LPPM USU Edukasi Petani Beras Merah Silotik di Tapsel Guna Tingkatkan Produksi Pertanian

Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Sumatera Utara (USU) mendukung model edukasi petani Beras Merah Silotik

LPPM USU Edukasi Petani Beras Merah Silotik di Tapsel Guna Tingkatkan Produksi Pertanian
Istimewa
Tim LPPM USU mendukung model edukasi petani Beras Merah Silotik di Tapanuli Selatan (Tapsel). 

TRIBUN-MEDAN.com - Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Sumatera Utara (USU) mendukung model edukasi petani Beras Merah Silotik di Tapanuli Selatan (Tapsel).

Hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk mendukung ketahanan pangan di Sumatera Utara (Sumut). Mengatasi persoalan tersebut LPPM USU merancang bangun sebuah alat penjemuran padi silotik sederhana dan tepat guna.

 “Alat terdiri dari rak penjemuran dua tingkat yang disekelilingnya dilapisi plastik putih dan plastik hitam dengan blower disetiap celah ujung bagian atas yang akan menyebarkan panas untuk melewati butir padi dan mengangkap uap air. Alat ini diharapkan akan bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Ketua LPPM USU, Prof. Dr. Tulus, M.Si, Jumat (16/8/2019).

Disamping itu  konsep ekowisata yang akan diintroduksi kepada mitra adalah alternatif pemanfaatan lahan padi beras merah melalui kegiatan berkelanjutan dalam bentuk edukasi dan penelitian ilmiah.

“Induksi pengetahuan tentang identifiaksi benih padi spesifik lokal berkualitas, pola tanam tepat guna, pengendalian hama terpadu, dan penggunaan pestisida nabati diharapkan meningkatkan produktivitas hasil pertanian,” jelasnya.

Ia menerangkan, Dame Na Roha sebagai sumber pangan protein produktif dari beras merah mempunyai peran sangat strategis dalam rangka peningkatan ketahanan pangan di Sumut.

“Program Mono Tahun berbasiskan riset dan sinergitas dengan masyarakat untuk mencapai tujuan khusus mewujudkan Desa Tanjung Dolok sebagai model desa mitra unggulan dengan capaian peningkatan komoditas pangan dan ternak mendukung kebutuhan masyarakat, pembangunan desa dan ketahanan pangan nasional,” terangnya.

Ia menuturkan, konsep Martabe alias Marsipature Huta Nabe, meminjam konsep Gubernur Sumatera Utara, Almarhum Raja Inal Siregar.

“Saat ini Indonesia masih menghadapi empat masalah gizi utama yaitu kurang energi protein, anemia gizi besi, kurang vitamin A, dan gangguan akibat kurang yodium. Ketiga masalah diatas dapat dieliminir melalui penggunaan beras merah,” ujar Ketua Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Ameilia Zuliyanti Siregar, Jumat (16/8/2019).

Ia menjelaskan, beras merah sebagai bahan pangan merupakan sumber utama karbohidrat, protein, betakaroten, antioksidan, zat besi dan vitamin B.

“Di Sumatera Utara, lahan tanam beras merah dapat diidentifikasi seperti di Langkat, Karo, Simalungun, Serdang Bedagai, Deliserdang, Nias, dan Tapsel,” jelasnya.

Ia menerangkan, salah satu lokasi penanaman beras merah spesifik lokal yang menerapkan pertanian padi organik terdapat di Desa Tanjung Dolok, Kecamatan Marancar dan Desa Angkola Timur, Tapanuli Selatan.

“Oleh sebab itu, sangat penting dan bernilai strategis dilakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat mono tahun yang menginisasi pengembangan desa mitra melalui kegiatan menganalisis faktor-faktor internal, faktor-faktor eksternal, strategi pengembangan dan konservasi beras merah organik, pengelolaan pertanian terpadu berbasiskan masyarakat dan ekowisata sebagai upaya menumbuh kembangkan kegiatan ekonomi kreatif,” terangnya.

Ia menuturkan, Kelompok Tani Wanita Hamparan dan Kelompok Tani Dame Na Roha, petani padi beras merah merupakan salah satu alternatif pemecahan masalah yang sangat strategis dan efektif dengan keuntungan ekonomi, sosial dan ekologi di Tapanuli Selatan.

“Kegiatan Pengabdian Kepada masyarakat meliputi Pelatihan serta Sumbangan 1 set alat penjemuran padi tepat guna kepada masyarakat di Desa Tanjung Dolok, Marancar, Tapanuli Selatan,” tuturnya.

Ia mengungkapkan, silotik merupakan salah sumber beras merah yang dikonservasi oleh Balai Benih Padi Sukamandi, Jawa Barat. Dalam pengembangan pertaniannya, Dinas Pertanian Tapsel masih menggunakan varietas Mekongga, Inpari 29, 30,31,32 dan IPB 30 S serta padi beras merah spesifik lokal, seperti silotik.

“Padi dan beras merah banyak diproduksi dari lokasi tanam di Tantom Angkola, Sayur Matinggi, Batang Angkola, Angkola Timur, Marancar, Sipirok, dan Batangtoru. Silotik terdeteksi hama utama, diantaranya adalah wereng, penggerek batang padi, walang sangit, orong-orong dan keong mas,” ungkapnya.

Ia menuturkan, untuk kontrol hama dilakukan secara fisik atau alat, perangkap warna, panas, cabut tanaman terserang, aliran listrik, kimiawi seperti pestisida, fungisida, insektisida dan biologi seperti musuh alami, predator, dan parasitoid.

“Dilanjutkan Pelatihan penggunaan pupuk dan pestisida nabati ramah lingkungan. Dilanjutkan kunjungan lapangan ke lokasi pertanaman padi merah dengan memasang perangkap warna atau yellow sticky trap,” tuturnya.

Dr Kemala Sari Lubis menyampaikan materi pelatihan mengamati struktur dan morfologi dan pengolahan tanah seperti jenis tanah, pemupukan, dan konservasi tanah secara optimal. Pengaturan pola tanam, pengairan, pemupukan digunakan sesuai anjuran dan takaran secara tepat guna.

 “Sedangkan konservasi tanah dilakukan secara peningkatan bahan organik dan kesuburan tanah perbaikan sifat tanah yang berkorelasi nyata terhadap produksi padi adalah kedalaman solum, kandungan bahan organik,” terangnya.

Dilanjutkan dengan mengambil sampel tanah untuk diuji di Laboratorium Fisika Tanah Fakultas pertanian Universitas Sumatera Utara dan memberi pelatihan mendeteksi ciri dan morfologi benih asal padi unggul yang dideteksi dari aroma-rasa, produktivitas tinggi, dan resistensi hama dan penyakit tanaman.

Ketika Dr Haryati, M.P memberi pelatihan mendeteksi ciri dan morfologi benih asal padi unggul yang dideteksi dari aroma-rasa, produktivitas tinggi, dan resistensi hama dan penyakit tanaman.

Menurut ketua adat di Marancar terdapat beberapa sumber padi spesifik lokal, dianataranya adalah Sipahan dan Sipulen yang kedua jenis benih padi tersebut masih sangat sulit ditemukan di Desa Tanjung Dolok, Marancar, Tapanuli Selatan.

Setelah dilaksanakan pelatihan dilakukan diskusi tanya jawab dengan kelompok tani wanita Hamparan dan petani Dame Na Roha mengenai permasalahan tentang pengelolaan dan kontrol hama dan penyakit tanaman (hpt) padi beras merah secara tepat guna.

Masalah bibit unggul silotik yang belum ditemukan, persoalan irigasi dimusim kering, rotasi tanaman, sampai masalah penjemuran padi silotik yang sering terganggu saat hujan.(pra/tribun-medan.com)

Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved