Dituding Eksploitasi Lumba-lumba, Koordinator WSI Tantang Walhi Sumut Menonton Langsung

Dana meminta Pemerintah Kota Pematangsiantar untuk mencabut izin pertunjukan Lumba-lumba yang pernah mendapatkan penolakan di Kota Medan.

Dituding Eksploitasi Lumba-lumba, Koordinator WSI Tantang Walhi Sumut Menonton Langsung
Tribun Medan/Tommy Simatupang
Wahana pertunjukan Lumba-lumba dari Wersuit Seguni Indonesia (WSI) telah berdiri di Jalan Melanthon Siregar, Senin (5/8/2019). Pertunjukan ini rencananya digelar pada 23 Agustus hingga 29 September 2019. 

TRIBUN-MEDAN.com, SIANTAR - Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sumut Dana Tarigan menilai pertunjukan Lumba-lumba yang akan digelar di Kota Siantar bentuk dari eksploitasi satwa.

Dana Tarigan mengatakan pertunjukkan Lumba-lumba yang akan digelar pada 23 Agustus hingga 29 September 2019 di Jalan Melanthon Siregar tidak menunjukkan edukasi, tetapi hanya penyiksaan mamalia yang dilindungi.

Dana meminta Pemerintah Kota Pematangsiantar untuk mencabut izin pertunjukan Lumba-lumba yang pernah mendapatkan penolakan di Kota Medan.

Dana mengatakan pertunjukkan mamalia pintar itu hanya mencari keuntungan.

Menjawab hal ini, Koordinator Wersuit Seguni Indonesia (WSI) Edi Supriadi membantah bahwa telah melakukan eksploitasi Lumba-lumba. Ia mengatakan telah mengantongi izin peragaan dari Kementerian Lingkungan Hidup. Edi Supriadi juga mengklaim bahwa WSI merupakan lembaga konservasi.

"Kita ini lembaga konservasi. Memiliki ijin dari kementerian. Ijin peragaan dari kementerian dari Dirjen. Kami tidak ilegal. Ini lembaga konservasi, mengantongi izin resmi, ini edukasi,"ujarnya saat ditemui di sela-sela kesibukan mendirikan pentas di Jalan Melanthon Sitegar, Senin (5/8/2019).

Dana Tarigan juga menantang Walhi Sumut untuk melihat langsung pertunjukan kontraversial Lumba-lumba. Katanya, dalam pertunjukan nanti hadir BKSDA, ahlu air, dan dokter hewan.

"Seharusnya Walhi nonton. Eksploitasinya dimana. Perlakuan kita terhadap satwa ini gimana. Kami dikawal BKSDA. Semua dicek oleh BKSDA dan dinas kesehatan. Dokter juga hadir,"katanya.

Saat disinggung tentang protes dari aktivis satwa dan pecinta hewan, Edi menanggapi sebagai hal yang biasa. Ia mengatakan banyak masyarakat yang tidak mengerti tentang satwa. Bahkan, tentang protes selebritis Manohara, Edi beranggapan hal yang sama.

"Sebetulnya bukan heboh. Kalau orang yang gak ngerti soal satwa. Terus tak mengerti satwa gimana. Ini dah ke dua kalinya di Siantar. Biasa ada penolakan,"katanya.

Seperti diketahui, rombongan WSI sudah mendirikan pentas pertunjukan Lumba-lumba di Jalan Melanthon Siregar. Pertunjukan ini akan digelar pada 23 Agustus hingga 29 September. Kehadiran pentas Lumba-lumba ini mendapatkan protes dari aktivis satwa. Para aktivis menilai Lumba-lumba sebagai hewan yang dilindungi tidak dipertontonkan di sebuah pentas, tetapi dilepas di alam liar.

(tmy/tribun-medan.com)

Penulis: Tommy Simatupang
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved