Terdakwa Kasus Kredit Fiktif Rp23,5 Miliar BRI Agroniaga Memohon ke Jaksa Penuntut

"Saya enggak ada nikmati Rp19 miliar itu, yang lainnya mungkin yang nikmati, masyarakat sana," kata Mulyono.

Terdakwa Kasus Kredit Fiktif Rp23,5 Miliar BRI Agroniaga Memohon ke Jaksa Penuntut
Tribun Medan/Victory Arrival Hutauruk
Sidang lanjutan kasus korupsi kredit fiktif BRI Agroniaga Cabang Rantauprapat Rp 23,5 miliar beragendakan keterangan terdakwa di PN Medan, Jumat (16/5/2019). 

"Aku mohon sekali JPU mempertimbangkan keterangan saksi-saksi dalam menuntut saya nantinya," ungkapnya.

Setelah persidangan, Jaksa Adline mengungkapkan bahwa apa yang dikatakan terdakwa tidak menikmati uang 19 Miliar adalah tidak benar.

"Dia itu dari buat agunan dari 40 pekerjanya, ada yang tukang dodos, ada tukang air kelapa, tukang jaga malam, yang buta huruf. Bahkan yang buta huruf itu punya lima sertifikat, jadi dia ini buatkan urus semuanya. Jadi 12 sertifikat itu bermasalah karena lokasi tidak ditemukan, adtunya sertifkat palsu. Jadi yang 19 miliar belum terhitung-hutang," tegasnya.

Dakwaan Jaksa

Dalam dakwan jaksa disebutkan Mulyono bersama Kukuh Apra Edi selaku Pimpinan Cabang BRI Agroniaga Rantauprapat periode Maret-Desember 2013 dan Wan Muharammis selaku Pimpinan Cabang BRI Agroniaga Rantauprapat periode Desember 2013-April 2015, melakukan tindakan korupsi.

"Bermula dari temuan hasil pemeriksaan Satuan Kerja Audit Internal (SKAI) BRI Agroniaga Pusat pada tahun 2014 terhadap BRI Agroniaga Cabang Rantauprapat ditemukan adanya hubungan antara beberapa orang debitur dalam pengajuan kredit yang menjadi indikasi penggunaan nama-nama orang lain dalam pengajuan kredit oleh satu orang," urai JPU beberapa waktu lalu.

Kemudian Divisi Bisnis Ritel Dan Konsumen BRI Agroniaga lalu mencabut kewenangan memutus kredit Wan Muharammis pada 2014 serta dilakukan audit khusus sehingga masalah terlihat semakin jelas ditemukan dan kolektibilitas kredit terdakwa Mulyono dan debitur-debitur yang terindikasi mulai menurun.

"Berdasarkan temuan audit rutin tersebut, maka SKAI BRI Agroniaga melakukan audit pada bulan Desember 2014 dengan hasil temuan beberapa dokumen yang diragukan keabsahannya dan ada 40 debitur yang berhubungan dengan terdakwa Mulyono dimana kepemilikan jaminan berupa SHM yang satu sama lain berkaitan dan nama-nama di trade checking ada menyebut nama terdakwa Mulyono," ungkap JPU.

Jaksa menjelaskan, terdakwa Mulyono ternyata menggunakan nama orang lain dalam pengajuan proses kredit ke BRI Agroniaga dengan cara meminjam KTP suami-istri, kartu keluarga dan buku nikah milik para debitur yang kebanyakan merupakan karyawan ataupun keluarga karyawan yang bekerja untuk terdakwa Mulyono.

"Mulyono kemudian menyerahkan KTP suami-istri, KK dan buku nikah milik para debitur tersebut kepada Riki Yanan Nasution yang merupakan Account Officer (AO) di BRI Agroniaga Kantor Cabang Rantauprapat," kata JPU.

Halaman
123
Penulis: Victory Arrival Hutauruk
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved