Tribun Wiki

Masjid Sulaimaniyah Peninggalan Kesultanan Serdang dan Saksi Penyebaran Islam Masa Lampau

Masjid Sulaimaniyah merupakan peninggalan Kesultanan Serdang yang berperan dalam menyiarkan Agama Islam di Sumatera Timur.

Masjid Sulaimaniyah Peninggalan Kesultanan Serdang dan Saksi Penyebaran Islam Masa Lampau
Tribun Medan/Aqmarul Akhyar
Masjid Peninggalan Sultan Serdang, Masjid Sulaimaniyah di Simpang Tiga Pekan, Kec Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara. 

TRIBUN-MEDAN.com-Masjid Sulaimaniyah yang terletak di Simpang Tiga Pekan, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdangbedagai, Sumatera Utara merupakan peninggalan Kesultanan Serdang yang berperan dalam menyiarkan Agama Islam di Sumatera Timur.

Kesultanan Serdang merupakan satu di antara kerajaan terbesar di Sumatera Timur, berdiri pada tahun 1723 oleh Tuanku Umar Baginda Junjungan.

Awalnya Kesultanan Serdang merupakan bagian dari Kesultanan Deli. Namun, kerajaan ini berpisah karena perselisihan terjadi antar dua putra Kesultanan yakni Tuanku Pasultan dan Tuanku Umar.

Tuanku Umar memutuskan diri untuk memisakan diri dari Kesultanan Deli dan membangun Kesultanan Serdang yang berpusat di Perbaungan.

Meski, status Kesultanan Serdang adalah pecahan dari Kesultanan Deli. Namun hubungan dua antara kerajaan ini berjalan dengan baik, karena adanya hubungan saudara.

Kesultanan Serdang pernah memasuki masa Keemasannya pada kepemimpinan Sultan ketiga, Sultan Thaf Sinar di tahun 1823. Hal ini terjadi karena Sultan Thaf Sinar membuka jalur perdagangan dengan negara lain yaitu Inggris yang saat itu berada di Malaysia.

Ruangan salat Masjid Sulaimaniyah.
Ruangan salat Masjid Sulaimaniyah. (Tribun Medan/Aqmarul Akhyar)

Sultan Thaf Sinar juga memiliki kapal pribadi yang digunakan untuk mengimpor hasil bumi. Sehingga, keuntungan yang diperoleh semangkin besar. Selain berhasil dibidang ekonomi, Kesultanan Serdang juga berhasil menyiarkan agama Islam di Sumatera Utara.

Setiap Sultan memiliki strategi khusus untuk menyebarkan agama Islam ke daerah perbatasan seperti Pertjoet, Selat Malak, Simalungun dan Dolok. Tak terkecuali Sultan Serdang Kelima yaitu Sultan Sulaiman Syariful Alamsyah, yang sengaja melibatkan etnis struktur pemerintahan sehingga dengan mudah agama Islam tersebar kepada Masyarakat.

Sultan Sulaiman juga mampu mencegah masuknya agama lain ke Kesultanan Serdang. Strategi Sultan Sulaiman menjadikan kepala-kepala kampung utusan Kesultana Serdang. Kemudian kepala-kepala kampung tersebut membuat sekolah-sekolah Melayu yang mengajarkan agama Islam di wilayah perbatasan tersebut.

Namun, salah satu seorang Pembesar Belanda bernama Van der Plas, mengatakan bahwasanya di Serdang sangat sulit menyebarkan agama Kristen. Hal ini terjadi karena dakwah-dakwah islam lebih banyak diterima oleh masyarakat Serdang.

Halaman
123
Penulis: Aqmarul Akhyar
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved