Berkunjung ke Tribun Medan, Jaringan Indonesia Positif Rangkul Media Ubah Stigma ODHA

Yudha mengatakan sejak tahun 1997 upaya mengubah stigma ODHA tak banyak membuahkan hasil

Berkunjung ke Tribun Medan, Jaringan Indonesia Positif Rangkul Media Ubah Stigma ODHA
TRIBUN MEDAN/ALIJA MAGRIBI
Foto bersama Jaringan Indonesia Positif (JIP) dan CSO bersama Redaktur TRIBUN MEDAN. Dalam pertemuan ini JIP dan CSO memberikan buku pengantar soal HIV/Aids. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Jaringan Indonesia Positif (JIP) menyempatkan waktu melakukan audiensi ke Redaksi Tribun Medan, Rabu (21/8/2019) sore, sebagai salah satu upayanya mengubah stigma Orang Dengan HIV/Aids (ODHA) di benak masyarakat Kota Medan.

Kali ini, JIP yang datang bersama beberapa Civil Society Organization (CSO) Kota Medan.

Kedatangan JIP yang dipimpin Samara Yudha Arfianto disambut dengan hangat oleh Redaktur Cetak dan Reporter Tribun Medan Muhammad Tazly dan Alija Magribi di ruang rapat redaksi Lantai 3 Gedung Bersama Kompas-Tribun, Jalan Wahid Hasyim, No.37 Kelurahan Babura, Kota Medan.

Dalam sambutannya, Yudha mengatakan sejak tahun 1997 upaya mengubah stigma ODHA tak banyak membuahkan hasil, meski beberapa upaya melalui edukasi dan kampenye dilakukan JIP dan teman-teman CSO.

"Dilansir dari data Kemenkes Tahun 2018, hanya 15% perempuan dan 16% laki-laki yang mengikuti perkembangan informasi tentang HIV/Aids. Selebihnya, banyak masyarakat yang masih menganggap ODHA adalah manusia yang patut dihindari dari segala macam aktifitas sosial," ujar Yudha.

Padahal,imbuh Yudha, proses penularan HIV/Aids tak semudah yang dibayangkan. PenularanHIV/Aids hanya terjadi dalam kasus berbagi jarum suntik, ibu menyusui, penyakit menular seksual, atau ada kontak darah, air mani atau cairan dari orang yang terinfeksi HIV/Aids. Namun entah mengapa, teman-teman ODHA begitu menjadi momok menakutkan masyarakat.

Proses penularan HIV/Aids, pun dijelaskan Yudha, masih lebih sulit dibanding penyebaran TBC dan Hepatitis. Ia yang juga berkecimpung di Medan Plus, sebuah yayasan yang memperhatikan ODHA mengatakan beberapa hal tersebut menjadi pekerjaan rumah mereka bersama CSO.

"Bahkan, sering terjadi kasus, seorang pekerja yang diketahui terinfeksi HIV/Aids langsung dipecat oleh perusahaannya. Nah ini kan melanggar peraturan ketenagakerjaan. Atau ada orang yang dites HIV/Aids tanpa kesediannya sendiri, ini juga melanggar," jelas Yudha.

Hal yang sama juga dikatakan Katarina dari CSO Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI) Sumut. Sebagai salah satu relawan yang ikut mengedukasi teman-teman ODHA dengan memberikan sejumlah alat kontrasepsi (Kondom) untuk mencegah penularan, tak sering ia mengalami kesalahpahaman dari aparat penegak hukum.

Katerina berujar bahwa tugasnya yang sering mengedukasi dan membina ODHA masih ditanggapi sinis oleh aparat.

Halaman
12
Penulis: Alija Magribi
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved