Terdapat Makna Dalam Setiap Goresan, Pameran Batik Goresan Malam di Unimed

Demikianlah ketua panitia pameran batik, Maulana Yusuf Arrasyid memaknai pameran Batik Bertajuk goresan malam

Terdapat Makna Dalam Setiap Goresan, Pameran Batik Goresan Malam di Unimed
TRIBUN MEDAN/GITA NADIA PUTRI TARIGAN
Suasana pameran Batik Bertajuk Goresan Malam yang diselenggarakan oleh Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Medan (Unimed) di Galeri Seni Rupa Unimed, Jalan Peraturan Nomor 1, Kenangan Baru, Kecamatan Percut Sei Tuan, Selasa (10/9/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com - Setiap goresan memiliki makna dan sejarah yang berbeda-beda. Warna dan setiap sudut coraknya juga menyimpan sejuta pesan yang harus diabadikan.

Demikianlah ketua panitia pameran batik, Maulana Yusuf Arrasyid memaknai pameran Batik Bertajuk goresan malam yang diselenggarakan oleh Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Medan (Unimed) di Galeri Seni Rupa Unimed, Jalan Peraturan Nomor 1, Kenangan Baru, Kecamatan Percut Sei Tuan, Selasa (10/9/2019).

Ia mengatakan bahwa lebih dari 30 karya batik yang dipamerkan merupakan hasil karya para mahasiswa selama satu semester, guna memberi wajah dan edukasi kepada mahasiswa baru FBS.

"Pameran ini diselenggarakan untuk menyambut mahasiswa baru, ini akan berlangsung sampai 11 September, yang memotori kegiatan ini Wakil Dekan I FBS sekaligus dosen pengampu matakuliah Kriya Batik, bapak Wahyu Triatmojo," katanya.

Ia mengatakan semua batik yang ada disini diangkat dari beberapa etnis di Sumatera Utara, seperti Karo, Mandailing, Simalungun, Nias dan Melayu dan fasiasi lainnya.

"Untuk referensinya kita cari di Internet dan buku. Kalau bahannya ada lilin malam, kain mori, dan warna yang khusus untuk batik, proses sampai saat ini ya satu semester, karena setiap mata kuliah itu kita kerjakan," katanya.

Untuk pemilihan warna, katanya didesuaika dengan warna khas daei masing masing etnis seperti suku karo yang identik dengan warna hitam dan merah dan lainnya.

"Kalo warna kebanyakan kita ambik warna hitam dan merah kalau putih memang bawaan dari kainnya, namun kita semua tau bahwa setiap gambar batik pasti memiliki makna dan historinya masing-masing, seperti motif melayu memiliki yang artinya apapun kita lakukan bersama-sama, atau menggatrikan semangat gotong royong," katanya

Ia melanjutkan beberapa motif lainnya seperti motif Batak Toba karya Meilin Anggraini yang bercerita lika liku kehidupan, dan motif Simalungun yang sudah dimodifikasi menjadi Gorga bunga Tabu dan Gorga Hail Utor yang memiliki arti Marsiolop Ari atau dalam Bahasa Indonesia berarti Gotong Royong.

"Intinya kita ingin mengangkat budaya Sumatera Utara. Saya harap kedepannya pamerannya semakin banyak, semakin bagus dan persiapannya juga semakin matang," katanya.

(cr21/tribun-medan.com)

Penulis: Gita Nadia Putri br Tarigan
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved