Menilik Gaya Hidup Sehat Perkotaan, Bercocok Tanam Organik di Lahan Sempit

Henry juga memanfaatkan sampah rumah tangga untuk tanaman-tanamannya. Seperti menggunakan air cucian beras sebagai pupuk.

Menilik Gaya Hidup Sehat Perkotaan, Bercocok Tanam Organik di Lahan Sempit
TRIBUN MEDAN/SEPTRIANA AYU SIMANJORANG
Henry Damanik saat berada di lahan miliknya di daerah Simalingkar. Henry menjadi seorang petani di daerah perkotaan yang mencoba bercocok tanam sayuran organik. 

"Kami lebih mencoba mensosialisasikan kepada masyarakat. Tentu hasilnya akan berbeda dengan sayuran yang ditanam menggunakan zat kimia. Walaupun memang perlu waktu yang begitu lama dalam menyadarkan masyarakat mengenai hal ini," katanya.

Ia menanam sayuran organik di atas lahan 20 meter x 40 meter. Meski jangka waktu panen setiap jenis sayuran berbeda, Henry melakukan penanaman berjangka agar bisa panen hampir setiap hari.

"Kalau pakcoy seminggu bisa panen, sayur lainnya bisa 10 sampai 14 hari. Harga pakcoy saya jual Rp 10 ribu per 250 gram. Sedangkan sayuran lainnya Rp 7 ribu per 250 gram," jelasnya.

Satu kali panen dalam satu lahan ia bisa mendapatkan omzet Rp 300 hingga 400 ribu. Ia mengatakan sayur organik ini hanya salah satu cara untuk mengajak budaya hidup sehat.

"Dari sayur organik ini kita mau sebar budaya sehat lainnya. Misalnya sekarang kita sudah ekspansi menanam cabai merah," jelasnya.

Henry juga memanfaatkan sampah rumah tangga untuk tanaman-tanamannya. Seperti menggunakan air cucian beras sebagai pupuk.

"Ke depannya saya juga akan mencoba membuat pupuk dari sampah rumah tangga lainnya. Karena banyaknya sampah saat ini seperti di pasar-pasar itu sangat memprihatikan. Alangkah bagus jika bisa dimanfaatkan," pungkasnya.

(cr18/tribun-medan.com)

Penulis: Septrina Ayu Simanjorang
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved