Jumlah Kebakaran Hutan dan Lahan di Karo Tahun Ini Lebih Rendah

Daerah yang terkena paparan Karhutla tersebut ada di Kecamatan Merek dan Kutabuluh.

Jumlah Kebakaran Hutan dan Lahan di Karo Tahun Ini Lebih Rendah
Tribun Medan/Muhammad Nasrul
Suasana diskusi pembahasan seputar pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan, di Aula Kantor Bupati Karo, Jalan Djamin Ginting, Kabanjahe, Kamis (15/8/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com - Dalam rentang waktu mulai bulan Januari hingga Agustus 2019, untuk wilayah Kabupaten Karo terdata dua kali terjadi peristiwa kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Adapun daerah yang terkena paparan Karhutla tersebut ada di Kecamatan Merek dan Kutabuluh.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karo Martin Sitepu, mengungkapkan hingga saat ini pihaknya mendata hanya dua peristiwa Karhutla yang terjadi di seluruh Kabupaten Karo.

Dirinya menyebutkan, untuk wilayah kebakaran yang terjadi di Kecamatan Merek, tepatnya berada di sekitar kawasan Desa Tongging dan Paropo. Kemudian, di Kecamatan Kutabuluh titik api terpantau di Desa Ujung Deleng.

"Sebenarnya mulai dari awal tahun kemarin sampai sekarang, cuma dua yang kita data. Kalau di Kecamatan Merek itu luas wilayah yang terbakar sekitar lima hektare. Kalau yang di ujung Deleng hampir mencapai lima hektare," ujar Martin, saat ditemui usai diskusi Karhutla, di Aula Kantor Bupati Karo, Jalan Djamin Ginting, Kabanjahe, Kamis (15/8/2019).

Martin menjelaskan, dari kedua peristiwa tersebut ternyata lebih rendah dari kebakaran yang terjadi pada tahun lalu. Dirinya mengatakan, menurut data yang mereka dapat sedikitnya ada 21 peristiwa Karhutla.

"Kalau tahun lalu itu, dari Januari sampai Agustus saja kita data ada 21 kejadian Karhutla," katanya.

Ketika ditanya perihal titik rawan yang sampai saat ini masih sering terjadi kebakaran, dirinya mengaku titik tersebut berada di Kecamatan Merek. Dirinya menyebutkan, hampir seluruh wilayah yang berada di pinggiran wilayah Danau Toba, berpotensi terjadi Karhutla.

"Di sana itu ada beberapa faktor ya, pertama itu karena kondisinya bebatuan, jadi kalau kemarau dia kering betul. Kemudian medannya sangat terjal sekali, dan anginnya juga kencang, jadi sedikit saja ada yang menyulut langsung meluas," ungkapnya.

Dirinya menyebutkan, jika dilihat penyebab kebakaran tersebut kebanyakan diduga disebabkan karena faktor kesengajaan.

"Kalau masalah penindakan nantinya kita serahkan kepada pihak yang berwajib. Kita hanya melaporkan, nanti mereka yang membuat penyidikan,"

Dirinya menyebutkan, beberapa waktu terakhir pihaknya juga sempat menerima laporan dari Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara, dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), jika di wilayah Kabupaten Karo terdapat titik-titik panas (hot spot). Namun, setelah dilakukan pemeriksaan langsung ke lapangan ternyata sumber panas berasal dari pertanian masyarakat yang membakar kulit jagung pasca panen.

Ketika ditanya perihal langkah yang dilakukan untuk menekan Karhutla, dirinya mengatakan pihaknya sudah beberapa kali melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Kemudian, pemantauan dan pengawasan di lapangan, serta melakukan penegakan hukum jika nantinya ada pelaku pembakaran hutan dan lahan yang tertangkap.

"Untuk di Kabupaten Karo hingga saat ini belum ada, nanti kalau tertangkap langsung kita serahkan kepada penegak hukum untuk ditindak dengan tegas," pungkasnya. (cr4/tribun-medan.com) 

Penulis: Muhammad Nasrul
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved