Baru Diputar di Medan, Restorasi Film Bintang Ketjil Habiskan Dana hingga Rp 1,7 Miliar

Kali ini Pusbangfilm menjatuhkan pilihan pada film yang sangat populer dizamannya yakni Bintang Ketjil arahan sutradara Wim Umboh

Baru Diputar di Medan, Restorasi Film Bintang Ketjil Habiskan Dana hingga Rp 1,7 Miliar
TRIBUN MEDAN/GITA NADIA PUTRI br TARIGAN
Diskusi Film Restorasi Bintang Ketjil, pusat pengembangan perfilman kementrian pendidikan dan kebudayaan (Pusbangfilm) bersama Yayasan Manuprojectpro Indonesia, adakan pemutaran film restorasi Bintang Ketjil di CGV Cinemas Focal Point Jalan Ring Road, Asam Kumbang, Kecamatan Medan Selayang, Selasa (3/9/2019) 

TRIBUN-MEDAN.com - Dalam menjalankan Amanat Undang-Undang untuk menyelamatkan film sebagai aset negara, serta budaya yang ada di dalamnya, pusat pengembangan perfilman kementrian pendidikan dan kebudayaan (Pusbangfilm) bersama Yayasan Manuprojectpro Indonesia, adakan pemutaran film restorasi Bintang Ketjil di CGV Cinemas Focal Point Jalan Ring Road, Asam Kumbang, Kecamatan Medan Selayang, Selasa (3/9/2019)

Seperti yang diketahui bahwa Restorasi merupakan pemulihan ataupun mengembalikan sesuatu seperti semula.

Kali ini Pusbangfilm menjatuhkan pilihan pada film yang sangat populer dizamannya yakni Bintang Ketjil arahan sutradara Wim Umboh dan Misbach Jusa Biran yang dirilis pada tahun 1963.

Saat konferensi pers berlangsung, Kepala Pusbangfilm Kemendikbud, Dr. maman Wijaya mengungkapkan bahwa dana restorasi film ini menghabiskan Rp. 1.7 Miliar.

Ia mengungkapkan bahwa tingkat kemahalan tersebut dikarenakan tingkat kerusakan yang cukup parah.

"Alasan kita memilih film Bintang Ketjil urutannya karena nilai budaya Indonesia yang tinggi di dalamnya, selain itu juga tingkat kerusakan sudah tergolong parah sehingga harus selamatkan sebagai bagian dari sejarah, arsip, dan kebudayaan dan juga kita pilih karena ini film untuk semua umur, dan ceritanya masih relefan seperti sekarang," katanya.

Co Founder Render Digital Indonesia, M Taufiq Marhaban mengatakan langkah pertama yang dilakukan adalah dengan pemulihan kondisi fisik seluloid atau gulungan negatif film, kemudian melakukan scanning copy positif film dan tahap digital memperbaiki visual dan audio film. Restorasi ini saja katanya menghabiskan dana sebesar 1,4 milyar dengan waktu 50 hari dan dilakukan seluruhnya di Indonesia.

Ia menambahkan bahwa kondisigulungan film yang telah verusia puluhan tahun membutuhkan prosea yang detail sehingga membuat biaya yang dikeluarkan cukup mahal.

"Film ini menjalani dua fase proses restorasi dan kami berhasil mengumpulkam bagian yang hilang dan menjahit kembali seluruh film hingga akhirnya ditampilkan kepada seluruh pameran dan sineas aslinya. Mereka setuju filmnya sudah mendekati aslinya," katanya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Pusbangfilm Kemendikbud, Maman Wijaya mengatakan saat ini pusbang film memiliki 700 film layar lebar dan telah merestorasi 3 film layar lebar Indonesia, diantaranya Darah dan Doa pada tahun 2013, Pagar Kawat Berduri yang sebelumnya juga pernah diputar di kota Medan dan ketiga Bintang Ketjil.

"Pusbangfilm akan terus secara konsisten melakukan penyelamatan dan restorasi arsip film nasional sebagai aset seni budaya bangsa, tanggungjawab kepada bangsa, dan pemenuhan hak akses masyarakat atas arsip film nasional," katanya.

Ia melanjutkan bahwa selain Medan, film ini telah diputar di Surakarta dan Jogja, dan kota berikutnya adalah Bandung. Berkat upaya Pusbang Film Kemendikbut RI yang telah memfasilitasi proses restorasi ke dalam bentuk DCP dengan prigram pelestarian budaya daei Kemendikbud film restorasi ini telah lolos sensor pada tanggal 8 Agustus 2019 dengan durasi film 118 menit.

(cr21/tribun-medan.com)

Penulis: Gita Nadia Putri br Tarigan
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved