Dimulai dari Ucapan Salam Khas Brazil, Kini menjadi Nama Komunitas Capoeira

Kata itulah yang digunakan oleh sekelompok pemuda penghobi seni tari Capoeira di Indonesia menamakan dirinya.

Dimulai dari Ucapan Salam Khas Brazil, Kini menjadi Nama Komunitas Capoeira
TRIBUN MEDAN/ALIJA MAGRIBI
Komunitas pehobi Capoeira, Sudacao Capoeira Medan (SCM) di Medan. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Dalam bahasa Brazil, Saudacao adalah sebuah ucapan salam saat bertemu seseorang.

Kata itulah yang digunakan oleh sekelompok pemuda penghobi seni tari Capoeira di Indonesia menamakan dirinya.

Di Kota Medan sendiri, kelompok pecinta seni tari ini sudah berdiri pada awal Januaei 2017 dengan nama Saudacao Capoeira Medan (SCM), yang merupakan cabang dari Saudacao Indonesia yang berpusat di Jakarta.

Haryanto Kosasih, salahsatu anggota Saudacao Medan mengatakan, kelompok yang ia pimpin ini menjelaskan bahwa Capoeira merupakan tari-tarian yang berasal dari Afrika. Pada zaman penjajahan bangsa portugal di beberapa negara Afrika, para warga yang umumnya berasal dari Angola dikirim untuk menjadi budak di Brazil pada tahun 1500-an.

"Namun dance ini banyak yang kenal sebagai khasnya Brazil, padahal aslinya dari Afrika," ujar remaja yang berusia menginjak 17 tahun ini.

Dikatakan Haryanto, Capoeira sendiri masih mendapat perhatian yang kurang bagi masyarakat Kota Medan. Penyebabnya adalah, masyarakat awam masih berpandangan bahwa Capoeira merupakan seni bela diri yang tidak efektif di dalam pertarungan. "Padahal kita mengedepankan tarian, bukan bela diri," cetusnya.

Ditemui Tribun Medan saat berlatih di Lapangan Merdeka Medan, Rabu (28/8/2019) sore, Haryanto menjelaskan untuk menggeluti seni tari ini ada baiknya dilakukan sejak dini, saat usia 5 tahun. Sebab di usia anak-anak lah tulang masih lunak dan memelajari berbagai gerakan.

Meski begitu, Haryanto tak menolak jika ada teman teman yang sudah dewasa niat bergabung dengan SCM. Imbuhnya, seni tari ini dapat dikuasai siapa saja, baik muda maupun dewasa, baik kurus maupun gendut.

Ia pun berujar tak pelit ilmu. Haryanto mencontohkan beberapa teknik dasar seperti Jingga, yakni cara berjalan. Kadera yaitu kuda-kuda, dan beberapa tendangan lainnya seperti Mealua dan Keisyada.

"Kalau tendangan banyak macamnya. Intinya dalam olahraga ini posisi tangan dominan di bawah sementara kaki yang di atas," tukas lelaki yang masih menjalani pendidikan SMA di Medan ini.

Halaman
12
Penulis: Alija Magribi
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved