Aksi Nyata PLTA Batang Toru untuk Mitigasi Perubahan Iklim

Menurut Adji, PLTA Batang Toru berkomitmen untuk senantiasa memberikan manfaat nyata bagi lingkungan hidup dan masyarakat sekitar kawasan Batang Toru.

Aksi Nyata PLTA Batang Toru untuk Mitigasi Perubahan Iklim
Tribun Medan / Alija
Talkshow Aksi Nyata Indonesia untuk Mitigasi Perubahan Iklim yang dibahas Sonny Keraf, Anggota Dewan Energi Nasional, dan Agus Djoko Ismanto, Senior Adviser on Environment and Sustainability PLTA Batang Toru, serta Djati Witjaksono Hadi, Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia yang berlangsung di Santika Premiere Dyandra Hotel and Convention, Kamis (5/9/2019) 

Kehadiran PLTA Batang Toru turut berperan penting untuk mewujudkan pembangunan Indonesia rendah emisi karena pemakaian energi air, bukan fosil, dapat mengurangi emisi karbon dioksida minimal sebesar 1,6 juta ton per tahun. Jumlah ini setara dengan kurang lebih kontribusi penyerapan karbon oleh 120.000 Ha wilayah hutan.

Dengan memakai energi air, PLTA Batang Toru juga akan berkontribusi terhadap penghematan devisa sebesar USD 400 juta/tahun karena tidak perlu lagi mengimpor bahan bakar diesel (fuel cost avoidance).

Menurut Agus Djoko Ismanto, pria yang akrab dipanggil Adji, ini menjelaskan pentingnya pemakaian energi air untuk pembangkit listrik maka otomatis PLTA Batang Toru secara fundamental akan mempertahankan dan selalu berkomitmen untuk menjalankan program kelestarian kawasan yang menghasilkan air sebagai bahan baku operasinya. 

Adji mengatakan pembangunan PLTA Batang Toru sudah melalui kajian-kajian mendalam sesuai persyaratan nasional dan internasional. 

“PLTA Batang Toru sudah memenuhi standar International Commission on Large Dams (ICOLD) serta AMDAL. Kami juga telah melaksanakan kajian Environmental, Social, and Health Impact Assessment (ESHIA), yang menjadikan kami, PLTA pertama di Indonesia yang melaksanakan Equatorial Principle,” tambah Adji.

Hal tersebut didukung dengan pernyataan Sonny Keraf, yang mengatakan, Indonesia butuh menghadirkan energi terbarukan berupa Pembangkit listrik tenaga Air (PLTA) Batang Toru sebagai salah satu upaya pengurangan emisi karbon untuk mewujudkan Indonesia rendah emisi. 

Penyerapan karbon ini menjadi hal krusial dalam hal pencegahan dampak perubahan iklim yang setiap hari semakin mengancam kehidupan seluruh makhluk hidup di Bumi. 

“Dampak perubahan iklim yang paling nyata adalah kenaikan suhu global yang menyebabkan kekeringan berkepanjangan. Hari ini tercatat 28 provinsi mengalami kekeringan dan kesulitan air hingga yang paling ekstrem adalah kebakaran lahan," ujarnya

Karenanya, Sonny mengingatkan Setiap orang harus menjadi agen perubahan dari kebiasaan dan gaya hidup ramah lingkungan dengan cara yang mudah, sederhana, cepat dan menimbulkan hasil nyata.

"Contohnya dengan menggiatkan penghematan energi, menanam dan merawat pohon, praktek 3R (reduce, reuse, recycle) untuk limbah domestik, serta penerapan eco-office, dan eco-driving dalam kehidupan sehari-hari.” kata Sonny.

Halaman
123
Penulis: Alija Magribi
Editor: Royandi Hutasoit
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved