Radikalisme Merongrong Ketangguhan Negara, Pihak Kampus Harus Terus Waspada

Agustin Sastrawan Hrp SPd MPd mengungkap radikalisme di kampus masih tetap diwaspadai meski kampanye meluruskan kelompok aliran itu terus dilakukan.

Radikalisme Merongrong Ketangguhan Negara, Pihak Kampus Harus Terus Waspada
TRIBUN MEDAN/HO
Foto bersama narasumber dan panitia dialog kebangsaan dengan tema "Meneguhkan Ideologi Pancasila, Menolak Paham Khilafah dan Radikal Dilingkungan Kampus Demi Terwujudnya Keutuhan NKRI” bertempat di Djong Cafe, Medan Estate, Percut Sei Tuan. 

TRIBUN-MEDAN.com - Forum Silaturahmi Mahasiswa Sumatera Utara (FSM Sumut) menggelar dialog kebangsaan dengan tema "Meneguhkan Ideologi Pancasila, Menolak Paham Khilafah dan Radikal Dilingkungan Kampus Demi Terwujudnya Keutuhan NKRI” bertempat di Djong Cafe, Medan Estate, Percut Sei Tuan, kemarin.

Narasumber dalam acara tersebut, Faisal Riza MA, Agustin Sastrawan Harahap MPd, Indira Fatra Deni MA, Moderator Teuku Sadrak MA.

Agustin Sastrawan Hrp SPd MPd mengungkap, radikalisme di kampus masih tetap diwaspadai meski kampanye upaya meluruskan kelompok aliran itu terus dilakukan.

Di sisi lain, pemahaman masyarakat hingga akademisi tentang agama juga masih harus terus diluruskan, sehingga pemahaman agama yang seharusnya menjadikan manusia menjadi warga negara yang taat bukan malah menjadi sarang munculnya gerakan radikalisme.

“Radikalisme merupakan salah satu dari tindakan yang berpotensi merongrong ketangguhan negara, mengancam hilangnya persatuan dan kesatuan dan kepercayaan masyarakat terhadap pemimpinnya. Bahkan kelompok radikalisme juga kini banyak muncul di kalangan muda terpelajar seperti mahasiswa. Tak jarang aliran garis keras masuk ke kampus mengajak mahasiswa untuk bisa bergabung. jika tidak ditangani dengan serius maka bisa menjadi persoalan di kemudian hari bagi instansi maupun perguruan tinggi tersebut bahkan bangsa dan negara,” jelasnya.

Menurut Agustin, munculnya kelompok generasi muda yang menolak pancasila dinilai karena tidak paham substansinya, padahal ideologi ini dapat mewadahi semua agama, yang juga disusun oleh para ulama. Adanya beberapa penyimpangan seperti kasus korupsi kadang disimpulkan oleh kelompok tersebut bahwa pancasila tak sesuai dengan norma agama. Padahal tindakan penyimpangan itu hanya dilakukan segelintir orang, sehingga tidak bisa menjadi dasar untuk memerangi pemerintah atau berupaya mengganti ideologi pancasila.

“Oleh karenanya, kampus menjadi salah satu yang harus diwaspadai terkait kemungkinan tumbuhnya benih radikalisme karena tempat berkumpulnya para pemuda yang sekian tahun lagi akan memimpin suatu negara,” pungkasnya.

Faisal Riza MA menjelaskan, mahasiswa dapat menghindari radikalisme dengan beberapa cara. Pertama, memperkaya Wawasan pancasila, wawasan nusantara dan menggali nilai yang berkembang di daerah. Kedua, selektif mencari komunitas dan teman diskusi. Memperkuat literasi dan selektif dan bijak dalam mengambil informasi dari internet.

Selain itu, Indira Fatra Deni MA mengungkapkan, faktor penyebab radikalisme adalah meliputi 2 penyebab, pertama internal yakni kurangnya mengetahui sejarah berdirinya negara indonesia, memudarnya rasa nasionalisme dan terlalu mengagungkan bangsa lain. Sedangkan faktor eksternal, arus informasi global tanpa literasi yang jelas, Invasi budaya asing yang mengakibatkan hilangnya identitas nasional.

“Oleh karena itu perlu dilakukannya kegiatan diskusi secara terus menerus dikalangan mahasiswa dan masyarakat pada umumnya yang menekankan bahwa pancasila sudah selesai untuk diperdebatkan yang selanjutnya pancasila harus menjadi paradigma dan ideologi bangsa yang sesuai dengan culture Indonesia yang memiliki banyak agama, suku dan budaya,” jelas Indira Fatra.

Muhammad Mas’ud Silalahi menyampaikan lima Maklumat FSM – Sumut.

“Kami menolak segala paham yang bertentangan dengan ideologi pancasila dan UUD 1945, menjaga persatuan dan kesatuan NKRI yang berpedoman pada bhineka tunggal ika, ikut serta dalam mengamalkan nilai-nilai pancasila, membawa pancasila dan butir-butirnya dalam kehidupan sehari-hari, Menolak khilafah di NKRI,” tegas Ma’ud bersama 150 orang peserta.

Rangkaian acara dialog kebangsaan, pembukaan dari MC, menyanyikan lagu Indonesia Raya, doa, sambutan koordinator nasional FSM – Sumut, dialog, penyerahan plakat kepada narasumber, foto bersama, petisi penandatanganan penolakan faham khilafah di NKRI.

(*/tribun-medan.com)

Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved