Sedotan Bambu Asal Sumut di Ekspor Ke Berbagai Negara, Kini Jepang Pesan 15 Ribu PC

Marketing YEL (Yayasan Ekosistem Lestari), Arif Hasibuan mengatakan pihaknya telah mengembangkan produksi sedotan bambu.

Sedotan Bambu Asal Sumut di Ekspor Ke Berbagai Negara, Kini Jepang Pesan 15 Ribu PC
Triun Medan / Natalin
Marketing YEL (Yayasan Ekosistem Lestari), Arif Hasibuan menunjukkan sedotan bambu di Kantor YEL Jalan KH Wahid Hasyim Medan. Sedotan bambu ini akan diekpor ke Negara Jepang. 

TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN - Sebagai upaya mengurangi sampah plastik berupa sedotan, dibuatlah penggantinya yang dapat digunakan berkali-kali.

Bahan yang dipilih adalah menggunakan bambu sebab bambu merupakan bahan produksi alami, dan dapat digunakan berkali-kali serta dapat disimpan. Sedotan bambu juga ramah lingkungan karena mudah terurai.

Marketing YEL (Yayasan Ekosistem Lestari), Arif Hasibuan mengatakan pihaknya telah mengembangkan produksi sedotan bambu.

Diakuinya sedotan bambu ini sebagai upaya mengurangi penggunaan sedotan berbahan plastik.

"Awalnya produksi sedotan ini akhir tahun lalu kita mulai menjajaki sedotan bambu, info sedotan bambu ini, kita dapatkan dari teman-teman yang ada di Bali. Kita dibawah naungan YEL sudah banyak berkecimpung di dunia bambu, ada juga jembatan bambu juga di Haven, jadi saya inisiatif sama teman disini inisiatif buat sedotan bambu," ucap Arif, di Kantor Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) Jalan KH Wahid Hasyim Medan, Senin (26/8/2019).

Arif menjelaskan dalam hal produksi sedotan bambu ini, pihaknya telah memiliki pohon bambu cina dan pohon tersebut telah dimanfaatkan sebagai bahan baku produksi sedotan bambu.

Dalam pembuatannya, YEL juga berkolaborasi dengan masyarakat di Pancur Batu dan Bukit Lawang.

"Awalnya hanya lima pokok bambu cina yang kita gunakan untuk bahan baku sedotan karena permintaan banyak akhirnya kita kerjasama dengan masyarakat sekitar untuk menyediakan bambu cina dan membuat sedotan bambu. Produksi sedotan bambu ini di Pancur Batu dan Bukit Lawang. Di Pancur Batu, kita ada bambu workshop, tempat pengolahan bambu, dan di Bukit Lawang itu langsung masyarakat pengrajin bambu," ucapnya.

Ia mengaku diawal produksi sedotan bambu ini, butuh formula berkali-kali lalu ditemukan formula yang tepat.

Bambu yang akan dibuat sedotan ini, terlebih dahulu dibentuk lalu diawetkan dengan menggunakan garam, agar tidak ada rayap.

Halaman
12
Penulis: Natalin Sinaga
Editor: Royandi Hutasoit
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved