Ini Pendekatan yang Dilakukan Polisi Guna Meredam Kerusuhan dan Konflik Papua
Kapolres Metro Jakarta Selatan Komisaris Besar Bastoni Purnama mengatakan, pihaknya tetap menjaga ketenangan dan kondusifitas
TRIBUN-MEDAN.com - Kapolres Metro Jakarta Selatan Komisaris Besar Bastoni Purnama mengatakan, pihaknya tetap menjaga ketenangan dan kondusifitas dengan masyarakat Papua di Jakarta Selatan.
Bastoni mengaku melakukan hal tersebut agar tidak terjadi kerusuhan susulan di Jakarta mengingat sempat terjadi konflik di Papua.
Salah satu upaya yang dilakukan yakni melakukan pendekatan dengan beberapa asrama pelajar Papua yang ada di Jakarta Selatan.
"Kami ada asrama Papua di Tebet, terus kami lakukan pendekatan dengan masyarakat Papua yang ada di Jakarta Selatan supaya mereka tetap tenang, akan kami jaga, kami lindungi," ujar Bastoni di Mapolres Metro Jakarta Selatan, Senin (26/8/2019).
"Kalau ada hal hal yang kira kira mengkhawatirkan supaya koordinasi dengan kami," imbuhnya.
Tidak hanya dengan masyarakat Papua, Bastoni juga telah menjalin hubungan dengan beberapa tokoh masyarakat Papua yang ada di Jakarta Selatan.
Bastoni berharap jalinan hubungan tersebut bisa meredam potensi kerusuhan yang mungkin terjadi di Jakarta Selatan.
"Sudah (pertemuan dengan tokoh Papua), kemarin kan juga ada pertemuan Kapolda, Pangdam sama Gubernur dan tokoh-tokoh Papua. Tujuannya ya agar suasana tetap adem," tutup dia.
Pengusaha Rugi Pemblokiran Internet
Gubernur Papua Lukas Enembe mengaku banyak pengusaha di wilayahnya yang mengeluhkan Pemblokiran internet.
"Banyak keluhan. Makanya kita harap semua sisi informasi bisa dibuka," kata Lukas usai menghadiri rapat terbatas terkait persiapan PON 2020, di Istana Negara, Jakarta, Senin (26/8/2019).
Lukas mengatakan, ia bisa memahami pembatasan internet dilakukan pemerintah dalam rangka mencegahnya informasi hoaks di masyarakat Papua. Ia menilai langkah itu memang bisa mencegah masyarakat terpapar informasi yang belum jelas kebenarannya.
Namun, Lukas menyebut kondisi Papua saat ini sudah relatif kondusif sehingga ia berharap pemerintah segera membuka kembali akses internet.
"Kita harap dalam waktu dekat pemerintah sudah mulai buka kembali," kata Lukas.
Di sisi lain, Lukas berharap pelaku persekusi dan rasisme terhadap mahasiswa Papua di Surabaya bisa segera ditangkap. Sebab, perlakuan itu lah yang telah menimbulkan aksi protes berujung kericuhan di sejumlah wilayah di Papua.
"Harus tegas. Sehingga rasa harga diri yang diinjak-injak bisa pulih kembali. Kalau negara biarkan, pasti orang papua semakin tidak percaya," kata dia.
Kemenkominfo melakukan pemblokiran data internet di Papua dan Papua Barat sejak Rabu (21/8/2019).
Pemblokiran ini dilakukan setelah terjadi kerusuhan massa di Papua dan Papua Barat sebagai buntut insiden kasus persekusi terhadap mahasiwa asal Papua di Surabaya, Jawa Timur. Kericuhan terjadi di Manokwari, Sorong, Fakfak, dan Timika.
Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara pun meminta maaf sampai saat ini pemerintah belum membuka blokir internet di Papua. Menurutnya, propaganda di dunia maya di dua provinsi tersebut belum berhenti meski diakuinya suasana sudah kondusif.
“Saya bersimpati kepada saudara-saudara kita di Papua. Saya mohon maaf kalau memang (pemblokiran akses layanan data) ini turut memberi dampak,” kata Rudiantara ketika dihubungi dari Jakarta, Minggu (25/8/2019), dikutip dari KOMPAS.id.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Polisi Lakukan Pendekatan kepada Mahasiswa Papua di Jakarta demi Redam Potensi Kerusuhan"
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/terungkap-oknum-perwira-polisi-kirim-2-kardus-miras-pada-mahasiswa-papua-begini-penjelasan-polri.jpg)