News Video

Terdakwa Kredit Fiktif Rp 23,5 Miliar Mulyono Menangis Minta Bebas dari Tuntutan Penjara 14 Tahun

Saya tidak mengerti dengan dakwaan dan tuntutan JPU dengan menuntut saya 14 tahun penjara dengan denda 500 juta.

Terdakwa Kredit Fiktif Rp 23,5 Miliar Mulyono Menangis Minta Bebas dari Tuntutan Penjara 14 Tahun
TRIBUN MEDAN/VICTORY HUTAURUK
Sidang Nota Pembelaan (pledoi) terdakwa kredit fiktif BRI Agroniaga Rantau Prapat senilai Rp 23,5 miliar, Mulyono berlangsung dengan isak tangis di Pengadilan Tipikor Medan, Senin (26/8/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Sidang Nota Pembelaan (pledoi) terdakwa kredit fiktif BRI Agroniaga Rantau Prapat senilai Rp 23,5 miliar, Mulyono berlangsung dengan isak tangis di Pengadilan Tipikor Medan, Senin (26/8/2019).

Dalam pembelaanya, ia menjelaskan tidak mengerti dengan tuntutan yang diberikan Jaksa Kejati Sumut yang menyebutkannya melakukan tindak pidana korupsi.

"Majelis Hakim yang Mulia, Jaksa Penuntut Umum yang terhormat saya tidak mengerti dengan dakwaan dan tuntutan JPU dengan menuntut saya 14 tahun penjara dengan denda 500 juta. Atas dasar apa saya dituntut tindak pidana korupsi, apa yang saya lakukan adalah hubungan antara debitur dengan BRI Agro selaku kreditur. Dimana tindak pidana korupsi saya?," Ungkapnya sambil meraung-raung di ruang persidangan cakra 9.

Ia bahkan mengklaim dirinya sudah melakukan peminjaman kredit dengan sesuai Standart Operasional Prosedur (SOP).

"Saya minjam uang kepada Bank dan sudah dilakukan sesuai SOP, semua dilakukan oleh pihak Akun Officer (AO) dan agunan yang saya berikan juga sudah jelas. Meski masih ada kekurangan saya, yang saya lakukan itu adalah kredit macet bukan tindak pidana korupsi," cetusnya sambil terus mengusap air matanya yang jatuh.

TONTON VIDEO INI:

Mulyono juga meminta supaya Majelis Hakim membuka hati nuraninya untuk membebaskannya dari segala tuntutan.

"Majelis Hakim yang mulia, saya mengetuk hati nurani Majelis Hakim, selama persidangan terhadap tuntutan jaksa, Mohon kiranya berkenan untuk membebaskan saya, dari segala tuntutan penuntut umum. Atau setidak-tidaknya mengurangi tuntutan karena tindak pidana korupsi, usaha saya jadi hancur," pungkasnya.

Seperti diketahui, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejati Sumut, menuntut terdakwa dengan 14 tahun penjara denda Rp 500 juta karena melanggar Pasal 2 Ayat (1) Undang - Undang RI. No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Bahka Jaksa juga membebankan terdakwa dengan Uang Pengganti (UP) sebesar Rp 23.534.400.202 dengan subsider 6 tahun kurungan.

Halaman
12
Penulis: Victory Arrival Hutauruk
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved