Berawal dari Reuni, Kini Uci Hasilkan Rp 60 Juta per Bulan

Pemilik Dapur Reuni, Uci mengatakan nama tersebut dipilih karena terinspirasi dari acara reuni.

TRIBUN MEDAN/HO
Uci berfoto bersama karyawan di Dapur Reuni dalam sebuah acara. Pemilik Dapur Reuni, Uci mengatakan nama tersebut dipilih karena dimulai dari acara reuni. 

TRIBUN-MEDAN.com,MEDAN-Dapur Reuni adalah sebuah usaha katering yang menawarkan berbagai makanan dari daerah di Indonesia.

Pemilik Dapur Reuni, Uci mengatakan nama tersebut dipilih karena terinspirasi dari acara reuni.

"Awalnya saya buka katering kecil-kecilan. Ada makanan ringan dan katering. Waktu itu masih baru enggak ada namanya, kebetulan ada acara reuni sama teman saya. Kami buat saja namanya Dapur Reuni," kata Uci.

Usaha ini berjalan sudah 10 tahun terakhir. Uci menjual berbagai makanan ada snack box, nasi kotak, dan layanan katering yang menyediakan berbagai makanan dari daerah Indonesia.

"Kalau yang pesan katering beragam ya, ada dari kantor, acara-acara, pernikahan, kadang acara dari kantor-kantor pemerintahan juga ada," imbuhnya.

Uci mengatakan menu disesuaikan dengan pilihan dari si pemilik acara. "Misalnya waktu acara Grab Pak Luhut datang kami buat masakan khas Batak seperti ikan arsik, sambal andaliman, dan sebagainya," ujarnya.

Kata Uci katering miliknya sudah memiliki label halal dan ijin Produksi Industri Rumah Tangga (PIRT). Ia mengatakan dalam membangun bisnis ini ia mengucurkan dana sekitar Rp 30 juta.

"Karena kami sudah ada peralatan juga jadi modalnya tidak terlalu besar ya. Paling Rp 30 juta saja. Kalau omzet tidak sama setiap bulan karena tergantung pesanan," katanya.

Namun ia mengatakan jika dirata-ratakan kurang lebih ia menghasilkan Rp 40 hingga Rp 60 juta dalam sebulan.

"Kalau kompetitor pasti banyak. Cuma rezeki kan sudah diatur. Kalau bicara keunggulannya saya rasa sama saja sih dengan yang lain. Hanya saja jika ada permintaan dari daerah mana saja, kita bisa," ungkapnya.

Hingga saat ini ia memiliki sekitar 10 karyawan tetap. Sisanya karyawan lepas yang akan bekerja saat banyak pesanan katering.

"Kami juga biasanya mempersiapkan semuanya termasuk piring hingga dekorasi buffetnya. Tapi itu juga tergantung, misalnya acara pesta biasanya mereka sudah punya dekorasi masing-masing, ya tidak masalah juga," katanya.

Ia mengatakan harga bahan makanan yang terus berfluktuasi tidak menjadi tantangan yang besar baginya. Meski memang berpengaruh, ia tak menaikkan harga kala bahan makanan melambung tinggi.

"Harga kami akan sama mau bahan makanan mahal atau murah. Kalau saya prinsipnya kalau bahan makanan mahal saya untungnya sedikit tapi ketika bahan makanan murah, saya bisa lebih banyak untung," katanya.

Ia mengatakan dalam membangun usaha kuliner harus bisa menerima kritik dan memperbaiki kekurangan. Apalagi setiap manusia mempunyai lidah masing-masing.

"Jadi kalau dikomplain kurang ini itu, kita harus bisa terima. Enggak bisa kita membela diri dan memaksakan apa yang kita rasakan. Jadi harus banyak belajar agar tak kehilangan akal," pungkasnya.

(cr18/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved