Pengungsi Rohingya Terpindana Kasus Pembunuhan Berharap Pulang Menjumpai Putrinya di Bangladesh

Jabbar merupakan terpidana kasus pembunuhan yang terjadi pada 2013 silam yang divonis dengan hukuman 1,5 tahun di PN Medan.

Pengungsi Rohingya Terpindana Kasus Pembunuhan Berharap Pulang Menjumpai Putrinya di Bangladesh
TRIBUN MEDAN/Victory
Pengungsi Rohingya Terpindana Kasus Pembunuhan Berharap Pulang Menjumpai Putrinya di Bangladesh. Terpidana kasus pembunuhan Muhammad Jabbar asal Myanmar suku Rohingya ingin segera kembali ke kampung halamannya. 

Pengungsi Rohingya Terpindana Kasus Pembunuhan Berharap Pulang Menjumpai Putrinya di Bangladesh

TRIBUN-MEDAN.com- Pengungsi Rohingya Terpindana Kasus Pembunuhan Berharap Pulang Menjumpai Putrinya di Bangladesh.

Pengungsi yang juga terpidana kasus pembunuhan Muhammad Jabbar asal Myanmar suku Rohingya ingin segera kembali ke kampung halamannya.

Hal ini disampaikan Jabbar saat ditemui Tribun di Kantor Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Medan yang berada di Jl. Selebes Gang Pekong Kelurahan Belawan Medan Belawan, Minggu (11/8/2019).

Jabbar merupakan terpidana kasus pembunuhan yang terjadi pada 2013 silam yang divonis dengan hukuman 1,5 tahun di PN Medan.

Jabbar telah berada di Rudenim Medan semenjak 2014 setelah menjalani hukuman peniara. Dimana pria 41 tahun ini sudah menjadi pengungsi final rejected (black) dan tak lagi dibiayai oleh UNHCR dan IOM serta tak bisa lagi ditempatkan di negara pengungsi (USA, New Zealand, Australia dan Kanada).

Bahkan hal yang paling miris disebutkan Jabbar dirinya hingga saat ini tak bisa kembali ke tanah kelahirannya.

Hal ini yang membuat pihak Imigrasi tak kunjung bisa memulangkan para Imigran dari Myanmar Rohingya tersebut.

Baca: Kapolrestabes Medan Saksikan Hewan Kurbannya Disembelih: Ini Untuk Meningkatkan Keimanan

Baca: Bentrok OKP di Medan, Kapolda Sumut: Jangan Ragu Berikan Tindakan Tegas!

Baca: Masjid Al-Jihad Bagikan 200 Porsi Daging Siap Santap untuk Jamaah yang Sholat Dzuhur di Masjid

"Sangat sedih karena hingga sekarang, negara tak bolehkan kami masuk karena disana semua hancur dan dibakar sampai ke bangladesh juga," terangnya.

Ia bahkan menjelaskan dirinya tak bisa bertemu lagi dengan anaknya Salimah yang saat ini mengungsi di Bangladesh.

Halaman
12
Penulis: Victory Arrival Hutauruk
Editor: Joseph W Ginting
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved