Satu Data Perkebunan, Solusi Pengembangan Perkebunan yang Berkelanjutan

Diakui Hermanto, dengan memiliki satu data maka pemerintah bisa memperoleh informasi fenomena kekinian sehingga dapat cepat mengantisipasinya.

Satu Data Perkebunan, Solusi Pengembangan Perkebunan yang Berkelanjutan
Tribun Medan / Natalin
Direktur Statistik Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan BPS RI, Hermanto, S.Si, M.M. Kepala Dinas Perkebunan Sumut, Herawati Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, Syech Suhaimi, dan Sekretaris Gapki Sumut Timbas Ginting dalam Workshop Perusahaan Perkebunan Tahun 2019 Provinsi Sumatera Utara di Hotel Grand Mercure, Medan, Rabu (24/7/2019). 

Syech mengatakan adapun luas perkebunan sawit di Sumut sampai tahun 2017 ada sekitar 1,3 juta hektar dengan produksi lebih kurang 4,1 juta ton.

Sementara itu, Sekretaris Gapki Sumut Timbas Ginting mengatakan pihaknya sepakat menyatukan data kelapa sawit.

"Dengan data-data statistik yang update mudah-mudahan bisa meningkat perkebunan kelapa sawit,” ucapnya.

Timbas menjelaskan data yang disepakati dan akurat mampu menghempang isu negatip tentang kelapa sawit. Sebab tak ada yang bisa menandingi keunggulan minyak nabati dari sawit.

"Namun kalau data sawit kita sama dan akurat maka semua isu negatip sawit bisa diatasi," katanya.

Hal senada juga diungkapkan Kepala Dinas Perkebunan Sumut, Herawati, agar semua pihak berkomitmen melahirkan komitmen satu data.

"Tata cara metode pengukuran itu memang harus diseragamkan supaya data seragam. Harapannya tak ada lagi perbedaan data jadi kalau datanya sudah sama maka data itu kita gunakan untuk mengambil kebijakan, dan untuk bahan evaluasi," ucap Herawati.

Selain itu kata Herawati, produktivitas sawit mengalami kenaikam sementara produktivitas karet dan kakao mengalami penurunan.

"Saya mendata di lahan petani. Harga karet sedang turun otomatis mereka (petani) tidak punya dana untuk memelihara tanaman itu. Harga jual karet sedang rendah karena memang secara internasional permintaan karet kita menurun bukan hanya di Indonesia tapi semua negara penghasil karet," ungkapnya.

Ia mengatakan kakao itu pemeliharaan agak ribet, harus dipangkas belum lagi serangan hama yang masih sulit dikendalikan, sehingga perawatannya lebih sulit dibandingkan sawit.

"Kondisi lahan hampir sama tapi banyak lahan kakao yang dikonversi ke lahan sawit," ucapnya.

(nat/tribun-medan.com)

Penulis: Natalin Sinaga
Editor: Royandi Hutasoit
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved