Menilik Gaya Hidup Sehat Perkotaan, Bercocok Tanam Organik di Lahan Sempit
Henry juga memanfaatkan sampah rumah tangga untuk tanaman-tanamannya. Seperti menggunakan air cucian beras sebagai pupuk.
Penulis: Septrina Ayu Simanjorang |
TRIBUN-MEDAN.com,MEDAN-Gaya hidup sehat mulai menjadi gaya hidup masyarakat perkotaan saat ini.
Gaya hidup ini diwujudkan salah satunya dengan mengkonsumsi sayuran organik.
Sayuran organik ini biasanya dibandrol dengan harga yang lebih mahal ketimbang sayuran lain pada umumnya.
Henry Damanik menjadi seorang petani di daerah perkotaan yang mencoba bercocok tanam sayuran organik ini.
"Ada banyak kelebihan sayur organik. Selain sehat, sayur organik memiliki rasa yang berbeda dari pada sayur umumnya. Rasanya lebih manis dan crunchy saat digigit," ujarnya , Senin (19/8/2019).
Sayuran yang ia tanam beragam mulai dari pakcoy, bayam, sawi, dan kangkung. Ia memulai menanam sayur organik karena kegelisahannya melihat beberapa temannya tidak bisa memakan makanan yang mengandung bahan kimia.
"Karena saya bukan dokter, saya tolonglah dia dengan memberikan tanaman organik. Saya coba menanam di polibag di pekarangan rumah. Sekarang saya bersama teman-teman sudah kelola satu lahan di daerah Simalingkar untuk menanam sayuran ini," jelasnya.
Ia menyadari kesadaran masyarakat kota juga semakin tinggi dengan makanan-makanan organik. Hal ini terlihat dengan maraknya penjualan-penjualan sayuran organik di mal-mal.
"Cuma kalau di mal harganya sudah lebih mahal. Pasar kita sih secara online dan langsung antar ke pelanggan seperti rumah dan kampus. Beberapa kali sayuran kita, kita jual langsung ke salah satu rumah sakit di Kota Medan," jelasnya.
Ia mengatakan kendala yang dihadapinya dalam bertanam oraganik adalah banyaknya komplain karena sayuran yang dihasilkan tidak terlalu mulus. Terlebih sayuran bayam yang sangat rentan terhadap kutu putih.
"Kami lebih mencoba mensosialisasikan kepada masyarakat. Tentu hasilnya akan berbeda dengan sayuran yang ditanam menggunakan zat kimia. Walaupun memang perlu waktu yang begitu lama dalam menyadarkan masyarakat mengenai hal ini," katanya.
Ia menanam sayuran organik di atas lahan 20 meter x 40 meter. Meski jangka waktu panen setiap jenis sayuran berbeda, Henry melakukan penanaman berjangka agar bisa panen hampir setiap hari.
"Kalau pakcoy seminggu bisa panen, sayur lainnya bisa 10 sampai 14 hari. Harga pakcoy saya jual Rp 10 ribu per 250 gram. Sedangkan sayuran lainnya Rp 7 ribu per 250 gram," jelasnya.
Satu kali panen dalam satu lahan ia bisa mendapatkan omzet Rp 300 hingga 400 ribu. Ia mengatakan sayur organik ini hanya salah satu cara untuk mengajak budaya hidup sehat.
"Dari sayur organik ini kita mau sebar budaya sehat lainnya. Misalnya sekarang kita sudah ekspansi menanam cabai merah," jelasnya.
Henry juga memanfaatkan sampah rumah tangga untuk tanaman-tanamannya. Seperti menggunakan air cucian beras sebagai pupuk.
"Ke depannya saya juga akan mencoba membuat pupuk dari sampah rumah tangga lainnya. Karena banyaknya sampah saat ini seperti di pasar-pasar itu sangat memprihatikan. Alangkah bagus jika bisa dimanfaatkan," pungkasnya.
(cr18/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/henry-damanik-saat-di-lahan-miliknya-di-daerah-simalingkar.jpg)