Cohub Rangkul Anak Muda Belajar Memahami Serba-Serbi Dunia Arsitek

Di Medan sendiri memiliki cukup banyak komunitas arsitek, namun sangat jarang anak-anak muda tersebut mendapat bimbingan

Cohub Rangkul Anak Muda Belajar Memahami Serba-Serbi Dunia Arsitek
TRIBUN MEDAN/GITA NADIA PUTRI TARIGAN
Keseruan vertical sharing volume 8 dengan mengangkat tema Limitation Of Being An Architect di Cohub Jalan T. Amir Hamzah Nomor 38A, Sei Agul, Kecamatan Medan Baru. 

TRIBUN-MEDAN.com - Menjadi arsitek tidaklah mudah, butuh ketelitian serta keterampilan serius sehingga mampu menciptakan karya yang diidamkan banyak orang.

Di Medan sendiri memiliki cukup banyak komunitas arsitek, namun sangat jarang anak-anak muda tersebut mendapat bimbingan ataupun Ilmu-ilmu baru seputar serba-serbi menjadi arsitek.

Bergerak dari hal tersebut, Cohub dalam vertical sharing volume 8 hadirkan Arsitek muda Medan berbakat, Reiza Nugraha yang juga merupakan pendiri Ruka, untuk memfasilitasi para arsitek serta anak muda yang ingin terjun kedunia arsitek untuk memahami tips, trik hingga suka duka di dunia arsitek dengan mengangkat tema Limitation Of Being An Architect di Cohub Jalan T. Amir Hamzah Nomor 38A, Sei Agul, Kecamatan Medan Baru

Reiza memulai persentasinya dengan menceritakan berbagai pengalaman serta suka dukanya saat menghadapi berbagai pelanggan yang memiliki selera masing-masing.

"Setiap Arsitek pada umumnya memiliki berbagai keterbatasan seperti pemahaman klien yentang arsitektur yang mungkin masih sempit, kita juga harus memikirkan bubget Klien, Material Bangunan, skill pekerja bangunan, serta harus uptodate tentang informasi seoutar arsitektur," katanya.

Meski demikian, Ia mengatakan bahwa keterbatasan secara kehidupan nyata bisa saja sebenarnya tidak ada, sebab sesungguhnya keterbatasan itu hanya sesuatu yang ada di dalam pikiran manusia.

"Namun ketika terjun ke dunia arsitektur pasti mau nggak mau akan berbenturan dengan yang tadi, tapi coba ambil sisi positif dan tetap kembangkan potensi diri, kalau aku pribadi untuk mengupgrade ilmu suka membaca beberapa kisah arsitektur besar, seperti Le Corbusier dan lainnya, ingat menjadi Arsitek itu bukan suatu yang instan," katanya.

Ia kemudian berbagi pengalamnua selama berkecimpung di dunia arsitek. Reiza mengaku setelah menamatkan pendidikan S-1 Tehnik Arsitektur di Institut Tehnologi Medan tahun 2013, Ia memutuskan bekerja sebagai Drafter di Jaringan Informasi di perusahaan Gas Negara.

"Tahun 2015 saya bergabung dengan khatulistiwa design studio, sebuah biro arsitektur dan desain interior di Bali, hingga melalui proses yang panjang sampai mendirikan RUKA yang merupakan studio arsitektur dan desain interior di Medan," katanya.

Dalam persentasinya, Ia juga menunjukkan beberapa karya bangunan di Medan serta berbagi tips dan trik metode memasukkan cahaya.

"Terkadang menjadi arsitek itu perlu sedikit melawan untuk mendapatkan yang lebih baik, tapi emmangbharys diakui bahwa ada hal-hal yang gak pengen kita buat tapi harus buat, untuk memenuhi kebutuhan klien," katanya.

Selain itu Ia juga berbagi tips dan trik bagaimana mensiasati keinginan klien yang punya banyak oermintaan namun low budget.

"Tips sederhananya, jangan penuhi semua keinginanya, ingat Arsitek itu harus bisa membedakan kemauan dan kebutuhan, dan disisi lain harus bisa mengakomodir semua kebutuhan," katanya.

(cr21/tribun-medan.com)

Penulis: Gita Nadia Putri br Tarigan
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved