Peduli Bahaya TBC, Community TB-HIV Care 'Aisyiyah Medan Dampingi Pasien Hingga Sembuh

Di Sumatera Utara (Sumut) pada 2016 tercatat jumlahnya mencapai 23.097 kasus dengan angka kematian 5.714 orang.

Peduli Bahaya TBC, Community TB-HIV Care 'Aisyiyah Medan Dampingi Pasien Hingga Sembuh
TRIBUN MEDAN/HO
Serangkaian kegiatan rutin yang dilaksanakan oleh Community TB-HIV Care 'Aisyiyah di wilayah Sumut para tahun 2011. 

TRIBUN-MEDAN.com - Penyakit Tuberculosis (TB) hingga saat ini masih menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat Indonesia.

Pasalnya menurut catatan WHO pada 2015, Indonesia menempati urutan kedua dunia sebagai Negara dengan jumlah kasus TB terbesar setelah China.

Di Sumatera Utara (Sumut) pada 2016 tercatat jumlahnya mencapai 23.097 kasus dengan angka kematian 5.714 orang.

Bertumpu pada hal tersebut, Aisyiyah selaku komunitas gerakan perempuan muslim berkemajuan, meluncurkan Community TB-HIV Care 'Aisyiyah di wilayah Sumut para tahun 2011.

Manajer Kasus TB Resisten Obat Community TB-HIV Care 'Aisyiyah Medan, Ahmad Hakiki mengatakan bahwa komunitas ini bergerak dalam hal pendampingan pasien TBC khusus untuk masyarakat menengah kebawah yang terkendala masalah ekonomi.

"Banyak yang belum tau TBC RO, dan pasien yang terkena rata-rata menengah ke bawah, jadi gimana caranya bersama kita, mereka tau gimana cara mengantisipasinya, katena seharusnya makan obatnya sampai 2 tahun, program kita free, malah kitta buat kampaign cari donasi untuk nambah gizi mereka," katanya

Ia mengatakan Melalui Program Penanggulangan TB, Aisyiyah berupaya berperan serta dalam pembangunan kesehatan di Indonesia dan pencapaian target Millenium Development Goals (MDGs) nomor 6, yakni penurunan angka penyebaran penyakit menular.

"Community TB-HIV Care 'Aisyiyah Sumut sudah ada sejak tahun 2011, namun di 2018 ada program TB Resisten obat, jadi tahun 2011 sampai 2017, Aisyiyah fokus sama TBC sensitif yang biasa, dan di tahun 2018 karena semakin banyaknya yang resisten atau gagal pengobatan maka dibentuklah satu bidang lagi TB resisten obat yang pengobatannya ini lebih lama dan butuh pendampingan yang lebih ekstra," katanya.

Sebagai amanat Muktamar dan Tanwir ‘Aisyiyah, upaya penanggulangan TB ini kata Ahmad dilakukan baik di daerah yang mendapatkan dukungan dari lembaga donor maupun secara mandiri. Karenanya program Penanggulangan TB Aisyiyah terus dikembangkan di 33 provinsi di Indonesia.

"Saya manager kasus untuk TB RO di Rumah Sakit Adam Malik, kita punya lima pasien suporter, ada juga di pringadi, Rumah Sakit Haji, Deli serdang dan masih banyak lagi. Kegiatan kita mendampingi pasien sampai tuntas pengobatannya, kalau jangka pendek 9 sampai 12 bulan, atau jangka panjang 20 sampai 24 bulan karena efek samping obat yang sangat sakit sehingga pasien memang harus punya pendamping," katanya.

Halaman
12
Penulis: Gita Nadia Putri br Tarigan
Editor: Royandi Hutasoit
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved