Kelola Usaha Turun Temurun, Dwi Buat Produk Rajut Kian Bervariasi

Produk buatannya beragam, mulai tas, sepatu, bad cover, bantal kursi, dompet, baju, hingga rok.

Kelola Usaha Turun Temurun, Dwi Buat Produk Rajut Kian Bervariasi
TRIBUN MEDAN/SEPTRIANA AYU SIMANJORANG
Dwi Arnita Sari menunjukkan tas rajut buatannya di Manhattan Times Square, Minggu (1/9/2019). Selama memegang usaha ini, Dwi memiliki perbedaan dengan apa yang orang tuanya buat, salah satunya dalam hal motif. 

TRIBUN-MEDAN.com,MEDAN- Produk handmade merupakan produk unik yang memiliki peminat tersendiri. Salah satu produk handmade yang banyak disukai orang adalah produk yang dihasilkan dengan cara merajut.

Dwi Arnita Sari sudah menekuni usaha ini sejak lama. Produk buatannya beragam, mulai tas, sepatu, bad cover, bantal kursi, dompet, baju, hingga rok. Semuanya dirajut menggunakan tangan alias tanpa mesin.

"Saya sudah lama mengerjakan hal ini. Ini merupakan usaha turun temurun milik orang tua yang sudah 35 tahun kami tekuni," ujarnya saat ditemui di Manhattan Times Square, Minggu (1/9/2019).

Salah satu produk spesial yang ia buat adalah rajut payung. Produk ini akan dibawa dalam festival payung di Candi Prambanan, Jogjakarta. Ini merupakan ketiga kalinya Dwi mengikuti festival payung ini.

"Payung ini saya rajut sangat rapat, bisa menghalau sinar matahari. Kalau ingin yang payung rajut tahan hujan, nanti kita lapisi dengan plastik," jelasnya.

Dwi kini dibantu empat karyawan. Ia mengatakan produk yang paling dicari saat ini adalah sepatu dan sendal. Produk-produk ini diakuinya memiliki peminat sendiri, tak semua orang menyukai.

"Tas itu kan harganya mahal, benangnya sebenarnya murah. Yang mahal itu waktu yang dipakai saat mengerjakannya dan tenaganya. Satu tas saja bisa tiga hari selesai kalau anggota kalau saya dua hari jadi," jelasnya

Ia mengatakan selama memegang usaha ini, Dwi memiliki perbedaan dengan apa yang orang tuanya buat, salah satunya dalam hal motif. Dengan mudahnya memperoleh informasi setelah adanya internet ia banyak mempelajari motif-motif dari luar.

"Kalau produk-produknya dalam satu hari paling jadi satu produk saja. Tapi setiap hari saya produksi. Karena kami sering ikut pameran dan saya juga punya butik di daerah Setiabudi," jelasnya.

Produknya banyak dibeli dari luar daerah di Indonesia. Ditengah banyaknya saingan pembuat produk rajut di Kota Medan, Dwi tetap optimis dengan produknya. Produk Dwi dijual dengan harga beragam ada yang puluhan ribu hingga ratusan ribu

"Untuk polanya saya banyak lihat di internet, satu pola bisa saya kembangkan jadi beberapa motif. Kalau mau usaha rajut ini jangan pernah berhenti berusaha. Kalau mau belajar sama ahlinya boleh juga," pungkasnya.

(cr18/tribun-medan.com)

Penulis: Septrina Ayu Simanjorang
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved