Tanah 8.000 Meter Diserobot, Korban Minta Perlindungan Hukum karena Kasusnya tak Ditangani Polisi

Laporannya ke Polsek Medan Labuhan dimentahkan pihak kepolisian yang berasalan tanah tersebut adalah tanah garapan.

Tanah 8.000 Meter Diserobot, Korban Minta Perlindungan Hukum karena Kasusnya tak Ditangani Polisi
TRIBUN MEDAN/VICTORY HUTAURUK
Tanah seluas 8.000 meter persegi di Jalan Veteran Dusun VIII Pasar X Desa Manunggal Kecamatan Labuhan Deli, Deliserdang milik Pandit Sirait (57) yang diserobot orang suruhan. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Korban penyerobotan tanah seluas 8.000 meter persegi di Jalan Veteran Dusun VIII Pasar X Desa Manunggal Kecamatan Labuhan Deli, Deliserdang, Pandit Sirait (57) meminta perlindungan hukum.

Pasalnya laporannya ke Polsek Medan Labuhan dimentahkan pihak kepolisian yang berasalan tanah tersebut adalah tanah garapan.

Pandit menerangkan awalnya tanah tersebut dimiliki oleh Soh Wie Wie alias Awi berdasarkan Surat Keterangan Tanah (SKT) Nomor: 5821/57/58.GD/DM/X/2004.

Dimana Awi berniat untuk menjual tanah itu dan memberikan kuasa kepada Edy Sutikno.

"Edy berniat menjual tanah milik Soh Wie Wie ke H Ujir pada tahun 2017. Saya melihat foto copy 5 kwitansi untuk panjar tanah dengan total Rp 110 juta dan ditandatangani langsung oleh Edy Sutikno. Tapi uang Rp 110 juta itu tidak diberikan ke Soh Wie Wie dan dilarikan Edy Sutikno. Itu Soh Wie Wie sendiri yang bilang ke saya," ungkapnya di Kantor DPC Medan, Jl. Sekip Baru, Minggu (25/8/2019).

Namun uang tersebut tidak kunjung sampai ke pemilik tanah, dan keributan sempat terjadi hingga akhirnya dimediasi di kantor camat setempat.

Ditempat tersebut Soh Wie Wie dipertemukan dengan Edy Sutikno. Namun, saat akan menandatangi surat-surat, Edy permisi ke kamar mandi.

"Tapi kami tungguin Edy gak datang dari kamar mandi. Kami sudah cari dan ternyata Edy kabur. Polisi bilang Edy penipu dan akan menangkapnya. Atas saran polisi itu, Soh Wie Wie melapor ke Polres Belawan pada tahun 2018. Kemudian, tanah milik Soh Wie Wie langsung dipolice line," lanjut Pandit.

Tak lama berselang, Pandit membeli tanah seluas kurang lebih 8.000 meter itu dari Soh Wie Wie dihadapan Notaris, Darwin Siagian seharga Rp 195 juta tanggal 14 September 2018.

Setelah mendapatkan SKT, Pandit yang merupakan petani akhirnya menanam jagung dan sudah panen sebanyak tiga kali.

Halaman
123
Penulis: Victory Arrival Hutauruk
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved