News Video

Dua Tahun Terbaring di Tempat Tidur Kamarnya, Hendrik Manurung Terkendala Dana Berobat

Kini keseharian Hendrik terperangkap di kamar tidur rumahnya karena sakit yang yang dideritanya sejak tahun 2017 lalu

Dua Tahun Terbaring di Tempat Tidur Kamarnya, Hendrik Manurung Terkendala Dana Berobat
TRIBUN MEDAN/ARJUNA BAKKARA
Hendrik Manurung (20), Warga Desa Lumban Manurung, Kelurahan Tuktuk Siadong, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir hanya bisa terperangkap di kamar tidur rumahnya karena sakit yang yang dideritanya sejak tahun 2017 lalu, seperti ketika ditemui Tribun Medan ke rumahnya, Selasa (3/9/2019). 

TRIBUN-MEDAN.COM, SAMOSIR - Hendrik Manurung (20), Warga Desa Lumban Manurung, Kelurahan Tuktuk Siadong, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir tidak dapat menikmati hari-hari seperti pemuda lainnya.

Kini keseharian Hendrik terperangkap di kamar tidur rumahnya karena sakit yang yang dideritanya sejak tahun 2017 lalu, seperti ketika ditemui Tribun Medan ke rumahnya, Selasa (3/9/2019).

Rosenli Manullang Ibunya mengatakan, Hendrik jatuh sakit sejak Oktober 2017 lalu. Awalnya Hendrik mengalami demam dan diambil tindakan ofname. Saat itu, Hendrik disebut menggalami kejang usus, hingga keadaanya memprihatinkan seperti sekarang kian hari memburuk.

“Dia sudah dua tahun sakit, dan tidak bisa berbuat apa-apa,”ujar ibunya yang sehari-hari hanya mengadalkan hasil jualaan sayur untuk mencukupi kebutuhan rumah tangganya itu.

Kian hari tubuh Hendrik digerogoti penyakit yang dideritanya. Tulang-tulang hendrik kelihatan menonjol nyaris keluar dari daging yang tinggal dibungkus kulitnya.

Air mukanya yang kuyu menggambarkan bagaimana dia menanggung beban pendertitaan dua tahun belakangan. Hendrik tak berdaya, hanya doa yang bisa dipanjatkannya dari kasur tidurnya. Hendrik berharap uluran tangan para darmawan untuk proses pengobatannya.

Kata ibunya, untuk biaya pengobatan Hendrik mereka tidak cukup uang. Ayah Hendrik hanya supir bus sekolah yang pendapatannya tidak seberapa. Berbagai upaya telah dilakukan agar anaknya sembuh dari penderitaan.

“Kami terkendala biaya, andaikan cukup uang mungkin anakku tak lagi menderita seperti ini,”tambahnya.

 Akibat penyakit yang menggerogoti tubuhnya, Hendrik yang sudah sempat kuliah di Unika Santo Thomas Medan selama seminggu ini terpaksa berhenti sampai saat ini. Cita-cita dan karir yang dia impikan menjadi tergantung akibat penyakit yang menyanderanya.

Kepada Tribun, Hendrik berharap para darmawan mengulurkan tangan melalui bantuan perobatan untuk kesembuhannya. “Saya berharap ada darmawan yang bisa menolong peringanan perobatran saya. Saya hanya bisa terbaring selama dua tahun ini, sedangkan ekonomi orang tua pas-pasan sehingga kami tidak bisa berbuat apa lagi,”tutur Hendrik dengan wajahnya yang semakin kuyu ini.

(jun/tribun-medan.com)

Penulis: Arjuna Bakkara
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved