Merawat Kebudayaan Sumut Melalui Seni Lukis, Dewan Kesenian Gelar Pameran

Mangatas Pasaribu terlihat semangat mengatur letak beberapa lukisan, tanpa ragu Mangatas mengambil martil dan membenarkan letak lukisan.

Merawat Kebudayaan Sumut Melalui Seni Lukis, Dewan Kesenian Gelar Pameran
TRIBUN MEDAN/GITA NADIA PUTRI br TARIGAN
Para pengunjung menikmati Pameran Seni Lukis Sumatera Utara dengan tema Maharddhika di Taman Budaya Provinsi Sumatera Utara, Jalan Perintis Kemerdekaan Nomor 33, Senin (19/8/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com - Masih dalam suasana perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia, Dewan Kesenian Sumatera Utara menggelar Pameran Seni Lukis Sumatera Utara dengan tema Maharddhika di Taman Budaya Provinsi Sumatera Utara, Jalan Perintis Kemerdekaan Nomor 33, Senin (19/8/2019).

Saat disambangi Tribun Medan, Sang Kurator, Mangatas Pasaribu terlihat semangat mengatur letak beberapa lukisan, tanpa ragu Mangatas mengambil martil dan membenarkan letak lukisan. Puluhan lukisan berwarna warni terlihat apik dan tertata.

Mangatas mengatakan Maharddhika berati bebas atau merdeka, selain sebagai perayaan kemerdekaan, tema pameran kali ini katanya sebagai refleksi terhadap semakin maraknya kasus intoleransi yang terjadi.

"Seni adalah kegiatan rohani manusia yang merefleksikan kenyataan dengan bebas tanpa beban dalam suatu karya, yang berkat bentuk dan isinya mempunyai daya untuk membangkitkan rasa pengalaman tertentu dalam alam rohani penikmatnya," katanya

Terdapat 34 lukisan yang dipamerkan dalam acara ini, Mangatas mengatakan lukisan tersebut berasal dari para seniman Sumatera Utara yang mengambil tema-tema tantang kebudayaan di Sumatera Utara.

"Kita kumpulkan karya seniman dari puluhan Kabupaten Kota, Ada pelukis Medan, Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Karo, Tanjung Balai, Langkat, Tebing Tinggi, Siantar, Asahan, Sibolga, dan Simalungun," katanya.

Ia mengatakan dengan semangat dan kemerdekaan dalam berkarya tercipta berbagai warna dalam lukisan, baik itu dalam bentuk gaya maupun tema. Kemerdekaan katanya menunjukkan
kebebasan, kebebasan berpikir dan kebebasan bersikap oleh pelukis untuk
mewujudkan imajinasinya, dengan tujuan untuk memberi perasaan yang indah dan menyenangkan.

"Seniman peka akan suasana keseharian. Aktivitas melihat lingkungan dan alam sekitar dapat berlanjut menjadi memandang sebagai upaya untuk memberi makna atas apa yang dilihat, tanpa beban dalam bentuk karya lukis," katanya.

Seniman Sumut Teradim Sitepu, juga ikut memamerkan satu karyanya yang bercerita tentang tradisi dan kebudayaan suku Karo berjudul mulahi kahul, Ia menjelaskan bahwa tradisi ini merupakan suatu upacara penolak bala, namun tradisi tersebut kini sangat jarang dijumpai bahkan mungkin sudah ditinggalkan masyarakat suku Karo.

"Kalau misalnya ada kejadian buruk, atau dikeluarga ada penyakit dan lainnya, ditanyaklah dukun atau disebut guru simbelin, maka dibuaylah suatu acara agar bencana tersebut tidak terjadi," katanya.

Beberapa lukisan juga menggambarkan berbagai tradisi yang sudah ditinggalkan seperti lukisan karya Recka berjudul Sudah Sirna bergambar dodol yang awalnya terang namun semakin memudar yang mengartikan zaman sekarang makanan tersebut sudah tidak diminati.

Terdapat juga karya lainnya seperti Khaerul Saleh dengan Judul Tetap Kucari, Anita Br Sembiring berjudul Nande Biring, Imam Gunari berjudul Lebaran Tiba, Sartika Sinaga berjudul Denge Simudur Udur, Siti Yuli Hardianti berjudul Siantar Kota Toleran dan masih banyak lagi.

"Pameran ini akan berlangsung sampai tanggal 21 Agustus 2019, terbuka untuk umum dan pastinya gratis, para pengunjung juga akan dihubur dengan penampulan live musik," katanya.

(cr21/tribun-medan.com)

Penulis: Gita Nadia Putri br Tarigan
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved