Monumen Parisang-Isang Sahorbangan Di Parsosoran

Parisang-Isang Sahorbangan adalah moyang pertama dari marga Ritonga. Berdasarkan kisah sejarahnya ia merupakan putra ketiga dari keturunan Toga

Tribun Medan/HO
Monumen Ompu Parsadaan Ritonga Dohot Boruna. 

MEDAN.TRIBUNNEWS.com - Parisang-Isang Sahorbangan adalah moyang pertama dari marga Ritonga. Berdasarkan kisah sejarahnya ia merupakan putra ketiga dari keturunan Toga (Marga) Siregar, putra bungsu Raja Lontung (Lottung). Siregar memiliki 4 (empat) anak keturunan, yaitu Sormin (disebut juga Silo), Dongoran, Silali, dan Siagian. Kemudian Putra ketiganya mempunyai dua orang anak, yakni Datu Nabolon juga Raja Sinungsungan.

Singkat cerita, Datu Nabolon lah sebenarnya Parisang-Isang Sahorbangan, yang kemudian lebih dikenal dengan Ritonga asal dari Muara, pinggiran Danau Toba, dan dapat ditempuh via Bandara Silangit Siborong-Borong.

Parisang-Isang Sahorbangan, berperawakan tinggi besar, gagah, memiliki bentuk dagu yang besar/lebar sehingga dijuluki “Sahorbangan”, ada juga menyebutkan “Saharbangan” serta mempunyai kelebihan supranatural yang tinggi, sehingga ia dikenal dengan strategi dan siasat jitunya dalam melawan musuh tanpa mengorbankan orang lain.

Datu Nabolon atau Parisang-Isang Sahorbangan pergi meninggalkan kampung halamannya dan merantau kearah timur hingga selatan, menelusuri wilayah Siborong-Borong, menuju dan singgah di Lobu Siregar (daerah sebelum Sipahutar), selanjutnya bertolak ke Parsosoran, Kecamatan Garoga, Tapanuli Utara.

Seiring berkembangnya zaman, kini sudah banyak keluarga bemarga Ritonga yang lahir dan berdomisili di Tapanuli Selatan (Tapsel) dan Labuhan Batu, kemudian merantau ke daerah lain. Entah apa maksudnya, banyak yang merubah/memakai marganya kembali menjadi Siregar.

Para orangtua yang merupakan bagian dari sesepuh marga Ritonga, mengisahkan perjalanan Parisang-Isang Sahorbangan, ditemani dua saudaranya, berdiam dan membangun rumah berdampingan.

Istilah marga Ritonga berasal dari Rumah Parisang-Isang Sahorbangan beratapkan Ilalang (Ri) dan dengan posisi ditengah (di Tonga). Akhir kisah tentang domisili Parisang-Isang Sahorbangan, adalah Parsosoran, sekitar 18 Km dari Ibukota Kecamatan Garoga, Kabupaten Tapanuli Utara.

Keturunannya tersebar terutama di wilayah Tapanuli Selatan dan Labuhan Batu/Labuhan Bilik, banyak juga di Langkat, Sumatera Selatan, Jawa Barat, DKI, Bali, Sulawesi (Selatan, Barat, dan Tenggara/Kendari), Irian Jaya (Papua), dan daerah-daerah lainnya di nusantara. Itulah sekilas tentang Ritonga dan persebarannya, walaupun sebenarnya mempunyai kisah yang sangat panjang.

Monumen Parisang-Isang Sahorbangan

Marga Ritonga merupakan marga yang mempunyai wadah Parsadaan (perkumpulan) tertua di Indonesia. Perkumpulannya dibentuk sejak tanggal 11 Januari 1936, di Desa Paran Julu/Sipirok, Tapanuli Selatan. Dimotori dan diprakarsai oleh putra perantau Ritonga di Pematangsiantar, yang menjadi founding father dan lebih terkenal dengan sebutan “Tim Toedjoeh”.

Kemudian diadakanlah Kongres I (pertama) pada tahun 1951 di Pagaran Julu, Kongres II (kedua) pada tahun 1974 di Pematang Siantar, Kongres III (ketiga) pada tahun 1990 di Jakarta, dipimpin oleh Drs H Ihutan Ritonga.

Setelah itu pelaksanaan Kongres dirubah menjadi istilah Musyawarah Nasional (Munas) hingga kini sudah dilalui Kongres/Munas ke VII tahun 2011 di Padangsidempuan. Tentang sebutan pertemuan besar ini semula sebenarnya masih bermacam-macam, pertama ada juga yang menyebut Musyawarah Kerja, kedua Musyawarah Adat, ketiga ada isitilah Kongres dan juga Munas.

Nama organisasinya juga demikian, pada kongres pertama Keluarga Besar Ritonga, Boru dan Bere. Kongres kedua disebut Persatuan Keluarga Besar Ritonga Dohot Boruna, dan pada Kongres ketiga masih diusulkan Persatuan Keluarga Ritonga & Boruna, yang diputuskan menjadi Parsadaan Ritonga Dohot Boruna (PRDB).

Pada Kongres I, II, dan III, salah satu kesepakatan sebagai wacana yang tetap muncul adalah untuk membangun Monumen Parisang-Isang Sahorbangan (Tugu Parsadaan Ritonga) di Parsosoran, dan baru terwujud/diresmikan oleh Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) pada tanggal 27 Agustus 1994, ditandai dengan prasasti dan tanda tangan Letjend TNI (Purn) H Raja Inal Siregar.  Hati dan pikiran Ritonga merasa terharu, riang, gembira, dan bahkan bangga-lah.

Disamping itu juga sebenarnya ada rencana Pembangunan Tugu Patuan Na Lobi di Gunung Tinggi.

Pada hari Sabtu dan Minggu tanggal 17-18 September 2016, Pahompu, penerus Ritonga sebanyak 16 orang, antara lain turut H Ihwan Ritonga, SE, Sekjen PRDB (Wakil Ketua DPRD Medan), AKP Massa Amri Ritonga, SH, H. Pardjuangan Ritonga, SH, Domuan Ritonga, SIP, dan lain-lain, berkunjung (ziarah sekaligus berwisata) ke Monumen Parisang-Isang Sahorbangan di Parsosoran.

Kunjungan ini memang bukan merupakan program atas nama Parsadaan, melainkan inisiatif Kahanggi/Anakboru. Rombongan pahompu, cucu, cicit, Pahompu Ni Tambihul, dan seterusnya dari Parisang-Isang Sahorbangan, yang hingga saat ini sudah sampai ke 18 (delapan belas) bahkan ke 19 (Sembilan belas) generasi, dibawah Tugu merasa haru bercampur bangga, namun terenyuh mencuat kembali dalam pikiran.

Kenapa? karena sudah 22 (dua puluh dua) tahun, kelihatannya Monumen “Ompung” (baca: Oppung) kita tercinta itu seakan tak terawat. Ini menunjukkan, mungkin tidak banyak/jarang penerusnya yang datang ke tempat itu.

Perhatian Lebih Khusus

Tidak begitu penting pada kesempatan ini mengulas sejarah pembangunan monumen tersebut. Namun sewajarnya yang perlu adalah untuk menaruh perhatian khusus, untuk menunjukkan penghargaan terhadap leluhur kita.

Disana, masih ada terlihat pertanda, bukti, dan situasi lokasi yang menunjukkan kekuasaan Parisang-Isang Sahorbangan. Pohon-pohon seperti Beringin (Haruaya), Durian, yang masyarakat setempat menyebutnya dengan Beringin/Haruaya ni Ritonga, Durian Ritonga. Yang paling menarik adalah Mual (Mata Air) Ritonga yang selalu tidak terlepas dari perhatian keluarga Ritonga yang berkunjung kesana.

Selain perlu diperbaiki dan/atau ditingkatkan monumentnya, mengenai keberadaan lokasi tersebut akan lebih baik lagi jika dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas lainnya, seperti perlunya tempat singgah (istirahat) berupa pondok khas dengan ornament Lambang Parsadaan.

Dan akan lebih menarik lagi apabila di-design, dibangun jalan, bertangga menurun menuju tempat Mual Ritonga, tempat pemandian/pengambilan air Ompung Parisang-Isang Sahorbangan dan Keluarganya.

Tempat-tempat peninggalan itu patut ditata dengan rapi dan baik yang akan bermanfaat sekaligus menjadi bukti adanya upaya bersama dalam rangka melestarikan sejarah secara berkelanjutan. Maka alangkah baiknya menjadi perhatian serius, karena memang sudah saatnya kita harus memperbaikinya.

Rencana usulan perlunya menaikkan/menambah ketinggian khusus Bangunan Utama Monumen, agar lebih harmonis, seimbang dengan rencana rehabilitasi pelataran, pagar dan keadaan sekelilingnya.

Bagaimanapun tidak bisa diremehkan bahwa disebabkan disekitar lokasi, masyarakat sudah mengembangkan tanaman Rambung (Karet: Havea) dimana dalam waktu tiga-empat tahun kedepan ini, monumen kita itu akan terlindungi (tidak kelihatan) lagi karena tanaman-tanaman dimaksud.

Untuk itu, disarankan kepada seluruh Keluarga Besar Parsadaan Ritonga Dohot Boruna (PRDB), marilah kita padukan pikiran dan tenaga untuk melestarikan Monumen Sejarah kita tersebut. Kita telah menyebar, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga dimana-mana di luar negeri, seperti Jepang, Tiongkok, Timur Tengah, Eropa, Amerika Serikat, Kanada, dan lain-lain dengan berbagai keberhasilan.

Karena rencana ini adalah rehab dan sebagian tambahan untuk kesempurnaan, maka tidaklah lagi mesti menunggu hasil Munas. Dan seiringlah kiranya, sesuai dengan yang penulis ucapkan pada acara Peresmian Monumen, giliran mempersilahkan Ketua Umum PRDB untuk memberikan kata sambutan.

“Kepada Ketua Umum Parsadaan Ritonga Dohot Boruna Sedunia, waktu dan tempat disediakan!!!,” ucap Syamsul Bahri Ritonga Glr Sutan Humala Muda yang bertindak sebagai protokol pada acara tersebut.

Hadirin menyambutnya dengan “Geeeerrr”, tepuk riuh, hiruk pikuk, senang menyaksikan Drs Pener Ritonga lengkap dengan jas dan pecinya, dengan tenang, percaya diri, tapi gagah, naik ke mimbar yang dihiasi dengan gaba-gaba/bunga daun kelapa muda.

Hikmah luar biasa dari perjalanan dua hari ke Tugu Parisang-Isang Sahorbangan, diantara kami yang berangkat, baru saling mengenal diatas bus, tetapi rasanya dengan semangat, keceriaan, bersukaria, menghibur bersama, tiada canggung, rasanya perkenalan itu telah terjalin sejak tahun 1951 atau paling tidak telah terasa sejak 27 Agustus 1994 saat monument diresmikan. Itulah rupanya satu manfaat dari pada keberadaan Tugu atau Monumen.

Semangat itu patut kita teruskan dan wujudkan, dengan keberhasilan yang meskipun sedikit demi sedikit sama-sama kita himpunkan untuk tidak lupa ke Parsosoran. Apapun dia, itulah, disanalah leluhur kita.

Penulis: Syamsul Bahri Ritonga Glr Sutan Humala Muda (Generasi XV Ritonga)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved