Menapak Jejak Sejarah Perjuangan Merebut Kemerdekaan di Sumatera Utara

Dengan keberaniannya Gubernur Sumatera Muhammad Hasan pada 6 Oktober 1945 memproklamirkan kemerdekaan.

Menapak Jejak Sejarah Perjuangan Merebut Kemerdekaan di Sumatera Utara
Tribun Medan/Gita Nadia Tarigan
Rangkaian kegiatan memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia ke 74, yang dilaksanakan oleh Alliance Francaise Medan dan Museum Negeri Sumatera Utara (Sumut) yang digelar di Museum Negeri Sumut, Jalan HM. Joni Nomor 51, Teladan Baru. 

TRIBUN-MEDAN.com - Memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia ke 74, Alliance Francaise Medan berkerjasama dengan Museum Negeri Sumatera Utara (Sumut) adakan tour museum dan seminar gratis bertajuk Rekam Jejak Sejarah Perjuangan di Sumatera Utara yang digelar di Museum Negeri Sumut, Jalan HM. Joni Nomor 51, Teladan Baru, Sabtu (17/8/2019).

Puluhan peserta yang terdiri dari komunitas, anak SMA, guru, serta masyarakat umum terlihat antusias mengikuti serangkaian acara. Saat melaksanakan tur museum peserta dibagi menjadi beberapa kelompok dan disediakan pemandu yang menjelaskan tentang barang barang sejarah.

Barang peninggalan zaman Prasejarah hingga reformasi dijelaskan secara terperinci oleh sang pemandu, beberapa peserta mengaku baru pertama kali memasuki museum negeri meski sudah puluhan tahun tinggal di Medan.

Perwakilan museum, Sumarni Ginting membawakan seminar dengan tema Rekam Jejak Sejarah Perjuangan di Sumatera Utara. Baginya mengingat kemerdekaan RI haruslah mengingat bagaimana perjuangan para tokoh Sumatera Utara memproklamasikan kemerdekaan.

"Kita dijajah belanda 350 tahun dan Jepang 3.5 tahun, kalau kita dengar dari orang tua, bagi mereka 3,5 tahun itu terasa sangat berat dilewati, apalagi Sumatera Utara terlambat mendapat informasi kemerdekaan, Ya kemerdekaan itu memang didengar, tapi di Medan masih terjadi berbagai pergolakan, meski demikian dengan keberaniannya Gubernur Sumatera Muhammad Hasan pada 6 Oktober 1945 memproklamirkan kemerdekaan, dan 9 Oktober 1945 nama Fukuraido berubah menjadi Lapangan Merdeka," katanya.

Rangkaian kegiatan memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia ke 74, yang dilaksanakan oleh Alliance Francaise Medan dan Museum Negeri Sumatera Utara (Sumut) yang digelar di Museum Negeri Sumut, Jalan HM. Joni Nomor 51, Teladan Baru.
Rangkaian kegiatan memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia ke 74, yang dilaksanakan oleh Alliance Francaise Medan dan Museum Negeri Sumatera Utara (Sumut) yang digelar di Museum Negeri Sumut, Jalan HM. Joni Nomor 51, Teladan Baru. (Tribun Medan/Gita Nadia Tarigan)

Ia menjelaskan bahwa Medan memiliki banyak peristiwa bersejarah yang patut dikenang bersama. Seperti pada tanggal 6 Oktober 1945 rapat raksasa di lapangan Fukuraido sekaligus mengumumkan berita proklamasi 17 Agustus 1945 ke seluruh masyarakat di Sumatera Utara dibuka oleh Ketua BPI Soegondo Kurtoprojo dan Mr. M. Hasan membacakan teks Proklamasi. Upacara penaikan Bendera Merah Putih kala itu juga diringi lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Lebih lanjut Ia menceritakan pasca diproklamasikannya kemerdekaan di Medan, masyarakat berbondong-bondong membuat pawai raksasa dengan membawa spanduk kemerdekaan sambil mengelilingi kota Medan.

"Tanggal 9 Oktober 1945, sekutu mendarat di Belawan dan di atas kapal tersebut dilangsungkan perundingan serah terima kekuasaan antara Jepang dengan sekutu dari pihak Jepang diwakili Jenderal Sawamura menyerahkan daerah Sumatera Timur, Tapanuli dan Aceh kepada sekutu yang diwakili oleh Brigader Jenderal Ted Kelly, rombongan tentara sekutu kurang lebih 800 orang terdiri dari bangsa Inggris, India Sheik. India Muslim dan Gurkha turut membonceng tentara Belanda yang menjajah kembali Bumi Indonesia," katanya bercerita.

Meski demikian lanjutnya, sesampainya di Medan rombongan disambut Letnan Brongest, dan tanggal 10 Oktober 1945 terjadi demonstrasi besar-besaran dan pawai raksasa untuk meyakinkan sekutu bahwa rakyat Indonesia ingin merdeka. Arakan besar terdiri dari lapisan masyarakat dari dalam dan luar kota Medan
panjang arakan kurang lebih 5 Km melalui jalan raya dan berpusat di Lapangan Merdeka dengan
spanduk Right or Wrong Is My Country.

"Maksud pawai ini adalah menegaskan kepada tentara Inggris bahwa Indonesia sudah Merdeka dan menolak siapapun yang mau menguasai atau menjajah kembali.

Ia berharap agar para guru Sejarah jika menjelaskan tentang kemerdekaan, juga harus mencari tahu bagaimana proses kemerdekaan di wilayah masing-masing berlangsung agar informasi yang disampaikan kaya dan beragam, selain itu para murid akan lebih mengenal jati dirinya sebagai putra dan putri daerah.

"Banyak sekali peristiwa-peristiwa bersejarah di Sumatera Utara yang kerap luput dari penjelasan kita, seperti peristiwa berdarah 13 Desember di Tebingtinggi, 15 Oktober peristiwa Siantar Hotel, penyerangan di Tanjung Morawa 24 Juli 1947, dan masih banyak peristiwa heroik lainnya," katanya.

Perwakilan Alliance Fran¢aise Medan, Yessi Nahampuan, mengatakan kegiatan ini dilaksanakan oleh Alliance Francaise Medan berkerjasama dengan Museum Negeri Sumatera Utara (Sumut) guna memperingati hari kemerdekaan Indonesia.

"Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan nilai-nilai edukasi sejarah Indonesia, terutama memahami sejarah perjuangan di Sumatera Utara," katanya.

(cr21/tribun-medan.com)

Penulis: Gita Nadia Putri br Tarigan
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved