Sejak Jaman Soeharto hingga Jokowi, Kampung di Langkat Ini Kekurangan Air Bersih, Ini Harapan Warga

Warga Desa Halaban, Solihin (62) mengisahkan, pertama kali mereka datang merantau membuka pemukiman sebagai petani di desa Halaban pada 1980.

Sejak Jaman Soeharto hingga Jokowi, Kampung di Langkat Ini Kekurangan Air Bersih, Ini Harapan Warga
TRIBUN MEDAN/Risky Cahyadi
Sejak Jaman Soeharto hingga Jokowi, Kampung di Langkat Ini Kekurangan Air Bersih, Ini Harapan Warga. 

Sejak Jaman Soeharto hingga Jokowi, Kampung di Langkat Ini Kekurangan Air Bersih, Ini Harapan Warga

TRIBUN-MEDAN.com- Sejak Jaman Soeharto hingga Jokowi, Kampung di Langkat Ini Kekurangan Air Bersih, Ini Harapan Warga.

Air bersih sebagai sumber kehidupan belum terjamin, tersalurkan, dirasakan masyarakat di seluruh desa Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.

Ratusan kepala keluarga di Desa Halaban, Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat hanya bisa merintih akibat mengalami krisis air bersih dari era Presiden Soeharto hingga Joko Widodo sejak tahun 1980 silam hingga 2019.

Warga Desa Halaban, Solihin (62) mengisahkan, pertama kali mereka datang merantau membuka pemukiman sebagai petani di desa Halaban pada 1980.

Sebagian mereka merupakan perantauan dari Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat.

Kata Solihin, puluhan tahun warga pasti selalu kekeringan air bersih, dan telah menjadi budaya untuk berjuang dan beradaptasi membaca prakiraan cuaca per bulan.

Mereka beradaptasi dengan siklus musim agar bisa menampung dan menyetok air hujan demi menyambung hidup beberapa bulan ke depan.

Baca: Pradesh Bunuh Diri Sembari Lakukan Video Call dengan Istrinya, Bertengkar karena Keuangan Menurun

Baca: KABAR TERBARU Koko Ardiansyah (Paskibraka - Dhony Anak Bupati Labuhanbatu Bertemu dalam Suasana Haru

Baca: Dokter Hewan Kaget Temukan 32 Buah Bebek Karet dari Perut Anjing American Bulldog

Tak adanya perhatian pemerintah atas kondisi ini.

Alhasil, warga Desa Halaban di setiap rumahnya membangun bak alternatif di belakangan rumah untuk penampungan air hujan, air yang dibeli untuk semua keperluan sehari-hari.

"Kami mengalami kekeringan air sejak kampung ini buka tahun 1980 lah ya dari era Presiden Soeharto sampai Pak Jokowi, dulu kami ramai-ramai kemari bertani. Jadi tiap bulan 1 ke bulan 4 ya gak ada air sama sekali karena kemarau. Kalau gak ada hujan kami beli sama orang lain. Untuk satu hari biasa pakai per drum ukuran 200 liter harganya Rp 10 ribu, itu sudah untuk semua kebutuhan kami hemat-hemat," ungkapnya, kepada Tribun Medan, Sabtu (24/8/2019).

Baca berita selengkapnya di tribun medan cetak, Minggu (25/8/2019).

(Dyk/tribun-medan.com)

Penulis: Dedy Kurniawan
Editor: Joseph W Ginting
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved