Festival Ekonomi Syariah 2019, Sumut Punya Potensi Besar untuk Industri Halal

Wiwiek Sisto Widayat berpendapat Sumut bahwa berpotensi besar sebagai pusat pengembangan ekonomi dan keuangan syariah.

Festival Ekonomi Syariah 2019, Sumut Punya Potensi Besar untuk Industri Halal
TRIBUN MEDAN/NATALIN SINAGA
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Utara, Wiwiek Sisto Widayat bersama pembicara artis atau ustadzhah sekaligus pengusaha syariah Oki Setiawan Dewi dan Kepala Ekonomi Syariah BI Pusat, Cecep dan pengusaha wanita muda Medan Alween Ong dalam Road to Fesyar (Festival Ekonomi Syariah) 2019 bertajuk peranan industri kreatif dan konsep halal tourism dalam pertumbuhan ekonomi dan keuangan syariah digelar di Hotel Adimulia Jalan Diponegoro Medan, Senin (29/7/2019). 

TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN - Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumatera Utara (Sumut), Wiwiek Sisto Widayat berpendapat Sumut bahwa berpotensi besar sebagai pusat pengembangan ekonomi dan keuangan syariah.

"Sumut termasuk memiliki potensi terkait dengan industri halal atau kegiatan syariah. 
Sumut itu unik, muslim banyak dan yang non muslim juga banyak. Pesantren juga banyak serta masyarakat muslim juga banyak dan kemampuan mereka untuk konsumsi juga besar. Secara umum memang kita harus bekerjasama dengan BPS untuk menghitung sebetulnya berapa konsumsi dari masyarakat Sumut," ucap Wiwiek dalam Road to Fesyar (Festival Ekonomi Syariah) 2019 bertajuk peranan industri kreatif dan konsep halal tourism dalam pertumbuhan ekonomi dan keuangan syariah digelar di Hotel Adimulia Jalan Diponegoro Medan Senin (29/7/2019).

Ia menjelaskan berdasarkan kajian Thomson, konsumsi nasional 251 miliar dolar AS per tahun. Artinya itu adalah 20 hingga 25 persen Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Sedangkan PDB nasional sekira 1.000 miliar dolar AS. Sumut juga bisa 15 hingga 20 persen.

"Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sumut sekitar lima persen dari PDB nasional. Jadi kalau PDB nasional Rp 14 ribu triliun maka PDRB Sumut lima persennya atau sekitar Rp 400 triliun, jadi konsumsinya 15 hingga 20 persen saja maka jumlahnya sekira Rp 40 trilliun sampai Rp 80 triliun per tahun. Itu dari sisi PDB. Potensi industri halal memang sangat besar sekali," ungkapnya.

Ia menambahkan bila dilihat dari financing perbankan syariah, dari sisi pertumbuhannya baru sekitar 5,25 persen, masih di bawah dari pertumbuhan yang diberikan secara keseluruhan. 
"Secara keseluruhan ini yang harus didorong karena potensinya besar dan kapasitasnya luas," kata Wiwiek.

Dijelaskannya, untuk itu BI akan terus melakukan pendekatan dengan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) syariah dan pesantren-pesantren seperti pesantren Raudhatul Khasanah, ada UMKM yang dikembangkan yakni air kemasan dan laundry. Usaha air kemasan lainnya dikembangkan di pesantren Kwala Madu.

Dukungan terhadap industri kreatif halal ini yakni pertama terhadap food and beverages (makanan dan minuman) yang sangat besar memberikan kontribusi besar pada PDRB.
Kedua Fashion, industri pengolahan dimana saat ini busana muslim wanita berupa syar’i, jilbab, kosmetik halal dan sebagainya yang memang lebih mahal karena perlu proses yang lebih dari biasanya. Ketiga, pertanian seperti produksi beras organik.

"Untuk produk halal ini, kita sudah buat sertifikat halalnya yang dikeluarkan MUI. Mulai 1 Oktober 2019, semua produk halal harus bersertifikat. Kedepan juga dikembangkan halal tourism," ujarnya.

Ia menambahkan tujuan 
Road to Fesyar ini untuk memilih potensi potensi yang ada di Sumut, mengkomunikasikan untuk lebih memajukan perekonomian syariah, sehingga bisa mendapatkan potensi wirausaha muda.

Pada talkshow itu hadir sebagai pembicara artis/ustadzhah/pengusaha syariah Oki Setiawan Dewi dan Kepala Ekonomi Syariah BI Pusat, Cecep dan pengusaha wanita muda Medan Alween Ong.

Halaman
12
Penulis: Natalin Sinaga
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved