LPPM USU Edukasi Petani Beras Merah Silotik di Tapsel Guna Tingkatkan Produksi Pertanian

Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Sumatera Utara (USU) mendukung model edukasi petani Beras Merah Silotik

LPPM USU Edukasi Petani Beras Merah Silotik di Tapsel Guna Tingkatkan Produksi Pertanian
Istimewa
Tim LPPM USU mendukung model edukasi petani Beras Merah Silotik di Tapanuli Selatan (Tapsel). 

“Di Sumatera Utara, lahan tanam beras merah dapat diidentifikasi seperti di Langkat, Karo, Simalungun, Serdang Bedagai, Deliserdang, Nias, dan Tapsel,” jelasnya.

Ia menerangkan, salah satu lokasi penanaman beras merah spesifik lokal yang menerapkan pertanian padi organik terdapat di Desa Tanjung Dolok, Kecamatan Marancar dan Desa Angkola Timur, Tapanuli Selatan.

“Oleh sebab itu, sangat penting dan bernilai strategis dilakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat mono tahun yang menginisasi pengembangan desa mitra melalui kegiatan menganalisis faktor-faktor internal, faktor-faktor eksternal, strategi pengembangan dan konservasi beras merah organik, pengelolaan pertanian terpadu berbasiskan masyarakat dan ekowisata sebagai upaya menumbuh kembangkan kegiatan ekonomi kreatif,” terangnya.

Ia menuturkan, Kelompok Tani Wanita Hamparan dan Kelompok Tani Dame Na Roha, petani padi beras merah merupakan salah satu alternatif pemecahan masalah yang sangat strategis dan efektif dengan keuntungan ekonomi, sosial dan ekologi di Tapanuli Selatan.

“Kegiatan Pengabdian Kepada masyarakat meliputi Pelatihan serta Sumbangan 1 set alat penjemuran padi tepat guna kepada masyarakat di Desa Tanjung Dolok, Marancar, Tapanuli Selatan,” tuturnya.

Ia mengungkapkan, silotik merupakan salah sumber beras merah yang dikonservasi oleh Balai Benih Padi Sukamandi, Jawa Barat. Dalam pengembangan pertaniannya, Dinas Pertanian Tapsel masih menggunakan varietas Mekongga, Inpari 29, 30,31,32 dan IPB 30 S serta padi beras merah spesifik lokal, seperti silotik.

“Padi dan beras merah banyak diproduksi dari lokasi tanam di Tantom Angkola, Sayur Matinggi, Batang Angkola, Angkola Timur, Marancar, Sipirok, dan Batangtoru. Silotik terdeteksi hama utama, diantaranya adalah wereng, penggerek batang padi, walang sangit, orong-orong dan keong mas,” ungkapnya.

Ia menuturkan, untuk kontrol hama dilakukan secara fisik atau alat, perangkap warna, panas, cabut tanaman terserang, aliran listrik, kimiawi seperti pestisida, fungisida, insektisida dan biologi seperti musuh alami, predator, dan parasitoid.

“Dilanjutkan Pelatihan penggunaan pupuk dan pestisida nabati ramah lingkungan. Dilanjutkan kunjungan lapangan ke lokasi pertanaman padi merah dengan memasang perangkap warna atau yellow sticky trap,” tuturnya.

Dr Kemala Sari Lubis menyampaikan materi pelatihan mengamati struktur dan morfologi dan pengolahan tanah seperti jenis tanah, pemupukan, dan konservasi tanah secara optimal. Pengaturan pola tanam, pengairan, pemupukan digunakan sesuai anjuran dan takaran secara tepat guna.

Halaman
123
Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved