SIHODA, Melihat Identitas Diri Dengan Budaya

Kalau anak muda sekarang ada yang hampir melupakan budaya sendiri, sementara bagi saya, identitas kita justru baru bisa dilihat dari budaya kita.

SIHODA, Melihat Identitas Diri Dengan Budaya
TRIBUN MEDAN/HO
Para penari SIHODA menampilkan tarian tradisi Simalungun pada acara di Simalungun, waktu lalu. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Simalungun Home Dancer (SIHODA) merupakan sanggar tari budaya Simalungun yang berdiri sejak 27 Januari 2014. Digagasnya sanggar tari ini adalah niatan dari seorang sarjana tari wanita, Avionita Sinaga untuk mewujudkan cita citanya sejak kecil.

Avionita bercerita dahulu, saat dirinya menginjak masa kanak-kanak, sudah menyukai tari-tarian tradisi Simalungun. Baginya, Simalungun adalah identitasnya sebagai Warga Negara Indonesia. Simalungun adalah tempat tinggal dan darah dagingnya.

"Kalau anak muda sekarang ada yang hampir melupakan budaya sendiri, sementara bagi saya, identitas kita justru baru bisa dilihat dari budaya kita," ujar Wanita yang menamatkan sarjana tari pada tahun 2013 ini.

Kecintaan Avionita dengan tari menjadi semakin terasah kala ia lulus di program studi tari di Universitas Negeri Medan. Dari situ, ia bertemu banyak teman-teman yang mencintai kebudayaan tradisional Indonesia.

Bahkan keberhasilan berdirinya SIHODA, Avionita mengatakan hal tersebut tidak terlepas dari teman teman kuliahnya. Apalagi banyak siswa siswi tempat ia mengajar, ikut bergabung.

"Awal awal memang berat, kan, bang. Apalagi saya coba mendirikan komunitas ini di Medan, yang di sana banyak sanggar-sanggar budaya yang sudah punya nama. Tapi saya mencoba bertahan dengan segala hambatan," katanya.

Singkatnya, Avionita pun mengembalikan SIHODA ke asalnya di Pematangsiantar. Ia ingin SIHODA bergerak di daerahnya sendiri, menjangkau anak anak muda dan melestarikan kebudayaan lokal.

"Tiga tahun setelahnya, atau akhir tahun 2017, SIHODA kita dirikan di Pematangsiantar. Alhamdulillah di tahun ini, ada 40-an anak-anak mendaftar menjadi penari tradisi Simalungun," tuturnya.

Pindahnya SIHODA ke Pematangsiantar pun membuahkan hasil. Hanya beberapa bulan berselang, atau memasuki tahun 2018, SIHODA dipanggil mengisi acara Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Pematangsiantar ke 147. Tahun inilah SIHODA mendapatkan tempat di hati masyarakat.

"Kita kemudian dipanggil mengisi acara-acara pemerintahan, sekolah dan bahkan dipanggil mengisi kegiatan yang diselenggarakan Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS)," ceritanya.

Halaman
123
Penulis: Alija Magribi
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved