Breaking News:

Tak Perlu Khawatir Berwisata ke Danau Toba, Fasilitas untuk Turis Muslim Sudah Lama Ada

Cut, mengatakan tempat dia berjualan juga gampang dijangkau sehingga bagi turis khususnya yang beragama Muslim tidak susah.

Penulis: Arjuna Bakkara | Editor: Royandi Hutasoit
Tribun-Medan.com/ Arjuna Bakkara
Satu dari pengurus masjid sedang membersihkan halaman masjid satu jam menjelang Pelaksanaan salat Idul Fitri 1438 H (shalad id) di Masjid Raya Taqwa Parapat, Jalan Sisingamangaraja Parapat, Minggu (25/6/2017). (Tribun-Medan.com/ Arjuna Bakkara) 

Menurutnya, tanpa disebut wisata halal seperti belakangan ini sejak dulu Danau Toba pun sudah menyajikan kebutuhan untuk wisatawan Muslim. Baik dari fasilitas ibadah dan hingga menu restaurant.

"Terbukti kan, di Kawasan Danau Toba khususnya yang titik wilayahnya fokus pariwisata semua ada. Rumah makan juga Muslim berbagai etnis juga lengkap. Ada Rumah Makan Aceh, Minang, Jawa dan Padang. Semuanya rumah makan ini menyediakan menu yang bisa dikonaumsi secara nasional," tuturnya.

Pantauan Tribun, di beberapa titik di Kawasan Danau Toba fasilitas untuk Wisatawan Muslim juga tersedia. Di Samosir juga terdapat Rumah Makan Muslim. Seperti di Tomok, Tuktuk, Pangururan dan Simanindo.

Selain rumah makan, Masjid dan mushola juga ada di pulau Samosir yang dijuluki Negeri Indah Kepingan Surga itu.

Bukan saja untuk wisatawan atau pendatang di Samosir, fasilitas ibadah tersebut juga memang sudah kebutuhan penduduk asli yang beragama Islam di sana.

Panorama Danau Toba dari Bukit Singgolom senja hari dengan bentangan Danau Toba serta Pulau Samosir di tengahnya.
Panorama Danau Toba dari Bukit Singgolom senja hari dengan bentangan Danau Toba serta Pulau Samosir di tengahnya. (Tribun Medan/Arjuna Bakkara)

Seperti kunjungan Tribun Senin (13/5/2019) Petang lalu, berdampingan dengan rumah ibadah lainnya, berdiri satu Masjid Nurul Islam di Jalan Siti Aminah Samosir, Desa Tambun Sukkean, Kecamatan Onan Runggu, Kabupaten Samosir.

Berada jauh di pelosok Tanah Batak, di Tepi Danau Toba dan di garis minoroitas, namun adzan tak pernah berhenti berkumandang saat waktu salat.

Masjid ini dulu dibangun sendiri oleh tetua setempat yakni Tumbur Samosir. Lalu dikerjakan bersama dengan keluarga dan warga lainya.

Oppu Benry boru Samosir (87), mengatakan ajaran Islam dibawa ke Samosir pertama sekali oleh ayahnya, Tumbur Samosir.

Tumbur Samosir belajar di Aceh selama dua tahun, kemudian pulang ke Bona Pasogit, Samosir membawa Islam sekitar tahun 1947.

Meski eksistensi Umat Muslim berada pada garis Minoritas di daerah itu, toleransi tetap terjaga hingga tiga generasi saat ini.

Mereka bebas menjalankan ibadah masing-masing, dan rumah ibadah pun terbilang berdiri berdampingan dengan Gereja Umat Kristiani juga rumah ibadah Parmalim.

"Tidak ada yang berkelahi, dan yang penting saling menghargai. Kami disatukan adat istiadat,"sebutnya ketika itu.

Indahnya lagi, kata Oppu Benrry bila ada perhelatan pesta adat, penyelenggara pesta selalu menyediakan tukang potong hingga masakan khusus untuk yang berasal dari Agama Islam. Istilah mereka biasa disebut dengan "Parsolam", yang berarti tidak bisa makan daging B2.

Halaman
123
Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved