TRIBUNWIKI

Mengulik Kisah Keramat Kuda di Kabupaten Serdangbedagai

Tanpa mereka sadari kuman penyebab penyakit flu ramli berpindah kepada siputih, akibatnya badan puith panas dingin, hidungnya mengeluarkan lendir.

Mengulik Kisah Keramat Kuda di Kabupaten Serdangbedagai
Tribun Medan/Aqmarul Akhyar
Patung Keramat Kuda di Sidodadi Dusun III Desa, Liberia, Kecamatan Teluk Mengkudu, Kabupaten Serdangbedagai, Senin (9/9/2019) 

TRIBUN-MEDAN.com - Di masing-masing daerah Provinsi Sumatera Utara memang banyak memiliki hikayat rakyat. Di Kabupaten Serdangbedagai ada hikayat Keramat Kuda, hari Senin (9/9/2019).

Kisah Keramat Kuda ini sudah tak asing lagi bagi sebagian masyarakat Dulu dan Serdangbedagai. Namun, masih saja ada sebagian tidak mengetahui kisah tersebut. Kisahnya berawal dari kampung mengkudu, tinggal seorang anak bernama Ramli, Ramli sejak kecil sudah mejadi yatim piatu, ia terpaksa bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sebagai pengurus kuda juragan kaya Datok Pao namanya.

Walaupun, Datok Pao sangat kaya namun dia memiliki sifat kikir, sombong, kejam dan angkuh. Hampir setiap hari ada saja pembantunya berhenti, disebabkan tidak tahan menerima caci maki serta pukulan

Datok Pao yang ringan mulut dan ringan tangan, sementara upah yang diberikan sangat kecil.

Datok Pao memiliki ribuan ekor kuda terawat sehat dan kuat. Kuda itu ditempatkannya pada istal besar (kandang besar) dibelakang istananya. Di antara ribuan ekor kuda itu, ada seekor kuda berwarna putih yang menjadi kuda kesayangan Datok Pao. Tidak seorang pun boleh memberi makan, memandikan
atau menyentuh kuda putih itu kecuali Ramli.

Ramli sangat sayang pada Siputih (panggilan kuda putih), setiap pagi ia menggosok-gosok dan mengelus-elus Siputih dan mengajaknya berbicara seperti manusia. Sepertinya Siputih mengerti semua perkataan Ramli, kuda itu tersenyum dan menggoyang- goyangkan kepalanya penuh menja mendengar ucapan Ramli. Sebagai tanda sayang dan cintanya kepada Ramli putih selalu menjilat-jilat wajah Ramli.

Salah satu perbuatan Datok Pao yang sangat dibenci masyarakat adalah jika Datok Pao sedang mengendarai Siputih, dia akan menabrak siapa saja yang berpapasan dengannya, tak peduli orang itu anak-anak atau pun yang sudah lanjut usia. Bila orang yang ditabraknya itu melawan, tak urung ia akan mengentikan Siputih dan langsung mengajak orang itu berkelahi, itu sebabnya maka penduduk
kampung mengkudu sangat membencinya, dan bila mereka berpapasan dengannya, maka akan segera menghindar atau menjauh.

Datok Pao belum pernah terkalahkan dalam perkelahiannya, konon kekuatan terletak pada kaca mata hitam yang selalu dikenakannya, bila ia menggunakan kaca mata itu, dia akan menjadi sakti mendera guna, tidak dapat ditembus oleh senjata apapun.

Suatu hari Ramli diserang sakit demam dan flu, walaupun dalam keadaan sakit ia tidak pernah melupakan tugasnya mengurus Siputih. Sambil batuk dan bersin, dikeluarkannya Siputih dari istal, kemudian digosok- gosoknya kepala Siputih seperti biasanya.

Patung Keramat Kuda di Sidodadi Dusun III Desa, Liberia, Kecamatan Teluk Mengkudu, Kabupaten Serdangbedagai.
Patung Keramat Kuda di Sidodadi Dusun III Desa, Liberia, Kecamatan Teluk Mengkudu, Kabupaten Serdangbedagai. (Tribun Medan/Aqmarul Akhyar)

Putih tau bahwa Ramli sedang sakit, dengan kasih naluri binatangnya, dijilatnya kening dan seluruh tubuh Ramli, Ramli merasakan kehangatan mengalir dari lidah Siputih yang menawarkan rasa sakit serta mengalirkan rasa cinta kasih sayang dari seorang sahabat yang selama ini tak pernah diperolehnya dari
siapapun.

Halaman
1234
Penulis: Aqmarul Akhyar
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved