WhatsApp Bidik Pembayaran Online, Adu Kuat Persaingan Sengit Dompet Digital, Siapa Menang?

WhatsApp tengah menjajaki kerja sama dengan perusahaan pembayaran digital dan bank di Indonesia untuk bisa menjalankan bisnis

WhatsApp Bidik Pembayaran Online, Adu Kuat Persaingan Sengit Dompet Digital, Siapa Menang?
Mashable
Ilustrasi 

Pada era yang serba cepat, permintaan pasar dan konsumen juga dengan cepat berganti. Karena itu, sebagai perusahaan teknologi, Harianto mengaku OVO harus mampu segera beradaptasi dan peka terhadap produk dan layanan yang diinginkan oleh konsumen. Saat ini OVO banyak menyasar segmen khususnya dari sektor UKM untuk mengembangkan bisnis dan mencapai inklusi keuangan yang berkesinambungan.

Go-Pay juga menjalankan strategi kolaborasi untuk terus berekspansi. Sekarang masyarakat bisa pakai Go-Pay untuk investasi reksadana mulai dari Rp 10.000 dengan menggandeng Bibit.id.  "Infrastruktur semacam ini kami lihat dapat mengubah hidup bagi kebanyakan masyarakat Indonesia, yang sebelumnya belum tersentuh layanan jasa keuangan formal," ujar Budi Gandasoebrata, Managing Director Go-Pay.

Budi berusaha mematahkan pandangan sebagian orang bahwa tekfin swasta menjadi ancaman bagi bisnis perbankan. Malah menurut Budi, perbankan dan tekfin swasata bisa bergandengan menyalurkan layanan bagi segmen masyarakat yang belum terjamah layanan formal perbankan. 

Contoh saja, Go-Pay kini telah bekerjasama dengan BNI untuk menyalurkan kredit usaha rakyat (KUR) ke merchant anggota Go-Food.

Selain itu Go-Pay juga menggandeng BTN untuk kredit perumahan rakyat (KPR) subsidi bagi pengemudi hingga membukakan rekening di berbagai bank bagi rekan usaha Go-Pay yang belum punya rekening bank. 

Sejatinya, kunci bisa bertahan dan memenangkan pasar di tengah persaingan layanan teknologi finansial yang bakal makin sesak adalah dengan bisa mengumpulkan basic user. Menurut Fithra, saat ini adalah era industri berkonsolidasi dan berkolaborasi. 

Meski LinkAja bakal didukung oleh super power dengan rencana pembentukan holding keuangan perusahaan BUMN, namun  efektivitasnya masih perlu diuji. Membuka kerjasama seluas-luasnya dengan berbagai pihak tampaknya bisa lebih menghemat biaya dan waktu untuk bisa menciptakan inklusif keuangan sebagaimana yang dicita-citakan pemerintah.

(Rizki Caturini)

Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved