Miris Angka Kekerasan Perempuan dan Anak Terus Meningkat, Ini Tips Psikolog Hadapi KDRT

Komnas Perempuan mencatat laporan kekerasan pada 2018 mencapai 406.178 kasus, naik 16,5 persen dibanding laporan pada 2017

Miris Angka Kekerasan Perempuan dan Anak Terus Meningkat, Ini Tips Psikolog Hadapi KDRT
TRIBUN MEDAN/HO
Walikota Tebing Tinggi Umar Zunaidi Hasibuan, Kadis Pemberdayaan Perempuan, Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Nina Zubair dan Unit Manager Comm, Rel, & CSR MOR I Roby Hervindo meresmikan bantuan CSR Rumah Aman Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A). 

TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN - Psikolog, Rahmadani Hidayatin mengatakan Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mendokumentasikan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), sebagai jenis kekerasan terhadap perempuan terbanyak pada 2018. Tak kurang dari 9.637 kasus, atau mencapai 71 persen.

Mirisnya, angka kekerasan terhadap perempuan dan anak cenderung meningkat saban tahun.

Komnas Perempuan mencatat laporan kekerasan pada 2018 mencapai 406.178 kasus, naik 16,5 persen dibanding laporan pada 2017 sejumlah 392.610 kasus.

Rahmadani menjelaskan beberapa tips dalam menghadapi KDRT yakni yang pertama untuk mengenali KDRT. KDRT umumnya berdampak trauma, yang membuat batin tertekan. Trauma psikologis yang dialami korban KDRT dapat menyerang individu secara menyeluruh, baik fisik maupun psikis.

"KDRT tidak melulu berbentuk kekerasan fisik. Tapi juga bisa berbentuk psikologis, seksual dan atau penelantaran rumah tangga," ujar Rahmadani.

Ia menjelaskan pola asuh bisa juga berpotensi kekerasan. Orang tua kerap berupaya terlalu keras untuk membentuk anak sesuai keinginan sendiri. Tak jarang, orang tua juga merasa harus menunjukkan kekuatan agar anak merasa takut.

"Pola asuh semacam ini, menimbulkan potensi kekerasan pada anak. Ketika misalnya, anak tidak melakukan sesuai keinginan orang tua, maka ia akan dikenakan hukuman," ujarnya.

Diakuinya, orangtua dan anak, perlu membangun karakter-karakter yang membentuk resiliensi. Diantaranya ketekunan, yaitu mampu menyelesaikan apa yang dilakukan meski menghadapi hambatan.

"Keluarga pun mesti membangun kecerdasan sosial, yaitu kemampuan beradaptasi dengan situasi sosial yang berbeda-beda. Perlu juga mengembangkan keberanian mengungkapkan kebenaran dan kekuatan menghadapi ancaman maupun rasa sakit.
Keluarga yang dapat membangun resiliensi, akan lebih "tahan banting" dan lebih kecil mengalami stres," ungkapnya.

Untuk mencegah KDRT, kata Rahmadani, perlu dibangun resiliensi keluarga, yaitu kemampuan keluarga untuk menghadapi kesulitan, ketangguhan menghadapi stres, dan bangkit dari trauma.

Halaman
12
Penulis: Natalin Sinaga
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved