Satu Data Perkebunan, Solusi Pengembangan Perkebunan yang Berkelanjutan

Diakui Hermanto, dengan memiliki satu data maka pemerintah bisa memperoleh informasi fenomena kekinian sehingga dapat cepat mengantisipasinya.

Satu Data Perkebunan, Solusi Pengembangan Perkebunan yang Berkelanjutan
Tribun Medan / Natalin
Direktur Statistik Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan BPS RI, Hermanto, S.Si, M.M. Kepala Dinas Perkebunan Sumut, Herawati Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, Syech Suhaimi, dan Sekretaris Gapki Sumut Timbas Ginting dalam Workshop Perusahaan Perkebunan Tahun 2019 Provinsi Sumatera Utara di Hotel Grand Mercure, Medan, Rabu (24/7/2019). 

TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN - Kebijakan satu data yang didengungkan Presiden Jokowi bukan main-main. BPS telah ditunjuk sebagai satu-satunya rujukan statistik di Indonesia.

"Sinergi antar stakeholder merupakan energi menuju satu data perkebunan. Dengan teknologi dan kolaborasi bersama harapannya kita sepakat untuk bisa memberikan data terkini kepada pemerintah," ujar Direktur Statistik Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan BPS RI, Hermanto, S.Si, M.M. dalam Workshop Perusahaan Perkebunan Tahun 2019 Provinsi Sumatera Utara di Hotel Grand Mercure, Medan, Rabu (24/7/2019).

Diakui Hermanto, dengan memiliki satu data maka pemerintah bisa memperoleh informasi fenomena kekinian sehingga dapat cepat mengantisipasinya.

"Dulu model data tahunan 2018 baru cepat akan tersaji Bulan Juli tahun berikutnya. Dengan satu data maka kita bisa memberikan informasi pendataan perkebunan terbaru di Indonesia. Sistem ini berawal dari dinamika kebutuhan data, cara mengolah data tahunan sudah tak antisipasif. Kita diminta untik inovasi dan responsif," ungkapnya.

Ia menjelaskan pemanfaatan data perkebunan untuk menghasilkan data publik statistik perkebunan, support data indikator, PDB, indikator pertanian, support data statistik Indonesia dan support data organisasi, asosiasi internasional, kementerian dan lembaga.

"Di dalam aspek pengumpulan data dibutuhan adanya keterbukaan informasi dan diberikan secara jujur," ungkapnya.

Hermanto menjelaskan komoditas perkebunan ada 127 komoditas dan dari jumlah itu ada tujuh komoditas strategis perkebunan penyumbang dalam perhitungan perekonomian dengan share 80 persen terhadap PDB perkebunan yakni kelapa sawit, karet, tebu, kopi, kakao, teh dan tembakau.

Dalam kesempatan yang sama Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, Syech Suhaimi, mengatakan kondisi perkebunan di Sumut memiliki tiga sektor utama yang menopang ekonomi yakni pertanian, perkebunan, perdagangan dan industri. 

"Dari tiga sektor tersebut kalau kita lihat khusus untuk perkebunan terutama perkebunan sawit kita sudah menyampaikan bahwa ekpor kita yang cukup besar adalah dari industri pengolahan, industri pengolahan 92 persen itu adalah kita ekpor dari hasil ekpor kita selebihnya adalah pertanian delapan persen," ucap 
Syech.

"Sektor industri yang kita eksport yang paling besar adalah dari industri lemak minyak disana ada hasil dari kelapa sawit itu hampir 40 persen dari CPO dan turunan-turunannya. Artinya peranan perkebunan di Sumut ini enggak bisa kita pandang sebelah mata. Jadi pemerintah sudah harus mengarah ke sana dan harus memberi regulasi yang jelas," tambahnya.

Halaman
12
Penulis: Natalin Sinaga
Editor: Royandi Hutasoit
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved