Menjual Danau Toba Lewat 1000 Tenda

Tak hanya unik dan kreatif, 1000 Tenda pun mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar Danau Toba

Tayang:
Tribun Medan / Truly
Pengunjung 1000 Tenda Kaldera Toba Festival di Desa Meat, Kecamatan Tampahan, Kabupaten Toba Samosir, 28-30 Juni 2019. 

TRIBUN-MEDAN.com - Beragam cara dilakukan pemerintah pusat untuk menjual Danau Toba sebagai daerah tujuan wisata berkelas dunia dan menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia. Satu diantaranya dengan mencanangkan program Percepatan Pembangunan Destinasi Pariwisata Super Prioritas kepada Danau Toba, selain Candi Borobudur, Manado, Mandalika, dan Labuan bajo. Tapi sejak empat tahun lalu, komunitas lokal dan warga lokal di sekitar Danau Toba telah menjual Danau Toba dengan cara yang unik dan kreatif, 1000 Tenda. Tak hanya unik dan kreatif, 1000 Tenda pun mampu menggerakkan perekonomian warga di sekitar Danau Toba. Bagaimana ceritanya?

***

EVENT 1000 Tenda Kaldera Toba Festival di Desa Meat, kecamatan Tampahan, kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara sudah berlalu cukup lama, sekitar 1,5 bulan. Acara yang digelar tanggal  28-30 Juni 2019 tersebut begitu membekas bagi Jenny (37). Warga Simalingkar Medan ini, mengaku 1000 Tenda Kaldera Toba Festival lah yang membuatnya pernah tidur selama tiga hari dua malam di dalam sebuah tenda bersama suami dan kedua anaknya. Dirinya mengaku, sudah belasan kali mengunjungi Danau Toba baik dalam rangka pekerjaan atau berlibur bersama keluarga, tetapi baru di liburan akhir Juni lalulah dirinya untuk pertama sekali tidur di tenda.

“Waktu itu diajak teman sekantor. Katanya ada acara kemping di Desa Meat. Teman kantor bilang acaranya unik karena tidur di tenda dan ada acara pendukung seperti trip wisata dan pertunjukan budaya. Saya juga waktu itu belum tahu di mana itu Desa Meat dan kecamatan Tampahan. Kalau kabupaten Toba Samosir sering dengarlah,” kata Jenny kepada tribun-medan.com, awal Agustus lalu.

Penasaran dengan konsep acaraya dan ingin merasakan tidur di tenda, Jenny pun mengajak suami dan kedua anaknya ikut 1000 Tenda Kaldera Toba Festival. Kebetulan tanggal pelaksanaanya bersamaan dengan libur sekolah kedua anaknya. Jenny mendaftar secara online. Untuk empat orang, dirinya membayar biaya registrasi Rp 80 ribu atau Rp 20 ribu per orang. Dari Medan, mereka mencarter mobil bersama teman sekantornya yang juga ikut ke Desa Meat. “Kami hanya bawa badan sajalah. Untuk tenda, warga setempat sudah ada yang menyewakan, jadi saya sewa dari warga saja,” ujar Jenny.

Jenny mengaku dirinya tak menyesal mengikuti 1000 Tenda Kaldera Toba Festival. Meskipun berkonsep kemping, tetapi banyak kegiatan yang dilaksanakan selama tiga hari pelaksanaan 1000 Tenda Kaldera Toba Festival. Sebagai staf komunikasi sebuah organisasi non pemerintah di Medan, dirinya berkesempatan mengikuti pelatihan menulis yang dilaksanakan di hari kedua kegiatan. “Saya mendapat ilmu menulis dari penulis-penulis majalah Tempo yang terkemuka itu. Sebagai staf komunikasi yang pekerjaan utamanya menulis, pelatihan ini bermanfaat bagi saya,” kata Jenny.

Pengalaman yang sama juga disampaikan, Heri (21), warga kota Binjai, Sumatera Utara. Mahasiswa salah satu Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Binjai ini mengaku diajak teman kampusnya untuk ikut 1000 Tenda Kaldera Toba Festival. Heri mengaku, dirinya sudah beberapa kali berkemah bersama teman-temannya ke Bumi Perkemahan Sibolangit ataupun Gunung Sibayak. “Tapi penasaran juga, bagaimana rasanya kemping di tepi Danau Toba,” kata Heri.

Heri mengaku, dari seluruh rangkaian acara di 1000 Tenda Kaldera Toba Festival, dirinya tertarik untuk mengikuti berbagai diskusi yang menghadirkan banyak pembicara dari Sumatera Utara dan luar Sumatera Utara. “Topik diskusinya keren-keren seperti membahas masa depan industri kreatif, bagaimana masa depan di Danau Toba, dan milenial membangun desa. Yang saya paling berkesan adalah diskusi tentang anak muda yang memimpin Indonesia di tahun 2045. Ada Ryan Ernest yang jadi pembicara. Kebetulan saya mengidolakan beliau,” ujar Heri.

Terkesan dengan event 1000 Tenda Kaldera Toba Festival di Desa Meat, Jenny dan Heri pun meneguhkan hati untuk mengikuti event yang sama di Pulau Silalahi, kecamatan Silalahi, kabupaten Dairi, Sumatera Utara tanggal 6-8 September 2019. Tao Silalahi Arts Festival (TSAF) namanya. “Saya sudah mendaftar online dan transfer biaya pendaftarannya. Saya ambil paket Rp 30 ribu, sudah termasuk biaya daftar dan PIN,” kata Heri.

Meskipun tidak membawa embel-embel 1000 tenda di nama eventnya, Jenny dan Heri memastikan event tersebut punya sub acara 1000 tenda setelah melihat informasi event TASF di media sosial penyelenggara. “Saya sudah komunikasi dengan panitianya. Pengunjung tetap menggelar tenda di tepi danau,” lanjut Heri.

Pengunjung memasuki lokasi 1000 Tenda Kaldera Toba Festival di Desa Meat, kecamatan Tampahan, kabupaten Toba Samosir,28-30 Juni 2019.
Pengunjung memasuki lokasi 1000 Tenda Kaldera Toba Festival di Desa Meat, kecamatan Tampahan, kabupaten Toba Samosir,28-30 Juni 2019. (Tribun Medan / Truly)

Nuansa 1000 Tenda dan Libatkan Warga Lokal

EVENT 1000 Tenda Kaldera Toba Festival memang sukses menghipnotis para pegunjung untuk datang ke Desa Meat yang berjarak sekitar 250 kilometer dari kota Medan, Sumatera Utara, tak hanya Jenny dan Heri, tetapi ribuan orang lainnya. Di media sosial, event ini cukup viral dengan banyaknya postingan yang memuat informasi kegiatan tentang 1000 Tenda Kaldera Toba Festival.

Berdasarkan data panitia, sekitar 4.300 pengunjung dari seluruh Indonesia mendaftar ikut 1000 Tenda Kaldera Toba Festival dan datang ke Desa Meat. “Padahal ini baru event pertama. Tetapi sambutan masyarakat sangat luar biasa,” kata Direktur RKI, Ojak Manalu kepada tribun-medan.com, awal Agustus lalu.

Ojak mengatakan, 1000 Tenda Kaldera Toba Festival adalah sebuah event pariwisata yang digagas sebuah komunitas seni dan budaya dari kota Medan, Rumah Karya Indonesia (RKI). Dikatakannya selain event 1000 Tenda Kaldera Toba Festival di kabupaten Toba Samosir, RKI juga menggagas tiga event seni, budaya dan olahraga lainnya di beberapa kabupaten di sekitar Danau Toba. Di kabupaten Dairi ada Tao Silalahi Arts Festival (TASF) yang sudah memasuki penyelenggaraan keempat tanggal 6-8 September 2019.

Selanjutnya ada Lake Toba Film Festival (LTFF) di kabupaten Samosir. Tahun 2019 ini, penyelenggaraan LTFF akan dilaksanakan di Pantai Situngkir, kecamatan Pangururan, kabupaten Samosir tanggal 15-17 November 2019. Satu event lainnya adalah Geo Bike Kaldera Toba (GBKT) yang menggabungkan konsep seni, budaya dan olahraga. Tahun ini, event GBKT sudah memasuki penyelenggaraan keempat yang dilaksanakan tanggal 26-28 April 2019.

Ojak menjelaskan, dari empat kegiatan yang sudah dilaksanakan selama empat tahun terakhir, RKI memasukkan konsep 1000 tenda dalam pelaksanaannya. RKI, kata Ojak punya alasan kenapa memasukkan konsep 1000 tenda. Alasan pertama adalah aksesibilitas pengunjung ke Danau Toba yang masih terbatas dan kelompok milenial yang suka aktivitas berbau petualangan. Terkait aksesibilitas ini, kata Ojak, tingkat kemudahan pengunjung untuk mengakses fasilitas dan pelayanan di Danau Toba seperti penginapan tidaklah sama. Artinya jika pengunjung datang dalam jumlah besar, maka tenda dapat dimanfaatkan sebagai media istirahat.

Aktivitas pengunjung di 1000 Tenda Kaldera Toba Festival di Desa Meat, kecamatan Tampahan, kabupaten Toba Samosir,28-30 Juni 2019.
Aktivitas pengunjung di 1000 Tenda Kaldera Toba Festival di Desa Meat, kecamatan Tampahan, kabupaten Toba Samosir,28-30 Juni 2019. (Tribun Medan / Truly)

Sedangkan kelompok milenial, kata Ojak diyakini oleh RKI, merupakan kelompok penduduk yang sangat besar saat ini di Indonesia dan dekat dengan dunia digital. Kehadiran mereka dalam industri pariwisata sangat berpengaruh untuk mempromosikan tempat wisata yang mereka datangi di media sosial. “Keuangan mereka memang terbatas, tetapi pengaruh mereka begitu kuat. Sekarang kan milenial itu banyak yang berwisata dengan konsep backpacker. Karena itulah kami mengakomodir mereka dengan menghadirkan konsep tenda di event-event RKI. Kelompok milenial tadi pun tidak sekadar backpacker saja, tetapi juga ikut berpromosi di media sosial. Jadi efek dominonya begitu terasa,” terang Ojak.

Ojak mengatakan, di lapangan, konsep 1000 tenda ini juga disesuaikan dengan event-event yang dilaksanakan. Di 1000 Tenda Kaldera Toba Festival, tenda menjadi konsep utama dengan diiringi berbagai kegiatan pendukung seperti pertunjukan budaya, FGD, instalasi seni, trip wisata, pelatihan, kumpul komunitas, produk kreatif, pertunjukan musik, aksi bersih, dan fun games. Pengunjung pun leluasa untuk berkreasi di event tersebut dan bebas mengikuti kegiatan-kegiatan pendukung. Sedangkan di TSAF, 1000 tenda adalah kegiatan pendamping atau produk ikutan. “Sesuai namanya, arts festival, maka kegiatan senilah yang menjadi menu utama di TSAF, pengunjung memang tidak begitu leluasa bergerak dan hanya sebagai penikmat kegiatan-kegiatan seni dan budaya di TSAF,” ujar Ojak.

Konsep yang hampir sama juga berlaku untuk Lake Toba Film Festival (LTFF). Sesuai dengan namanya, event ini merupakan pertunjukan film yang dipadukan dengan kegiatan seni dan budaya seperti kongres film LTFF, cosplay, festival film pelajar LTFF, meet and greet the artist, bazaar, performing art dan 1000 tenda. “Tetap ada kegiatan 1000 tendanya. Jadi pengunjung dapat membawa tenda atau menyewa tenda serta memasang tenda di lokasi LTFF, Pantai Situngkir,” kata Ojak.

Sedangkan Geo Bike Kaldera Toba (GBKT), adalah event yang menggabungkan kegiatan olahraga, seni, dan budaya. Menu utama event ini adalah kegiatan olahraga (bersepeda) melwati beberapa geosite kaldera Toba di empat kabupaten yakni Simalungun, Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara, dan Toba Samosir. Sedangkan kegiatan pendukung diantaranya taritradisional, musik tradisional, screening film dan talkshow di geosite-geosite yang dijadikan titik pemberhentian.

“Konsep tenda dalam Geo Bike Kaldera Toba ini kami masukkan ketika peserta tiba di geosite. Kita bagikan tenda sebagai tempat istirahat,” ujar Ojak.

Sukses dengan pelaksanaan Geo Bike Kaldera Toba dan 1000 Tenda Kaldera Toba Festival, di tahun 2019 ini, RKI kembali menggelar Tao Silalahi Arts Festival (TASF) di Pulau Silalahi. Pihaknya optimistis, sambutan pengunjung terhadap event ini pun akan sama dengan pelaksanaan sebelumnya. “TASF ketiga kami selenggarakan di Desa Paropo, kabupaten Dairi dan dihadiri 7.230 pengunjung. Di TASF 2019 yang memasuki penyelenggaraan keempat ini, kami optimistis jumlahnya akan meningkat,” kata Ojak.

Meskipun digagas dan dikerjakan oleh komunitas RKI yang berasal dari kota Medan, namun pelaksanaan even-event seni dan budaya yang bernuansa 1000 tenda ini tetap melibatkan komunitas lokal dan warga lokal dalam kepanitiaannya. Untuk event TSAF tanggal 6-8 September mendatang di Desa Silalahi III, kecamatan Silalahi, sekitar 30-an warga lokal ikut masuk dalam kepanitiaan. Dari pengelola camping ground di kecamatan Silalahi mengikutsertakan 20 orang dan sisanya dari perwakilan Karang Taruna yang ada di lima desa di kecamatan Silalahi.

Menguatkan Sumber Daya Manusia (SDM) lokal dalam bidang pariwisata, kata Ojak, menjadi fokus RKI ketika melibatkan warga lokal. Dengan komposisi 60:40 di mana 60 persen panitia dari RKI dan 40 persen panitia dari warga lokal, diharapkan SDM warga lokal akan semakin baik dalam menjual Danau Toba dari daerahnya masing-masing mulai dari melayani tamu, membuat pertunjukan seni budaya hingga mengemas acara-acara pariwisata. Tak hanya sebagai panitia, warga lokal juga diajak untuk menunjukkan bakat dan kemampuannya dalam bentuk pertunjukan seni dan budaya.

“Penguatan SDM ini sudah membuahkan hasil di kabupaten Dairi. Selama tiga kali pelaksanaan TSAF, pihak RKI yang menjadi Direkturnya. Tapi di penyelenggaraan keempat bulan September nanti, warga setempat yang sudah menjadi Direkturnya. Namanya Hermanto Situngkir. Selama tiga penyelenggaraan TSAF sebelumnya, Hermanto memang sudah ikut dalam kepanitiaan, tapi tahun ini, beliau kami berikan kepercayaan penuh. Bukan tidak mungkin, di penyelenggaraan kelima dan keenam nanti, warga lokal yang akan secara penuh mengelola event TSAF ini,” ujar Ojak, bangga.

Ojak menegaskan, mereka perlu melibatkan warga lokal karena sejatinya warga lokallah yang menjadi “pemilik” Danau Toba dan mereka diharapkan dapat menjual Danau Toba sebagai destinasi wisata yang layak dikunjungi. Jika pengunjung banyak yang datang, perekonomian warga lokal pun ikut berkembang. Namun yang terjadi selama ini, kata Ojak, pengembangan Danau Toba cenderung mengabaikan peran warga lokal. Warga lokal hanya sebatas penonton saja.

“Ada banyak diskusi ataupun seminar yang dilakukan berbagai pihak terkait pengembangan Danau Toba. Tapi bagaimana mengaplikasikan hasil diskusi atau seminar ini menjadi nyata dengan melibatkan warga lokal belumlah maksimal. Kalau program dari pusat bagus, tetapi rakyat di bawah hanya melihat-lihat saja, sangat disayangkan tentunya. Inilah salah satu tujuan kami dengan melibatkan komunitas lokal dan warga lokal dalam event-event RKI. Intinya bagaimana warga di daerah jangan jadi penonton atau sekadar tukang parkir. Sebaliknya, warga lokal harus mampu menjadi pelaku wisata, mampu menjadi penata arsitistik pertunjukan seni dan budaya, pendamping wisatawan atau mendesain sebuah kegiatan seni dan budaya,” terang Ojak.

Menggelar berbagai event seni dan budaya di beberapa kabupaten sekitar Danau Toba, Ojak mengakui, sambutan pemerintah kabupaten di sekitar Danau Toba  cukup baik. Di tahun awal pelaksanaan (2016) memang belum ada sambutan, tapi tahun ketiga dan keempat, pemerintah kabupaten sudah bekerjasama dengan RKI. Pelaksanaan TSAF bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Dairi, LTFF bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Samosir dan Pusat Pengembangan Film Kemendikbud, GBKT bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Sumut, dan 1000 Tenda Kaldera Toba Festival bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Toba Samosir. Kerjasama dengan pemerintah kabupaten di daerah, kata Ojak, belum dalam bentuk dukungan anggaran, karena memang belum dianggarkan. Kebanyakan dukungan datang dalam bentuk fisik seperti panggung, genset, mobil kebersihan, dan lain-lain.

Menariknya, kata Ojak, event TASF di Kabupaten Dairi sudah masuk dalam kalender event Badan  Otorita Danau Toba (BODT). Tapi meskipun sudah jadi event tetap, dukungan dana masih minim hingga pelaksanaan yang keempat. “Pihak RKI dan komunitas lokal di Kabupaten Dairi pun sudah audiensi dengan Bupati Dairi. Tapi begitulah, menurut mereka belum dianggarkan. Padahal menurut kami, event TASF ini adalah event yang tidak kecil. Lebih dari 7.000 pengunjung datang TSAF ketiga dan mereka bayar Rp 20 ribu per orang. Artinya, event TSAF memang menarik sehingga pengunjung tetap datang walaupun berbayar,” kata Ojak.

Beda di kabupaten Dairi, beda lagi di kabupaten Toba Samosir. Tuan rumah 1000 Tenda Kaldera Toba Festival ini, kata Ojak, menerima dengan baik event pertama ini. Pemerintah kabupaten Toba Samosir pun menjanjikan bantuan dana untuk penyelenggaran kedua tahun depan. “Waktu itu ketemu Pak Sekda, sudah janji dianggarkan tahun. Kami lihatlah untuk tahun depan,” kata Ojak.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Tobasa, Audy Murphy Sitorus mengatakan, pihaknya mengapresiasi pelaksanaan 1000 Tenda Kaldera Toba Festival yang dilaksanakan di wilayah Toba Samosir. Menurut Audy, event ini memotivasi para generasi muda untuk mengenal potensi kearifan lokal dan Danau Toba. Para peserta yang datang ke Desa Meat tidak hanya menikmati keindahan Danau Toba dan alam sekitar, tetapi juga ikut menyaksikan pertunjukan seni dan budaya. “Kegiatan ini mengajak peserta dan memberitahukan kepada pihak luas, bahwa Danau Toba tidak hanya indah, tetapi daerah sekitar Danau Toba juga kaya akan kekayaan alam dan kearifan lokal. Dengan demikian, diharapkan semua pihak dapat menjaga Danau Toba,” kata Audi kepada tribun-medan.com.

Tak hanya memotivasi generasi muda, Audy menyebut, warga Desa Meat juga merasakan manfaat dari pelaksanaan 1000 Tenda Kaldera Toba Festival. Perekonomian warga berputar dengan banyaknya kebutuhan pengunjung yang dapat diakomodasi warga dan dijual ke pengunjung. “Bahkan setengah biaya pendaftaran masuk ke kas desa, kan? Jadi menurut kami event ini sangat bagus,” ujar Audy.

Pasca event ini, kata Audy, keberadaan Desa Meat juga telah menjadi perhatian pemerintah pusat melalui kementerian terkait seperti Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Maritim. “Kami baru rapat dengan pihak Kementerian Maritim. Desa Meat sudah masuk menjadi prioritas pengembangan pariwisata. Sudah ada investor yang berminat berinvestasi dalam bentuk pembangunan infrastruktur seperti jalan. Kita tunggulah perkembangannya,” kata Audy.

Audy menambahkan, mengingat sambutan masyarakat yang begitu baik terhadap event 1000 Tenda Kaldera Toba Festival, ke depannya, pihaknya akan merangkul komunitas-komunitas lokal di Toba Samosir untuk membuat event-event seperti ini.

Gerakkan Perekonomian Warga

DIREKTUR RKI, Ojak Manalu mengatakan, pelaksanaan event seni dan budaya berkonsep 1000 tenda yang digagas RKI bersama komunitas lokal dan warga lokal di beberapa kabupaten di sekitar Danau Toba tak hanya berhasil menjual Danau Toba dengan datangnya ribuan pengunjung. Tetapi lebih dari itu, event-event seni dan budaya ini berhasil menggerakkan perekonomian warga di sekitar Danau Toba.

Bergeraknya perekonomian warga ini antara lain didapatkan dari biaya pendaftaran pengunjung. Untuk pelaksanan Tao Silalahi Arts Festival (TSAF) ketiga di kabupaten Dairi, kata Ojak, setiap pengunjung dikutip biaya pendaftaran sebesar Rp 20 ribu per orang. Biaya ini sudah termasuk biaya lapak tenda, biaya parkir, dan toilet. Jika ditambah dengan aksesoris lain seperti stiker, PIN, totebag, atau kaos, maka dikenakan biaya tambahan. Biaya pendaftaran sebesar Rp 20 ribu ini juga berlaku pada pelaksanaan 1000 Tenda Kaldera Toba Festival di kabupaten Toba Samosir. Biaya pendaftaran sebesar Rp 20 ribu ini selanjutnya dibagi dua yakni 50 persen untuk operasional panitia dan 50 persen lagi untuk warga setempat.

Warga yang menerima pembagian biaya pendaftaran ini juga disesuikan dengan lokasi pelaksanaan. Kalau di TSAF, karena lokasi adalah camping ground yang sudah dikelola kelompok warga, maka pembagian biaya pendaftaran diserahkan kepada pengelola camping ground. Sedangkan di 1000 Tenda Kaldera Toba Festival, lokasinya di pinggir danau. Dengan demikian, pembagian biaya pendaftaran diserahkan kepada kas Desa Meat. Dengan jumlah pengunjung yang menghadiri TSAF ketiga sebanyak 7.230 orang dan 1000 Tenda Kaldera Toba Festival diperkirakan dihadiri 4.300 orang, maka pengelola camping ground di TSAF menerima Rp 36.150.000, sedangkan kas Desa Meat menerima sekitar Ro 21.500.000.

Bergeraknya perekonomian warga, kata Ojak, tidak hanya didapatkan dari biaya pendaftaran, tetapi juga perputaran uang yang terjadi selama pelaksanaan. Ojak mengambil contoh pelaksanaan 1000 Tenda Kaldera Toba Festival yang dilaksanakan selama tiga hari dua malam. Sedikitnya, setiap pengunjung dari Medan mengeluarkan biaya hingga Rp 600 ribu selama tiga hari. Rinciannya adalah biaya pendaftaran Rp 20 ribu, sewa tenda untuk tiga hari Rp 240 ribu, konsumsi selama tiga hari Rp 180 ribu dan transportasi Medan-Meat pergi pulang Rp 160 ribu. Angka Rp 600 ribu ini belum termasuk biaya snack atau membeli oleh-oleh. Ojak memperkirakan, sedikitnya uang yang berputar di Desa Meat berkisar Rp 1 hingga Rp 1,2 miliar.

“Bukan angka yang kecil dan angka itu hanya di Desa Meat saja ya. Warga setempat merasakan dampak langsung. Mereka bisa menyewakan tenda, menjual souvenir, ataupun menjual makanan,” kata Ojak.

Tak hanya itu, kata Ojak, pasca kegiatan 1000 Tenda Kaldera Toba Festival, Desa Meat pun semakin membuat penasaran banyak orang. “Dari pengamatan kami, sekarang ini, rata-rata lima hingga enam pengunjung setiap harinya sudah datang ke Desa Meat. Ada yang menikmati keindahan pinggiran Danau Toba dan ada yang kemping. Artinya apa? Event ini mampu menarik perhatian pengunjung untuk melihat Danau Toba,” katanya.

Tak hanya di Toba Samosir, di kabupaten Dairi, event TSAF juga berhasil menggerakkan perekonomian warga sekitar. Direktur TSAF, Hermanto Situngkir mengatakan, pasca pelaksanaan TSAF pertama tahun 2016, pengunjung yang datang berkemah ke beberapa camping ground di kecamatan Silalahi sudah mencapai ribuan. Ada empat lokasi camping ground di kecamatan Silalahi yakni di Pulau Silalahi Desa Silalahi III, Bukit Siadtar Atas Desa Silalahi III, Bukit Baha Desa Paropo, dan Air Terjun Siringo Desa Silalahi II. 

“Berdasarkan data yang kami punya, sekitar 1.200 hingga 1.500 pengunjung berkemah di camping ground Pulau Silalahi di Desa Silalahi III setiap minggunya. Sedangkan di Bukit Siadtar Atas di Desa Silalahi III, sekitar 500 pengunjung setiap minggunya. Retribusi untuk masuk ke camping ground hanya Rp 15 ribu per sepeda motor. Jadi kalau satu sepeda motor dinaiki dua orang, tetap bayar Rp 15 ribu,” kata Hermanto.

Kedatangan pengunjung yang mencapai ribuan orang setiap minggu ini, kata Hermanto, membuat masyarakat sekitar punya pendapatan tambahan. Tak sedikit warga yang membuka usaha penjualan makanan atau penyewaan tenda.

Tak hanya menggerakkan perekonomian, warga lokal di kecamatan Silalahi, kata Hermanto sudah merasa memiliki TSAF. Indikator kepemilikan ini, kata Hermanto, dilihat dari antusias warga yang menanyakan kepada panitia kapan lagi TSAF dilaksanakan. Tak semata-mata ingin mendapatkan keuntungan ekonomi melalui TSAF, warga merasa bahwa TSAF adalah salah satu kesempatan bagi mereka untuk menampilkan bakat dan kemampuan mereka dalam pengelolaan wisata serta seni dan budaya.

“Butuh waktu dua tahun agar warga memiliki TSAF ini. Di pelaksanaan pertama, warga belum antusias terhadap TSAF, lalu di pelaksanaan kedua warga mulai antusias. Kemudian di pelaksanaan TSAF ketiga, sesama warga mulai bertanya-tanya kapan TSAF diadakan lagi. Sedangkan untuk pelaksanaan TSAF keempat ini, warga sudah mendatangi langsung panitia dan bertanya kapan lagi dilaksanakan. Artinya apa? Warga sudah merasa bahwa TSAF ini tak sekadar event wisata, tapi juga TSAF sarana bagi warga untuk belajar melayani tamu, membuat dan menjual souvenir khas, ataupun berdagang makanan,” kata Hermanto.

Ojak Manalu mengatakan, melihat efek positif yang dihadirkan 1000 tenda di event seni dan budaya di sekitar Danau Toba, pihaknya berharap pemerintah melakukan pembangunan pariwisata di Danau Toba secara simultan dengan melibatkan kelompok paling bawah yakni warga lokal dan komunitas-komunitas lokal. Selama ini, katanya pembangunan pariwisata selalu lebih banyak dari level atas, tapi lupa mengembangkan SDM warga lokal di level bawah. Di sisi lain, pembangunan pariwisata secara simultan dengan melibatkan komunitas lokal dan warga lokal ini, kata Ojak, semakin penting dan mendesak dilakukan apalagi Danau Toba juga ditetapkan sebagai destinasi wisata super prioritas oleh pemerintah.

“Event-event seni dan budaya yang kami laksanakan selama ini selalu berkerja sama dengan komunitas lokal dan warga lokal sejak dari perencanaan hingga pelaksanaan selesai. Hasilnya? Pengunjung yang datang membeludak. Artinya, jika diberdayakan dan didampingi secara berkelanjutan, warga lokal sebenarnya bisa menjadi “penjual” Danau Toba yang efektif dan strategis. Padahal itu masih di beberapa desa. Padahal desa di sekitar Danau Toba ada ribuan,” kata Ojak Manalu.

Ojak menambahkan, di luar keberhasilan even seni dan budaya berkonsep 1000 tenda yang telah dilaksanakan di beberapa daerah di sekitar Danau Toba, pihaknya juga mempunyai catatan khusus untuk diperbaiki di pelaksanaan berikutnya. Catatan tersebut adalah keberadaan sanitasi yang belum maksimal dan komitmen pengunjung untuk menjaga lingkungan. “Mendatangkan pengunjung hingga 7.000 orang tentulah butuh sanitasi yang tidak sedikit. Ini jadi catatan penting. Selain itu, kami juga berupaya agar kehadiran pengunjung tidak membuat lingkungan tidak rusak, tetapi sebaliknya, pengunjung semakin tinggi kesadarannya untuk menjaga lingkungan. Semoga di event berikutnya, catatan-catatatan ini berhasil diperbaiki,” pungkas Ojak.(*)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved