Peduli Lingkungan, AWI Movement Gelar Edutalk Bamboo Green Lifestyle

AWI Movement ini didirikan tiga kawula muda yakni Amanda Dian Sucia, Walid Dalimunthe dan Ratindi Azhrima.

TRIBUN MEDAN/NATALIN SINAGA
Gerakan anak muda untuk mengurangi konsumsi sedotan plastik, AWI Movement menggelar edutalk tentang Bamboo Green Lifestyle di Kafe Ulos, Hotel Santika Dyandra Medan, Sabtu (31/8/2019). AWI Movement ini didirikan tiga kawula muda yakni Amanda Dian Sucia, Walid Dalimunthe dan Ratindi Azhrima. 

TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN-
Gerakan anak muda untuk mengurangi konsumsi sedotan plastik, AWI Movement menggelar edutalk tentang Bamboo Green Lifestyle di Kafe Ulos, Hotel Santika Dyandra Medan, Sabtu (31/8/2019).

AWI Movement ini didirikan tiga kawula muda yakni Amanda Dian Sucia, Walid Dalimunthe dan Ratindi Azhrima. Diakui mereka, AWI ini merupakan singkatan dari nama mereka masing-masing.

"AWI ini singkatan dari nama kita bertiga Amanda, Walid dan
Ratindi jadi kebetulan kita tergabung di dalam satu program namanya program pertukaran pemuda antar negara, program Kementerian Pemuda dan Olahraga jadi kita akan menjadi duta muda Indonesia untuk ke beberapa negara untuk menjalin hubungan baik sesama pemuda," ujar Ratindi.

Diakuinya, Amanda akan menjadi duta muda Indonesia ke Negara Jepang, Walid akan menjadi duta muda Indonesia ke Negara Singapura, dan Ratindi akan menjadi duta muda Indonesia ke Negara Australia.

"Jadi kegiatan edutalk ini merupakan program kerja kita sebelum keberangkatan. Kebetulan kita dapat project, dapat tugas untuk community manajemen atau pengabdian masyarakat lalu kita berpikir apa yang bisa kita buat. Berhubung kita lihat permasalahan sekarang lagi masif itu lingkungan terutama sampah plastik jadi kita memilih untuk memulai langkah kecil untuk menyelamatkan bumi dengan mengganti penggunaan sedotan plastik menjadi sedotan bambu," Ratindi.

Edutalk kali ini merupakan program pertama AWI Movement untuk meningkatkan kesadaran masyarakat
Medan khususnya pemuda agar lebih peduli kepada lingkungan dengan cara mengganti sedotan plastik ke sedotan bambu.

Walid mengatakan pilihan edukasi sedotan bambu sebab pihaknya terlebih dahulu mengamati beberapa tempat di Kota Medan yang memiliki sampah plastik khususnya pipet plastik.

"Gimana caranya kita bisa menganti behavior atau tingkat laku masyarakat ini tidak lagi menggunakan pipet plastik tapi pipet yang bisa digunakan berkali-kali nah jatuhlah pilihannya pada pipet bambu.
Tujuannya dengan acara ini, selain kita lauching gerakan AWI Movement ini yang dikasih #gantipipetklen kita juga mau meningkatkan kesadaran warga Medan khususnya pemuda agar lebih peduli kepada lingkungan dengan cara mengganti pipet plastik ke pipet bambu," ungkapnya.

Peserta yang hadir dalam event ini datang dari berbagai kalangan baik mahasiswa maupun masyarakat umum. Tak hanya memperkenalkan AWI Movement, event ini juga menghadirkan narasumber atau pembicara seorang Arsitektur Bambu dari Austria, Gilbert Murrer, Pegiat Sedotan Bambu, Arif Hasibuan, dan Miss Internet Sumatera Utara (Sumut) serta Musisi (Sumut), Rani Jambak.

Pembukaan acara diawali dengan perkenalan AWI Movement, dilanjutkan dengan penjelasan tentang bambu oleh
Gilbert dan pengunaan pipet bambu sebagai green lifestyle anak muda yang dijelaskan oleh Arif. Kemudian Miss Internet Sumut menjelaskan tentang penggunaan sosial media sebagai bahan kampanye.

Hal menarik lainnya, usai narasumber menyampaikan materinya masing-masing. Para panitia, pembicara dan peserta turun ke jalan raya membagi-bagikan sedotan bambu kepada pengendara atau masyarakat yang berhenti saat lampu merah menyala.

"Setelah disampaikan materi di ruangan kita turun ke jalan membagikan pipet bambu gratis kepada public agar pesan pesan semakin menyebar kepada masyarakat," ucap
Walid.

Ia menjelaskan kedepannya, AWI Movement akan menggadakan edutalk ke berbagai organisasi di Kota Medan dari sekolah, universitas, kampung wisata dan sebagainya.

"Dalam waktu dekat kita akan ke Kampung Wisata ke Lubukpakam untuk edutalk tentang ganti pipet klen ini. Pesertanya pengelola desa wisata jadi mereka akan buat satu program penggunaan pipet bambu di desa wisata bekerjasama dengan kami," ucap Walid.

Selain itu kata Ratindi, pihaknya juga membuat socialpreneur (wirausaha sosial), usaha yang melibatkan orang-orang sekitar terutama petani bambu.

"Jadi gerakan kami ini, ganti pipet klen ini, kami namakan sosialpreneur jadi komunitas yang bisa membantu masyarakat. Kami berbisnis tapi 50 persen dari profit kami, kami berikan kepada petani yang memproduksi bambu ini.
Jadi selain kami ingin mensejahterakan petani dengan cara membeli pipet bambu di Medan, kami juga ingin berkontribusi untuk lingkungan agar dapat mengurangi sampah plastik di Kota Medan," jelasnya.

Ia berharap semua restoran dan warga Medan menggunakan sedotan bambu. "Jangan lupa ganti pipet klen, di Medan kalau masih susah dapatkan pipet bambu boleh langsung instagram kita @awi movement. Kita bisa berkonsentrasi untuk lingkungan dan juga mensejahterakan petani dengan cara yang sangat simple dengan cara menganti pipet plastik kita menjadi pipet bambu," kata Ratindi.

(nat/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved