Mengenal BIM Ecosystem Bersama Medan Architect Team

Sesi Sharing Session ini langsung mendatangkan founder komunitas sekaligus arsitek handal Tony Jackson dan Freddy Kirana.

Mengenal BIM Ecosystem Bersama Medan Architect Team
TRIBUN MEDAN/GITA NADIA PUTRI br TARIGAN
Founder komunitas sekaligus arsitek handal Tony Jackson dan Freddy Kirana. Dalam persentasinya bertajuk Ecosystem BIM Architecture Industry Revolution 4.0, di Cohub jalan Jalan T. Amir Hamzah Nomor 38A, Sei Agul, Senin (29/7/2019) 

TRIBUN-MEDAN.com - BIM Ecosystem dalam dunia arsitek musti sudah tidak asing lagi, BIM yang merupakan singkatan dari Building Information Modeling merupakan akronim untuk Membangun Pemodelan Informasi, dengan kata lain BIM adalah representasi 3D dari data bangunan yang bermanfaat bagi para ahli arsitektur, teknik, maupun konstruksi untuk meningkatkan suatu kontrol proyek.

Melihat begitu jarangnya seminar ataupun diskusi mengenai BIM Ecosystem di Medan, Cohub Medan gandeng komunitas Medan Architect Team (MAT) dalam Sharing Session bertajuk Ecosystem BIM Architecture Industry Revolution 4.0 yang digelar di Cohub Coworkibg Space jalan Jalan T. Amir Hamzah Nomor 38A, Sei Agul, Senin (29/7/2019)

Sesi Sharing Session ini langsung mendatangkan founder komunitas sekaligus arsitek handal Tony Jackson dan Freddy Kirana.

Dalam persentasinya Tony mengatakan saat ini Indonesia sudah memasuki Generation Post Millenilas yang lahir antara tahun 1997 hingga sekarang.

"Generasi Millenials ada dimana-mana dan jumlahnya 60 persen dari total penduduk Indonesia di tahun 2020 yang memiliki karakter mengutamakan identitas, pengalaman sosial, memandang hidup secara berbeda dan suka mencoba hal-hal baru yang lebih berkesan," kata Tony

Selain itu katanya generasi Millenials, menyukai konten yang autentik, ingin online 24 jam nonstop, dan suka kokaborasi yang cenderung terlibat dalam pengembangan sebuah produk daripada mengkonsumsi produk begitu saja.

Hal tersebut dapat menjadi peluang yang sangat baik dalam Ecosystem BIM Architecture, sehingga dengan bermodal tiga orang saja dalam satu tim dapat menciptakan karya yang baik, itupun apabila dikelola dengan baik seperti menyusun Rencana Eksekusi BIM.

"Buat tim kecil dan kreatif cukup tiga orang saja, jangan lebih, dan buatlah mode kerja gotong royong dan pahami Level of Development, mulai dengan konsep desain dalam bentuk business plant untuk kebutuhan investor menghitung financial planning dari volume dan area," katanya

Selanjutnya kata Tony buatlah Schematic Design untuk kebutuhan pengurus guna menghasilkan gambar denah dan potongan. Selanjutnya masuk ke Detailed Design untuk kebutuhan konsultasi QS dalam penyusunan dokumen tender.

"Nggak ketinggalan construction dokumentation, untuk kebutuhan kontraktor membangun serta mengawasi mutu pekerjaan, dan ingat gbar digabung dalam satu file, selanjutnya masuk tahap Shop Drawing untuk kebutuhan pabrik merakit keluar barang yang akan dipasang oleh aplikator dan terakhir As Build Drawing untuk kebutuhan perawatan gedung setelah beroprasi," katanya

Ia mengatakan bahwa Archipreneur is Next level evolution of achitect. Sebab belajar dari subjek lain seperti foodpreneur, Gamepreneur, Travelpreneur hingga Livepreneur sehingga Ia yakin Archipreneur juga dapat berkembang pesat.

"Kesimpulannya, new generation, next level, model business, Archipreneur, Colaboration, Startup, Template, Ai, Speed, Acara Up adalah kunci evolution of Architect," pungkasnya.

(cr21/tribun-medan.com)

Penulis: Gita Nadia Putri br Tarigan
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved