergantung permintaan mau pakai bahan almunium, fiber, tembaga atau koil. Kalau sekarang kebanyakan permintaan itu fiber karena enggak mau dimakan rayap," jelas pemilik Irjie Kaligrafi Pujiati, Senin (22/7/2019)

Puji mengatakan usaha ini sudah berjalan selama lima tahun. Usaha ini bermula dari suaminya yang sudah menekuni bakat membuat kaligrafi sejak masih sekolah.

"Dulunya saat masih SMA, suami saya bekerja sampingan hingga tamat sekolah. Sesudah menikah baru kami niatkan buka usaha," katanya.

Kaligrafi ini dipasarkan secara online maupun offline di show roomnya yang beralamat di Jalan SMA 2 Polonia.

"Kami juga menjual melalui e-commerce, ada pula di Instagram dan Facebook. Hingga saat ini pembelinya sudah datang dari luar Kota," ujar Puji

Selain kaligrafi, ia juga menjual bingkai foto, lukisan, kotak tissue, cermin dan juga menerima tempahan bingkai, rangkai mahar, service bingkai maupun tempahan kaligrafi.

Dalam sebulan ia bisa menjual hingga 20 hingga 30 barang. Ia bisa menghasilkan hingga jutaan rupiah per bulan.

Harga produknya beragam mulai Rp 50 ribu hingga jutaan rupiah. Ia melihat usaha seperti ini besar peluangnya.

"Kami ingin juga usaha seperti ini maju. Suami saya mengajari orang-orang yang ingin berusaha seperti ini," katanya.

Menurutnya, untuk mengembangkan usaha seperti ini, harus rajin mengenalkan produknya. Setiap ada produk baru sebaiknya diunggah ke media sosial.

"Untuk kata-kata di dalam kaligrafi, kami meminta anak-anak pesantren yang lebih mengerti soal kaligrafi," pungkasnya (cr18/tribun-medan.com)

Penulis: Septrina Ayu Simanjorang
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved