Kawal Eksekusi Bangunan dan Lahan di Pasar Berastagi, Polres Kerahkan 184 Personel Gabungan

Dari seluruh personel merupakan gabungan dari Mako Polres Tanah Karo, dan Polsekta Berastagi.

Kawal Eksekusi Bangunan dan Lahan di Pasar Berastagi, Polres Kerahkan 184 Personel Gabungan
TRIBUN MEDAN/M NASRUL
Personel Polres Tanah Karo berjaga-jaga mengantisipasi kericuhan saat proses eksekusi sejumlah bangunan yang berada di Jalan Pembangunan, Gang Merek, Berastagi, Kamis (8/8/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com, BERASTAGI - Petugas juru sita Pengadilan Negeri (PN) Kabanjahe, melaksanakan eksekusi sejumlah bangunan di kawasan Pasar Tradisional Berastagi, Kamis (8/8/2019).

Titik awal yang akan dieksekusi adalah empat bangunan jenis rumah toko (ruko), yang berasa di Jalan Pembangunan, Gang Merek, Berastagi.

Amatan www.tribun-medan.com, pada saat pembacaan hasil putusan eksekusi oleh petugas juru sita PN Kabanjahe, lokasi tersebut sudah dikerumuni banyak orang. Diketahui, masyarakat yang berkumpul di sana mayoritas dari pihak termohon.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Polres Tanah Karo turut mengerahkan personelnya untuk berjaga di lokasi tersebut.

Kabag Ops Polres Tanah Karo Kompol B Sembiring, mengungkapkan untuk pengamanan kali ini pihaknya menyiagakan sebanyak 184 personel.

Dirinya menyebutkan, dari seluruh personel merupakan gabungan dari Mako Polres Tanah Karo, dan Polsekta Berastagi.

"Kita mengerahkan 184 personel gabungan antara Polres Tanah Karo dan Polsekta Berastagi. Lengkap dari Sabhara dua pleton Dalmas awal dan lanjutan, kemudian pleton tindak dari Reskrim, pelton lidik dari Intel, dan negotiator dari pleton Binmas dan Polwan," ujar B Sembiring, saat ditemui di lokasi eksekusi.

Dirinya mengungkapkan, pihaknya akan tetap berjaga di lokasi tersebut sampai kedua pihak mendapatkan kesepakatan apakah berdamai atau eksekusi tetap dijalankan.

"Kita tetap berjaga di sini untuk memastikan keadaan tetap aman. Sampai nanti pihak termohon dan pemohon mendapatkan kesepakatan, kita tetap berjaga di sini," ucapnya.

Amatan www.tribun-medan.com, saat proses eksekusi sempat terjadi kericuhan yang disebabkan karena pihak tergugat menolak bangunannya dieksekusi. Dari peristiwa itu, terlihat ada dua orang pria yang sempat diamankan oleh personel kepolisian. B Sembiring menjelaskan, sesuai dengan instruksi awal, pihaknya harus mengamankan oknum-oknum yang mengganggu proses eksekusi.

"Yang melakukan kerusuhan kita amankan dulu, agar jangan mengganggu proses eksekusi. Terlebih tadi kita lihat antara pemohon dan termohon ada indikasi untuk berdamai," katanya.

Namun, keduanya tidak sempat ditahan lama oleh pihak kepolisian. Karena keduanya diketahui merupakan pihak yang juga sebagai termohon.

Saat operator excavator mendekati bangunan yang akan dieksekusi, seorang wanita yang diketahui sebagai pengacara dari pihak tergugat meminta untuk proses damai. Pada proses tersebut, petugas PN Kabanjahe meminta agar seluruh pihak termohon hadir untuk sama-sama menyetujui damai. Untuk itu, keduanya langsung dilepaskan karena dibutuhkan untuk melihat proses perdamaian.

"Tadi memang ada yang kita amankan, tapi karena keduanya juga termasuk pihak termohon, dan mereka mau mengadakan proses negosiasi dengan pihak pemohon, jadi keduanya sudah selesai, langsung kita lepaskan," pungkasnya.

(cr4/tribun-medan.com) 

Penulis: Muhammad Nasrul
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved