Jokowi Setujui Penerapan Biodiesel B-30, Pemanfaatan CPO Dalam Negeri akan Meningkat Dua kali Lipat

Harga CPO yang diperdagangkan di Bursa Kuala Lumpur naik dari level MR 1800 mencapai level MR 2100 pada beberapa hari ini.

Jokowi Setujui Penerapan Biodiesel  B-30, Pemanfaatan CPO Dalam Negeri akan Meningkat Dua kali Lipat
Natalin / Tribun Medan
Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Aceh, Ir Sabri Basyah didampingi Sekretaris Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Sumut (Sumatera Utara), Timbas Prasad Ginting saat bertemu awak media. Gapki Aceh dan Gapki Sumut menyambut gembira peryataan Presiden dan mendukung penuh penerapan B-30 dari bahan bakar nabati. 

TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN - Kondisi perekonomian yang saat ini masih diwarnai "perang dagang" Amerika- China sangat mempengaruhi permintaan atas minyak nabati dunia.

Menurunnya permintaan kacang kedelai atau soyabean oleh China menaikkan posisi stok di Amerika dan berpegaruh pada turunnya harga minyak nabati dunia secara menyeluruh sejak enam bulan lalu.

Kondisi ini juga yang menyebabkan level terendah sampai pada periode Juli yang lalu.

Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Aceh, Ir Sabri Basyah didampingi Sekretaris Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Sumut (Sumatera Utara), Timbas Prasad Ginting mengatakan peryataan resmi Presiden Jokowi untuk menaikkan proporsi mandat penerapan biodiesel dari B-20 menjadi B-30 pada Bulan Januari 2020 dan menuju B-50 pada akhir tahun 2020 memberi sentimen positif pada perkembangan harga minyak nabati dunia termasuk harga CPO.

Harga CPO yang diperdagangkan di Bursa Kuala Lumpur naik dari level MR 1800 mencapai level MR 2100 pada beberapa hari ini.

"Presiden Jokowi sempat bicara bahwa sekarang penerapan B30 itu akan diterapkan per Januari 2020 akhir tahun jadi B50. Buat kami Gapki Aceh dan Gapki Sumut ini berita yang sangat baik, kami menyambut gembira peryataan Presiden dan mendukung penuh penerapan B-30 dari bahan bakar nabati tersebut. Dan sebenarnya kita bisa lihat indikasinya dalam dua minggu terakhir ini ada kenaikan CPO cukup tajam. Jadi naiknya kalau dalam ringgit, yang tadinya dibawah 1900 jadi sudah 2100 ringgit," ucap Sabri, Jumat (16/8/2019).

Sabri menjelaskan hal ini memberikan harapan baik bagi industri kelapa sawit Indonesia dan juga seluruh petani kelapa sawit. Harga TBS (Tandan Buah Segar) pada tingkat petani sempat menyentuh angka Rp 600 dan saat ini sudah mencapai angka Rp 1.000 hingga Rp 1.100 per kg.

"Harga sawit sekarang pada satu saat harga TBSnya cuma ratusan perak per kilogram, kita juga berpikir kalau harga terus turun, kalau sempat harga TBS itu 500 maka petani tidak panen lagi. Program
Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) bisa berhenti. Makanya hari ini paling enggak Gapki dan para pembinanya mau mengapresiasi langkah Presiden dan mendukung langkah Presiden," katanya.

Ia berharap agar pemerintah dapat konsisten dalam penerapan kebijakan ini dengan menerapkan sanksi yang tegas atas pelanggaran yang mungku terjadi.

Sikap pemerintah sekaligus merupakan jawaban atas sanksi penerapan pajak tambahan pada bahan bakar serta minyak nabati Indonesia yang masuk ke Uni Eropa dan gerakan ini merupakan kesepakatan antara dua produsen besar dunia yakni Indonesia dan Malaysia.

Halaman
12
Penulis: Natalin Sinaga
Editor: Royandi Hutasoit
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved