Pentingnya Mitigasi di Tengah Ancaman Megathrust

Gempa Megathrust Selatan Jawa berpotensi memberi dampak pada nyaris 1,7 juta jiwa penduduk di pesisir selatan Jawa. Tercatat 2.277 kejadian bencana di

Pentingnya Mitigasi di Tengah Ancaman Megathrust
Tribun Medan/HO
Tim DMII-ACT melaksanakan simulasi gempa untuk memperkuat upaya mitigasi bencana, sehingga dapat mengurangi risiko bencana secara signifikan. 

MEDAN.TRIBUNNEWS.com - Gempa Megathrust Selatan Jawa berpotensi memberi dampak pada nyaris 1,7 juta jiwa penduduk di pesisir selatan Jawa. Tercatat 2.277 kejadian bencana di rentang Januari-Juli 2019, meningkat 10,40% dibandingkan Januari-Juli 2018. 

Gempa 6.9 skala magnitudo yang terjadi pada Jumat, 2 Agustus 2019 pukul 19.03 WIB, dengan episenter di 147 km barat daya Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Banten, mengindikasikan bahwa ancaman gempa dan tsunami di selatan Jawa adalah sebuah kondisi yang harus disikapi secara nyata.

Menurut peneliti gempa dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Widjokongko, gempa berkekuatan 6,9 magnitudo tersebut merupakan gempa Intraslab, dan tidak akan mengurangi potensi energi megathrust, bahkan berpotensi mempercepat pelepasan energi Sunda Megathrust.

Sebelum kejadian gempa tersebut juga tercatat 3 kejadian gempa dangkal terjadi di sepanjang laut selatan Jawa di rentang 1 pekan terakhir, gempa M 4,9 di 78 km barat daya Kab Pangandaran, gempa M 4,5 di 95 km barat daya Kab Blitar, gempa M 5,2 di 59 km barat daya Bayah Banten.

Bahkan bila ditarik rentang waktu 1 bulan terakhir makin banyak kejadian gempa yang terekam di jalur tersebut. Tentu menarik untuk dicermati lebih jauh, mengingat Selatan Jawa memang menyimpan ancaman gempa Subduksi Megathrust, yang berpotensi mendatangkan tsunami.

Menurut Wahyu Novyan, Executive Director of Disaster Management Institute of Indonesia (DMII)-Aksi Cepat Tanggap (ACT), di wilayah Selatan Jawa memang frekuensi gempa memang sedang meningkat. Selain Selatan Jawa, wilayah Barat Sumatra perlu mendapat perhatian khusus.

“Dalam pengamatan kami, jalur subduksi di wilayah Barat Sumatera dan Selatan Jawa perlu perhatian ekstra. Selain itu sejumlah sesar (patahan) yang melintasi kota-kota besar di pulau Jawa, seperti Sesar Baribis-Kendeng yang melintasi kota-kota seperti Semarang, Surabaya, dan bahkan Jakarta, dan juga Sesar Lembang yang melintasi Bandung Raya, juga sangat perlu perhatian khusus,” papar Wahyu.

DMII pun mendesak para pemangku kepentingan di dua wilayah yang dimaksud, baik pemerintah, swasta, dan masyarakat, untuk mengambil peran aktif dalam upaya mitigasi bencana secara sistematis, baik mitigasi struktural maupun kultural. Agar korban jiwa dan kerugian materiil bisa diminimalisir ketika bencana tiba.

“Sebagai gambaran, bila Gempa Megathrust Selatan Jawa terjadi dengan Magnitudo 9,2, dari kajian kami, 1,7 juta jiwa penduduk di pesisir selatan Jawa berpotensi terdampak. Sungguh jumlah yang masif. Belum lagi potensi kerugian material. Cukup lah Gempa Lombok, Gempa Palu Donggala, dan Tsunami Selat Sunda 2018, menjadi pelajaran bagi kita, bahwa mitigasi bencana is a must! Sebuah keharusan. Mitigasi bencana adalah harga mati!,” ujar Wahyu memberi penekanan.

Menurut Wahyu, sejak awal tahun, di forum Disaster Outlook 2019, DMII-ACT sudah menyampaikan peringatan, yang berasal dari hasil penelitian para pakar, terkait potensi bencana besar di sepanjang 2019.

Halaman
12
Editor: Ryan Nur Harahap
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved