TRIBUNWIKI

Usaha Bubur Ayam Turun Temurun hingga Tiga Generasi

Salah satu pelaku usaha bubur ayam di Kota Medan adalah Owner Kedai Bubur, Agustiar, ia merupakan generasi ke 3 setelah orangtuanya dan pamannya.

Usaha Bubur Ayam Turun Temurun hingga Tiga Generasi
TRIBUN MEDAN/NATALIN SINAGA
Owner Kedai Bubur, Agustiar, ia merupakan generasi ketiga setelah orangtuanya dan pamannya. 

TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN - Usaha Bubur Ayam memiliki prospek yang cukup bagus karena bisa dinikmati oleh semua kalangan, dari anak kecil hingga dewasa. Pelaku usaha ini cukup banyak jumlahnya mulai dari pedagang kaki lima yang menggunakan gerobak hingga kelas restoran.

Salah satu pelaku usaha bubur ayam di Kota Medan adalah Owner Kedai Bubur, Agustiar, ia merupakan generasi ke 3 setelah orangtuanya dan pamannya.

Agustiar mengatakan Kedai Bubur ini berdiri sejak tahun 1949 oleh kakeknya bernama Ayyim. Kedai Bubur ini berdiri setelah empat tahun Indonesia meraih Kemerdekaan dari tangan penjajahan.

"Sebelum kemerdekaan kakek saya adalah koki membuat makanan pada masa itu, Setelah merdeka empat tahun kakek saya mencoba berdagang bubur ayam dan bertahan sampai saat ini. Saya sudah generasi ke -3," ucap Agustiar, di Kedai Bubur namanya, terletak di Jalan Mangkubumi No.16 A, A U R, Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan, Jumat (23/8/2019).

Diakuinya, sejak Kedai Bubur didirikan menu khasnya adalah bubur ayam tidak ada yang lain namun karena perkembangan zaman dimana kuliner semakin bervariasi, ia menambahkan sejumlah menu untuk menambah pilihan pengunjung.

"Awalnya Kedai Bubur ini berada di Jalan Bogor simpang Jalan Selat Panjang numpang di warung kopi. Seiring waktu di tahun 1974 orang tua dan paman saya meneruskan usaha ini. Dan punya rezeki membeli rumah di Selat Panjang dan bertahan sampai saat ini," katanya.

Di Medan saat ini ada dua gerai yang dapat dijadikan pilihan oleh pengunjung. keduanya tidak ada yang berbeda dari segi rasa, karena resep dan penggunaan bahan baku masih dipertahankan secara turun-temurun.

"Kedai Bubur ini ada dua gerai untuk yang di Mangkubumi ini dibuka sebagai cabang pada tahun 2007," tambahnya.

Diakui Agustiar, ia mau meneruskan usaha bubur legendaris ini karena beberapa faktor. "Dulu kebetulan saya tidak pintar dibidang pendidikan, semester lima kuliah di Jakarta saya tidak lanjutkan lagi, saat ini saya pun memutuskan kembali ke Medan," katanya.

Agustiar kembali pulang ke Medan tahun 2006 dan ia mulai merintis Kedai Bubur ini dengan resep warisan kakeknya itu pada tahun 2007 lalu.

Halaman
12
Penulis: Natalin Sinaga
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved