Menjual Danau Toba Lewat 1000 Tenda
Tak hanya unik dan kreatif, 1000 Tenda pun mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar Danau Toba
Ojak menjelaskan, dari empat kegiatan yang sudah dilaksanakan selama empat tahun terakhir, RKI memasukkan konsep 1000 tenda dalam pelaksanaannya. RKI, kata Ojak punya alasan kenapa memasukkan konsep 1000 tenda. Alasan pertama adalah aksesibilitas pengunjung ke Danau Toba yang masih terbatas dan kelompok milenial yang suka aktivitas berbau petualangan. Terkait aksesibilitas ini, kata Ojak, tingkat kemudahan pengunjung untuk mengakses fasilitas dan pelayanan di Danau Toba seperti penginapan tidaklah sama. Artinya jika pengunjung datang dalam jumlah besar, maka tenda dapat dimanfaatkan sebagai media istirahat.
Sedangkan kelompok milenial, kata Ojak diyakini oleh RKI, merupakan kelompok penduduk yang sangat besar saat ini di Indonesia dan dekat dengan dunia digital. Kehadiran mereka dalam industri pariwisata sangat berpengaruh untuk mempromosikan tempat wisata yang mereka datangi di media sosial. “Keuangan mereka memang terbatas, tetapi pengaruh mereka begitu kuat. Sekarang kan milenial itu banyak yang berwisata dengan konsep backpacker. Karena itulah kami mengakomodir mereka dengan menghadirkan konsep tenda di event-event RKI. Kelompok milenial tadi pun tidak sekadar backpacker saja, tetapi juga ikut berpromosi di media sosial. Jadi efek dominonya begitu terasa,” terang Ojak.
Ojak mengatakan, di lapangan, konsep 1000 tenda ini juga disesuaikan dengan event-event yang dilaksanakan. Di 1000 Tenda Kaldera Toba Festival, tenda menjadi konsep utama dengan diiringi berbagai kegiatan pendukung seperti pertunjukan budaya, FGD, instalasi seni, trip wisata, pelatihan, kumpul komunitas, produk kreatif, pertunjukan musik, aksi bersih, dan fun games. Pengunjung pun leluasa untuk berkreasi di event tersebut dan bebas mengikuti kegiatan-kegiatan pendukung. Sedangkan di TSAF, 1000 tenda adalah kegiatan pendamping atau produk ikutan. “Sesuai namanya, arts festival, maka kegiatan senilah yang menjadi menu utama di TSAF, pengunjung memang tidak begitu leluasa bergerak dan hanya sebagai penikmat kegiatan-kegiatan seni dan budaya di TSAF,” ujar Ojak.
Konsep yang hampir sama juga berlaku untuk Lake Toba Film Festival (LTFF). Sesuai dengan namanya, event ini merupakan pertunjukan film yang dipadukan dengan kegiatan seni dan budaya seperti kongres film LTFF, cosplay, festival film pelajar LTFF, meet and greet the artist, bazaar, performing art dan 1000 tenda. “Tetap ada kegiatan 1000 tendanya. Jadi pengunjung dapat membawa tenda atau menyewa tenda serta memasang tenda di lokasi LTFF, Pantai Situngkir,” kata Ojak.
Sedangkan Geo Bike Kaldera Toba (GBKT), adalah event yang menggabungkan kegiatan olahraga, seni, dan budaya. Menu utama event ini adalah kegiatan olahraga (bersepeda) melwati beberapa geosite kaldera Toba di empat kabupaten yakni Simalungun, Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara, dan Toba Samosir. Sedangkan kegiatan pendukung diantaranya taritradisional, musik tradisional, screening film dan talkshow di geosite-geosite yang dijadikan titik pemberhentian.
“Konsep tenda dalam Geo Bike Kaldera Toba ini kami masukkan ketika peserta tiba di geosite. Kita bagikan tenda sebagai tempat istirahat,” ujar Ojak.
Sukses dengan pelaksanaan Geo Bike Kaldera Toba dan 1000 Tenda Kaldera Toba Festival, di tahun 2019 ini, RKI kembali menggelar Tao Silalahi Arts Festival (TASF) di Pulau Silalahi. Pihaknya optimistis, sambutan pengunjung terhadap event ini pun akan sama dengan pelaksanaan sebelumnya. “TASF ketiga kami selenggarakan di Desa Paropo, kabupaten Dairi dan dihadiri 7.230 pengunjung. Di TASF 2019 yang memasuki penyelenggaraan keempat ini, kami optimistis jumlahnya akan meningkat,” kata Ojak.
Meskipun digagas dan dikerjakan oleh komunitas RKI yang berasal dari kota Medan, namun pelaksanaan even-event seni dan budaya yang bernuansa 1000 tenda ini tetap melibatkan komunitas lokal dan warga lokal dalam kepanitiaannya. Untuk event TSAF tanggal 6-8 September mendatang di Desa Silalahi III, kecamatan Silalahi, sekitar 30-an warga lokal ikut masuk dalam kepanitiaan. Dari pengelola camping ground di kecamatan Silalahi mengikutsertakan 20 orang dan sisanya dari perwakilan Karang Taruna yang ada di lima desa di kecamatan Silalahi.
Menguatkan Sumber Daya Manusia (SDM) lokal dalam bidang pariwisata, kata Ojak, menjadi fokus RKI ketika melibatkan warga lokal. Dengan komposisi 60:40 di mana 60 persen panitia dari RKI dan 40 persen panitia dari warga lokal, diharapkan SDM warga lokal akan semakin baik dalam menjual Danau Toba dari daerahnya masing-masing mulai dari melayani tamu, membuat pertunjukan seni budaya hingga mengemas acara-acara pariwisata. Tak hanya sebagai panitia, warga lokal juga diajak untuk menunjukkan bakat dan kemampuannya dalam bentuk pertunjukan seni dan budaya.
“Penguatan SDM ini sudah membuahkan hasil di kabupaten Dairi. Selama tiga kali pelaksanaan TSAF, pihak RKI yang menjadi Direkturnya. Tapi di penyelenggaraan keempat bulan September nanti, warga setempat yang sudah menjadi Direkturnya. Namanya Hermanto Situngkir. Selama tiga penyelenggaraan TSAF sebelumnya, Hermanto memang sudah ikut dalam kepanitiaan, tapi tahun ini, beliau kami berikan kepercayaan penuh. Bukan tidak mungkin, di penyelenggaraan kelima dan keenam nanti, warga lokal yang akan secara penuh mengelola event TSAF ini,” ujar Ojak, bangga.
Ojak menegaskan, mereka perlu melibatkan warga lokal karena sejatinya warga lokallah yang menjadi “pemilik” Danau Toba dan mereka diharapkan dapat menjual Danau Toba sebagai destinasi wisata yang layak dikunjungi. Jika pengunjung banyak yang datang, perekonomian warga lokal pun ikut berkembang. Namun yang terjadi selama ini, kata Ojak, pengembangan Danau Toba cenderung mengabaikan peran warga lokal. Warga lokal hanya sebatas penonton saja.
“Ada banyak diskusi ataupun seminar yang dilakukan berbagai pihak terkait pengembangan Danau Toba. Tapi bagaimana mengaplikasikan hasil diskusi atau seminar ini menjadi nyata dengan melibatkan warga lokal belumlah maksimal. Kalau program dari pusat bagus, tetapi rakyat di bawah hanya melihat-lihat saja, sangat disayangkan tentunya. Inilah salah satu tujuan kami dengan melibatkan komunitas lokal dan warga lokal dalam event-event RKI. Intinya bagaimana warga di daerah jangan jadi penonton atau sekadar tukang parkir. Sebaliknya, warga lokal harus mampu menjadi pelaku wisata, mampu menjadi penata arsitistik pertunjukan seni dan budaya, pendamping wisatawan atau mendesain sebuah kegiatan seni dan budaya,” terang Ojak.
Menggelar berbagai event seni dan budaya di beberapa kabupaten sekitar Danau Toba, Ojak mengakui, sambutan pemerintah kabupaten di sekitar Danau Toba cukup baik. Di tahun awal pelaksanaan (2016) memang belum ada sambutan, tapi tahun ketiga dan keempat, pemerintah kabupaten sudah bekerjasama dengan RKI. Pelaksanaan TSAF bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Dairi, LTFF bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Samosir dan Pusat Pengembangan Film Kemendikbud, GBKT bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Sumut, dan 1000 Tenda Kaldera Toba Festival bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Toba Samosir. Kerjasama dengan pemerintah kabupaten di daerah, kata Ojak, belum dalam bentuk dukungan anggaran, karena memang belum dianggarkan. Kebanyakan dukungan datang dalam bentuk fisik seperti panggung, genset, mobil kebersihan, dan lain-lain.
Menariknya, kata Ojak, event TASF di Kabupaten Dairi sudah masuk dalam kalender event Badan Otorita Danau Toba (BODT). Tapi meskipun sudah jadi event tetap, dukungan dana masih minim hingga pelaksanaan yang keempat. “Pihak RKI dan komunitas lokal di Kabupaten Dairi pun sudah audiensi dengan Bupati Dairi. Tapi begitulah, menurut mereka belum dianggarkan. Padahal menurut kami, event TASF ini adalah event yang tidak kecil. Lebih dari 7.000 pengunjung datang TSAF ketiga dan mereka bayar Rp 20 ribu per orang. Artinya, event TSAF memang menarik sehingga pengunjung tetap datang walaupun berbayar,” kata Ojak.
Beda di kabupaten Dairi, beda lagi di kabupaten Toba Samosir. Tuan rumah 1000 Tenda Kaldera Toba Festival ini, kata Ojak, menerima dengan baik event pertama ini. Pemerintah kabupaten Toba Samosir pun menjanjikan bantuan dana untuk penyelenggaran kedua tahun depan. “Waktu itu ketemu Pak Sekda, sudah janji dianggarkan tahun. Kami lihatlah untuk tahun depan,” kata Ojak.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Tobasa, Audy Murphy Sitorus mengatakan, pihaknya mengapresiasi pelaksanaan 1000 Tenda Kaldera Toba Festival yang dilaksanakan di wilayah Toba Samosir. Menurut Audy, event ini memotivasi para generasi muda untuk mengenal potensi kearifan lokal dan Danau Toba. Para peserta yang datang ke Desa Meat tidak hanya menikmati keindahan Danau Toba dan alam sekitar, tetapi juga ikut menyaksikan pertunjukan seni dan budaya. “Kegiatan ini mengajak peserta dan memberitahukan kepada pihak luas, bahwa Danau Toba tidak hanya indah, tetapi daerah sekitar Danau Toba juga kaya akan kekayaan alam dan kearifan lokal. Dengan demikian, diharapkan semua pihak dapat menjaga Danau Toba,” kata Audi kepada tribun-medan.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/pengunjung-1000-tenda-kaldera-toba-festival-di-desa-meat.jpg)