Satu Atlet Renang Open Water Sumut Lolos ke PON Papua, Satu Lagi Menunggu Keputusan Pusat

Yopie War mengatakan selain Resy, atlet putri lainnya yakni Dinda Syafira Putri di Nomor 10000 meter sebenarnya juga bisa berhasil finis.

Satu Atlet Renang Open Water Sumut Lolos ke PON Papua, Satu Lagi Menunggu Keputusan Pusat
TRIBUN MEDAN/CHANDRA SIMARMATA
Para atlet renang perairan terbuka (open water). 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Perenang putri Sumatera Utara Resy Dwi Ananda berhasil meraih tiket lolos ke Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua tahun 2020 untuk cabang olahraga open water swimming (OWS) nomor 5.000 meter.

Pada Kejurnas Pra-PON renang perairan terbuka (OWS) yang berlangsung di perairan Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, 23-24 Agustus 2019, Resy sukses mencatatkan waktu 1,5 jam dan menduduki posisi keenam dari 8 atlet yang lolos ke PON.

Sekretaris Umum Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI) Sumut M, Yopie War mengatakan selain Resy, atlet putri lainnya yakni Dinda Syafira Putri di Nomor 10000 meter sebenarnya juga bisa berhasil finis. Dinda juga seharusnya mampu menduduki peringkat 5 atau 6 dari 8 kuota atlet yang yang lolos ke PON.

Namun kata Yopie dikarenakan hampir semua atlet nomor tersebut melewati batas waktu (over limit time) dari perenang pertama masuk Finish, panitia pelaksana pun tidak memasukkan sisa perenang lainnya masuk dalam kategori finis. Karena itu, pihaknya pun masih harus menunggu penentuan lolos tidaknya Dinda dari hasil keputusan rapat dari PB PRSI Pusat.

"Limit time yang dibuat Panpel adalah 30 menit dihitung mundur setelah perenang pertama masuk Finish. Yang finis cuma tiga kontingen provinsi. Sementara sisa lima kuota lagi yang harus lolos ke PON," ujarnya kepada Tribun Medan , Minggu sore (25/8/2019).

Dengan hanya tiga atlet yang dicatat masuk finis sedangkan masih ada lima kuota untuk lolos ke PON, Yopie mengatakan pihaknya pun sempat mengajukan protes pada panitia penyelenggara. Menurutnya karena ini merupakan ajang kualifikasi PON maka sudah seharusnya ada atlet yang lolos ke PON sesuai kuota KONI pusat. Namun panitia menyerahkan pada keputusan PB PRSI.

"Aturan yang diberlakukan oleh Panitia ini rancu dan merugikan kontingen, sebab ini kualifikasi PON untuk menjaring atlet 8 besar. dengan diberlakukan Over limit Time maka tidak terpenuhi kuota by name yang Lolos PON. Pada PON XIX/2016 tidak ada aturan seperti ini. Makanya kita masih tunggu Minggu ini keputusan mereka. Jika nanti diputuskan lolos maka si Dinda lolos," terangnya.

Lebih lanjut , Yopie menjelaskan minimnya atlet Sumut yang berhasil lolos ke PON sebagian besar disebabkan ombak dan arus yang sangat deras. Ini membuat para atlet tidak maksimal, banyak atlet yang diterjang ombak hingga menjauh 1 kilometer, sehingga jarak yang mereka tempuh melebihi dari jarak nomor lomba. Bahkan atlet Sumut, Safa Amanda juga sempat mengalami keram.

"Satu hal lagi yang sangat merugikan kontingen adalah diberinya kebebasan kepada atlet yang sudah lolos by name PON XX/2020 dari cabor Renang Kolam (Atlet pelatnas Sea Games) ikut serta di Renang Perairan Terbuka. Kalau gitu jangan dipisah renang kolam sama renang laut. Aturan kan beda, makanya ada beberapa yang ajukan protes tapi gak tau apa direspon mereka," ungkapnya.

Atas hasil ini, Yopie mengaku kurang puas. Namun Menurutnya kondisi cuaca dan alam juga menjadi tantangan terbesar bagi atlet untuk mencapai performa terbaiknya.

Halaman
12
Penulis: Chandra Simarmata
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved