Menjual Danau Toba Lewat 1000 Tenda

Tak hanya unik dan kreatif, 1000 Tenda pun mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar Danau Toba

Tayang:
Tribun Medan / Truly
Pengunjung 1000 Tenda Kaldera Toba Festival di Desa Meat, Kecamatan Tampahan, Kabupaten Toba Samosir, 28-30 Juni 2019. 

Tak hanya memotivasi generasi muda, Audy menyebut, warga Desa Meat juga merasakan manfaat dari pelaksanaan 1000 Tenda Kaldera Toba Festival. Perekonomian warga berputar dengan banyaknya kebutuhan pengunjung yang dapat diakomodasi warga dan dijual ke pengunjung. “Bahkan setengah biaya pendaftaran masuk ke kas desa, kan? Jadi menurut kami event ini sangat bagus,” ujar Audy.

Pasca event ini, kata Audy, keberadaan Desa Meat juga telah menjadi perhatian pemerintah pusat melalui kementerian terkait seperti Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Maritim. “Kami baru rapat dengan pihak Kementerian Maritim. Desa Meat sudah masuk menjadi prioritas pengembangan pariwisata. Sudah ada investor yang berminat berinvestasi dalam bentuk pembangunan infrastruktur seperti jalan. Kita tunggulah perkembangannya,” kata Audy.

Audy menambahkan, mengingat sambutan masyarakat yang begitu baik terhadap event 1000 Tenda Kaldera Toba Festival, ke depannya, pihaknya akan merangkul komunitas-komunitas lokal di Toba Samosir untuk membuat event-event seperti ini.

Gerakkan Perekonomian Warga

DIREKTUR RKI, Ojak Manalu mengatakan, pelaksanaan event seni dan budaya berkonsep 1000 tenda yang digagas RKI bersama komunitas lokal dan warga lokal di beberapa kabupaten di sekitar Danau Toba tak hanya berhasil menjual Danau Toba dengan datangnya ribuan pengunjung. Tetapi lebih dari itu, event-event seni dan budaya ini berhasil menggerakkan perekonomian warga di sekitar Danau Toba.

Bergeraknya perekonomian warga ini antara lain didapatkan dari biaya pendaftaran pengunjung. Untuk pelaksanan Tao Silalahi Arts Festival (TSAF) ketiga di kabupaten Dairi, kata Ojak, setiap pengunjung dikutip biaya pendaftaran sebesar Rp 20 ribu per orang. Biaya ini sudah termasuk biaya lapak tenda, biaya parkir, dan toilet. Jika ditambah dengan aksesoris lain seperti stiker, PIN, totebag, atau kaos, maka dikenakan biaya tambahan. Biaya pendaftaran sebesar Rp 20 ribu ini juga berlaku pada pelaksanaan 1000 Tenda Kaldera Toba Festival di kabupaten Toba Samosir. Biaya pendaftaran sebesar Rp 20 ribu ini selanjutnya dibagi dua yakni 50 persen untuk operasional panitia dan 50 persen lagi untuk warga setempat.

Warga yang menerima pembagian biaya pendaftaran ini juga disesuikan dengan lokasi pelaksanaan. Kalau di TSAF, karena lokasi adalah camping ground yang sudah dikelola kelompok warga, maka pembagian biaya pendaftaran diserahkan kepada pengelola camping ground. Sedangkan di 1000 Tenda Kaldera Toba Festival, lokasinya di pinggir danau. Dengan demikian, pembagian biaya pendaftaran diserahkan kepada kas Desa Meat. Dengan jumlah pengunjung yang menghadiri TSAF ketiga sebanyak 7.230 orang dan 1000 Tenda Kaldera Toba Festival diperkirakan dihadiri 4.300 orang, maka pengelola camping ground di TSAF menerima Rp 36.150.000, sedangkan kas Desa Meat menerima sekitar Ro 21.500.000.

Bergeraknya perekonomian warga, kata Ojak, tidak hanya didapatkan dari biaya pendaftaran, tetapi juga perputaran uang yang terjadi selama pelaksanaan. Ojak mengambil contoh pelaksanaan 1000 Tenda Kaldera Toba Festival yang dilaksanakan selama tiga hari dua malam. Sedikitnya, setiap pengunjung dari Medan mengeluarkan biaya hingga Rp 600 ribu selama tiga hari. Rinciannya adalah biaya pendaftaran Rp 20 ribu, sewa tenda untuk tiga hari Rp 240 ribu, konsumsi selama tiga hari Rp 180 ribu dan transportasi Medan-Meat pergi pulang Rp 160 ribu. Angka Rp 600 ribu ini belum termasuk biaya snack atau membeli oleh-oleh. Ojak memperkirakan, sedikitnya uang yang berputar di Desa Meat berkisar Rp 1 hingga Rp 1,2 miliar.

“Bukan angka yang kecil dan angka itu hanya di Desa Meat saja ya. Warga setempat merasakan dampak langsung. Mereka bisa menyewakan tenda, menjual souvenir, ataupun menjual makanan,” kata Ojak.

Tak hanya itu, kata Ojak, pasca kegiatan 1000 Tenda Kaldera Toba Festival, Desa Meat pun semakin membuat penasaran banyak orang. “Dari pengamatan kami, sekarang ini, rata-rata lima hingga enam pengunjung setiap harinya sudah datang ke Desa Meat. Ada yang menikmati keindahan pinggiran Danau Toba dan ada yang kemping. Artinya apa? Event ini mampu menarik perhatian pengunjung untuk melihat Danau Toba,” katanya.

Tak hanya di Toba Samosir, di kabupaten Dairi, event TSAF juga berhasil menggerakkan perekonomian warga sekitar. Direktur TSAF, Hermanto Situngkir mengatakan, pasca pelaksanaan TSAF pertama tahun 2016, pengunjung yang datang berkemah ke beberapa camping ground di kecamatan Silalahi sudah mencapai ribuan. Ada empat lokasi camping ground di kecamatan Silalahi yakni di Pulau Silalahi Desa Silalahi III, Bukit Siadtar Atas Desa Silalahi III, Bukit Baha Desa Paropo, dan Air Terjun Siringo Desa Silalahi II. 

“Berdasarkan data yang kami punya, sekitar 1.200 hingga 1.500 pengunjung berkemah di camping ground Pulau Silalahi di Desa Silalahi III setiap minggunya. Sedangkan di Bukit Siadtar Atas di Desa Silalahi III, sekitar 500 pengunjung setiap minggunya. Retribusi untuk masuk ke camping ground hanya Rp 15 ribu per sepeda motor. Jadi kalau satu sepeda motor dinaiki dua orang, tetap bayar Rp 15 ribu,” kata Hermanto.

Kedatangan pengunjung yang mencapai ribuan orang setiap minggu ini, kata Hermanto, membuat masyarakat sekitar punya pendapatan tambahan. Tak sedikit warga yang membuka usaha penjualan makanan atau penyewaan tenda.

Tak hanya menggerakkan perekonomian, warga lokal di kecamatan Silalahi, kata Hermanto sudah merasa memiliki TSAF. Indikator kepemilikan ini, kata Hermanto, dilihat dari antusias warga yang menanyakan kepada panitia kapan lagi TSAF dilaksanakan. Tak semata-mata ingin mendapatkan keuntungan ekonomi melalui TSAF, warga merasa bahwa TSAF adalah salah satu kesempatan bagi mereka untuk menampilkan bakat dan kemampuan mereka dalam pengelolaan wisata serta seni dan budaya.

“Butuh waktu dua tahun agar warga memiliki TSAF ini. Di pelaksanaan pertama, warga belum antusias terhadap TSAF, lalu di pelaksanaan kedua warga mulai antusias. Kemudian di pelaksanaan TSAF ketiga, sesama warga mulai bertanya-tanya kapan TSAF diadakan lagi. Sedangkan untuk pelaksanaan TSAF keempat ini, warga sudah mendatangi langsung panitia dan bertanya kapan lagi dilaksanakan. Artinya apa? Warga sudah merasa bahwa TSAF ini tak sekadar event wisata, tapi juga TSAF sarana bagi warga untuk belajar melayani tamu, membuat dan menjual souvenir khas, ataupun berdagang makanan,” kata Hermanto.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved